Arsip

Archive for the ‘Kuliah’ Category

Perencanaan Strategis Sistem Informasi

Berapa proyek TI yang berhasil diimplementasikan secara nasional? Berhasil dalam arti tepat waktu dan tepat budget. Belum ada penelitian tentang hal ini, tapi secara kasar sedikit sekali. Ketika sebuah proyek TI gagal maka yang terjadi adalah kerugian besar.

Banyak faktor kegagalan, salah satunya yang paling dominan adalah tidak adanya perencanaan yang baik. Perencanaan yang buruk niscaya menghasilkan implementasi yang buruk pula. Perencanaan yang baik belum tentu menghasilkan implementasi yang baik, tergantung bagaimana strategi yang sudah ada dalam perencanaan dilaksanakan.

Selain dari untuk menghindari kegagalan implementasi proyek TI juga lebih luas adalah untuk dapat mencapai tujuan organisasi secara lebih efisien dengan menggunakan TI yang baru tersebut.

Apa yang terjadi kebanyakan adalah proyek yang sudah selesai tidak dapat memberikan manfaat seperti yang diharapkan ketika melakukan perencanaan. Penyebab yang paling umum adalah TI yang dikembangkan tidak tepat-guna. Sehingga berbagai komponen dalam organisasi enggan atau bahkan tidak dapat menggunakannya.

Untuk dapat memiliki TI yang tepat-guna harus melalui tahapan perencanaan strategis sistem informasi. Karena peran TI sekarang sudah semakin mendasar, menjadi bagian terpadu pada setiap aktifitas organisasi dalam mencapai tujuan.

Sulit dibayangkan jika tukar menukar file tidak menggunakan jaringan komputer, masih menggunakan flashdisk saja atau bahkan CD. Sulit dibayangkan tidak bisa googling karena tidak ada akses internet di kantor. Semua itu dibutuhkan tiap tiap departemen dalam organisasi, tidak hanya bagian administrasi tapi juga bagian operasional dan keuangan.

Jika salah dalam menentukan pilihan TI maka hasilnya adalah pemborosan sumber daya yang bisa mengakibatkan kerugian investasi. Kondisi seperti inilah yang sekarang mendominasi keadaan sebagian besar organisasi di Indonesia, baik swasta maupun pemerintah.

Contoh sederhananya adalah salah dalam membeli perangkat lunak. Membeli perangkat lunak yang ternyata tidak kompatibel dengan versi yang sudah dimiliki sebelumnya. Ini kerap terjadi. Seorang sekretaris yang kerepotan karena tidak dapat membuka file MS Word versi 2007 dari atasannya karena MS Word miliknya masih versi 2003. Ini akan mengganggu operasional organisasi. Untuk itu perlu analisis sistem informasi internal untuk menjaga kompatibilitas.

Contoh lain adalah ketika memasang sambungan internet dari operator yang ternyata lebih mahal operasionalnya karena teknologi jaringan terbaru sudah diadopsi oleh pesaing operator yang dipilih tersebut sementara organisasi sudah kontrak penggunaan selama setahun. Untuk itu perlu analisis sistem informasi eksternal guna melihat trend teknologi.

Diagram Ward and Peppard

Berbagai macam metode analisis dapat digunakan untuk mendapatkan portofolio-portofilio usulan aplikasi yang tepat-guna. Salah menentukan strategi mengakibatkan kerugian investasi. Jika dalam lingkup organisasi sebesar pemerintah maka kerugiannya juga bisa sangat besar dan rakyatlah yang harus menanggung semua itu.

Semakin besar organisasi semakin rumit perencanaan yang harus dibuat karena melibatkan banyak pihak dan harus mencapai keselarasan (alignment) antara tujuan organisasi dan TI yang digunakan. Keselarasan ini dihasilkan dari analisis internal organisasi.

Analisis eksternal organisasi juga tidak kalah pentinganya untuk mencegah hambatan dari luar secara politis, misalnya kedekatan dengan vendor tertentu jangan sampai mempengaruhi keputusan pengunaan produk TI tertentu yang sebenarnya tidak sesusai dengan hasil rekomendasi analisis internal/eksternal sistem informasi.

Hasil dari analisis internal/eksternal ini adalah strategi dalam bentuk usulan portofolio aplikasi yang dijabarkan dalam Road Map kurun waktu 3 sampai 5 tahun. Dalam Road Map tersebut terdapat gap analisis antara aplikasi lama yang sudah ada sekarang dengan aplikasi yang akan diadakan dalam Road Map. Bagaimana cara mengadakannya juga diberi analisis, bisa dengan cara membangun sendiri, membeli atau outsource.

Perencanaan strategis yang baik akan menghasilkan strategi yang definitif dan aplikatif secara langkah demi langkah hingga tingkat paling bawah sekalipun. Tidak buram dan mengawang awang seperti sebuah ramalan akhir tahun. Seluruh stakeholder harus dapat melihat dan mengkaji perencanaan secara transparan. Jika itu proyek untuk kepentingan publik maka stakeholdernya adalah publik itu sendiri.

Menurut UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik: (1) Setiap Informasi Publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik. (2) Informasi Publik yang dikecualikan bersifat ketat dan terbatas. (3) Setiap Informasi Publik harus dapat diperoleh setiap Pemohon Informasi Publik dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan, dan cara sederhana.

Perencanaan strategis untuk sebuah organisasi itu mutlak adanya. Bagaimana membuat perencanaan strategis untuk organisasi sebesar pemerintah? Jawabnya adalah Dewan TIK Nasional yang akan saya tulis pada postingan selanjutnya…

Iklan

Akhir Semester Tiga

Science Park

Science Park

Tak terasa kuliah sudah menginjak akhir semester tiga.  Padahal rasanya baru kemarin kami berkutat dalam tugas yang bikin stress. Sebentar lagi saya bakal jarang bertemu dengan temen temen sekelsa. Bahkan bagi yang sudah ambil tesis di semester tiga ini dan insyallah mereka maju ujian bulan juli maka jika lulus kita akan berpisah. Jadi akhir semester tiga ini sessungguhnya akhir perkualiahan kita, karena semster 4 cuma ada tesis.

Dipenghujung semester tiga ini kami sempatkan foto foto walaupun tidak diikuti oleh keseluruhan mahasiswa kelas 2007 FA. Berikut beberapa foto fotonya.

Jembatan

Fasilkom UI

Fasilkom UI

Kamera: Kodak Z1012

Kamera: Kodak Z1012

Makan sebelum pulang

Makan di Saung Mang Engking sebelum pulang

Kategori:Kuliah

Perencanaan Infrastruktur TI

Anda bekerja di kantor atau sebuah organisasi? Lingkungan tempat kita bekerja tentu telah banyak didukung oleh perangkat TI seperti jaringan komputer, sistem operasi, data center,  server dll. Peralatan tersebut tidak sembarangan dipilih atau difungsikan tapi harus direncanakan dengan baik agar dapat memberikan hasil yang ideal.

Dukungan infrastruktur TI yang baik akan memberikan kontribusi pada percepatan pencapaian tujuan organisasi, sebaliknya jika infrastrukturnya tidak baik justru bisa menghambat pencapaian tujuan. Bahkan lebih dari itu, dengan infrastruktur TI yang baik dapat menjadi key enabler bagi perkembangan organisasi.

Apa itu key enabler dan bagaimana kita menata dan merencanakan infrastruktur TI yang baik butuh pengetahuan yang meliputi:

I. Perencanaan infrastruktur aplikasi perusahaan:

  • Identifikasi komponen-komponen infrastruktur TI suatu perusahaan dan pembakuannya.
  • Memadukan kebutuhan strategis organisasi, tren teknologi, dan standar industri (best practices).
  • Berorientasi pada arsitektur aplikasi perusahaan.

II. Pengelolaan tingkat layanan (service level) TI perusahaan:

  • Fokus pada daur hidup infrastruktur TI perusahaan.
  • Aspek-aspek tingkat layanan: kapasitas & skalabilitas, ketersediaan & keandalan, dan keamanan.
  • Perencanaan dan pengukuran kapasitas infrastruktur.
  • Prosedur-prosedur pengelolaan infrastruktur berdasarkan best practices.

Tapi sebelum membahas lebih lanjut saya ingin memaparkan terlebih dahulu tentang definisi infrastruktur. Kalau kita mendengar kata infrastruktur apa yang terbayang? Jalan raya, listrik PLN, jembatan, saluran PAM, jaringan kabel Telkom dan segala hal yang sifatnya fisik dan menjadi dasar bagi penggunaan alat alat yang lain diatasnya (suprastruktur).

Ada beberapa karakterisktik umum dari infrastruktur antara lain:

  • Pemakaiannya lebih luas dibanding struktur diatasnya (yang didukungnya).
  • Lebih permanen/statis dibanding struktur diatasnya.
  • Terhubung secara fisik dengan struktur diatasnya.
  • Sering diperhitungkan sebagai servis/layanan pendukung.
  • Dimiliki dan dikelola oleh pihak yang berbeda dari struktur yang didukungnya.

Kemudian apa yang dimaksud dengan infrastruktur TI dapat dilihat dari gambar dibawah ini:

Jadi infrastruktur TI berjalan diatas infrastruktur publik seperti listrik, gedung dll. Dalam infrastruktur TI dapat dilihat tidak hanya terdiri dari perngakta keras tapi juga terdiri dari perangkat lunak seperti OS, aplikasi middleware dan database.

Kecenderungan infrastruktur semakin hari semakin merambat naik. Semakin banyak komponen perangkat lunak yang menjadi dasar bagi komponen perangkat lunak yang lain untuk dapat bekerja. Contohnya adalah library bahasa pemrograman. Template template design (theme) yang dapat digunakan oleh banyak aplikasi.

Bahkan trend sekarang ada yang disebut SOA (Service Oriented Architecture) yang menyediakan dirinya (aplikasi) untuk dapat digunakan secara bersama oleh aplikasi yang lain. Pengertian infrastruktur dalam TI sudah tidak lagi berarti sesuatu yang statik (hardware) tapi sudah menjadi sesuatu yang lebih fleksible (software).

Sekarang seperti apa infrastruktur TI yang ideal?

Dunia bisnis sekarang ini sudah semakin pervasive yang artinya tanpa TI maka kegiatan bisnisnya tak dapat berlangsung seperti database perbankan misalnya, atau sistem informasi akademik sebuah universitas. TI tidak hanya sudah menjadi key operational tapi juga sudah menjadi competitive advantage. Bank misalnya kalau jaringan ATMnya sering mati maka Bank tersebut akan kalah bersaing dengan Bank yang jaringan ATMnya lebih stabil dan lebih luas.

Masuknya TI dalam wilayah strategis ini membuat TI menjadi key enabler bagi perusahaan tersebut. Key enabler maksudnya menjadi kunci pemungkin terhadap sesuatu peluang bisnis yang baru. Contohnya sebuah perusahaan besar yang ingin mengakuisisi atau merger perusahaan pesaingnya yang memiliki sistem TI yang berbeda maka jika sistem TI mereka tidak dapat diselaraskan supaya dapat bekerja sama maka akuisisi/merger tersebut tidak dapat dilakukan yang berarti hilangnya peluang bisnis.

Disinilah pentingnya merencanakan infrastruktur TI yang fleksible sebab TI itu bisa menjadi kendala sekaligus juga bisa menjadi peluang. Ada beberapa motivasi kenapa kita harus memiliki infrastruktur TI yang ideal:

Motivasi: key enabler

  • Teknologi Informasi (TI) adalah key enablerperusahaan untuk merealisasikan strategi bisnisnya.
  • Strategi bisnis adalah sesuatu yang dinamis: sewaktu-waktu berubah.
  • TI harus dapat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan strategis perusahaan:
    • Unit bisnis atau layanan baru
    • Kantor cabang baru
    • Restrukturisasi organisasi, dsb.

Motivasi: adaptiveness

  • Kecepatan mengimplementasikan perubahan adalah persyaratan strategis.
  • TI harus dibuat fleksibel untuk dapat mengakomodasi perubahan secara cepat dan efisien.
  • Kunci: infrastruktur TI yang adaptif.
  • Mengapa infrastruktur?
    • Infrastruktur dapat menjadi kendala atau membuka peluang inisiatif bisnis.

Kita melihat perusahaan operator telpon selular berlomba lomba mengadopsi terknologi terbaru seperti 3G, 3.5G dst. Padahal pasar belum siap memanfaatkan teknologi baru tersebut, ini karena mereka ingin memiliki infrastruktur TI yang adaptif kedepan guna meraih peluang peluang bisnis baru, bisa lewat konten atau berbagai inovasi lain dikemudian hari.

Adaptiveness dari sebuah infrastruktur TI dapat diukur dari:

  • Time to Market: kecepatan implementasi layanan baru.
  • Scalability: mampu mengakomodasi peningkatan penggunaan/beban.
  • Extensibility: kemudahan menambah komponen baru.

Kemudian ciri dari infrastruktur TI yang adaptif:

  • Efisien: Dengan tersedianya komponen-komponen yang dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai sistem aplikasi (lama & baru).
  • Efektif: Dengan komponen-komponen yang mudah dipadukan (interoperable) dan diintegrasikan.
  • Fleksibel (agile): Dengan komponen-komponen yang mudah dirombak, di-upgrade, atau diganti

Selain ciri di atas dapat dilihat dari:

  • Minimasi Kompleksitas
    • Minimasi biaya pengelolaan, termasuk penyediaan SDM.
    • Strategi: perencanaan komprehensif, arsitektur modular, penyeragaman, menghindari duplikasi.
  • Maksimasi Utilitas (Value)
    • Maksimasi return on investment.
    • Strategi: penggunaan ulang/bersama, penerapan open standards.

Setelah mengetahui infrastruktur yang ideal lalu bagaimana caranya mendapatkan infrastruktur TI yang ideal?

Jaman dulu kita kenal kalau aplikasi biasanya monolitik, satu buah source code menangani segala macam fungsi. Ini bukan startegi yang baik sebab pengembangan akan menjadi sulit karena tidak fleksibel. Strategi yan baik dengan memecah aplikasi besar menjadi sistem yang modular perlayanan fungsi. Dengan demikian sistem menjadi lebih adaptif.

Strategi untuk mencapai adaptiveness:

  • Complexity Partitioning:partisi arsitektur aplikasi ke dalam komponen-komponen yang dapat dikelola secara terpisah (modular).
  • Reusability: pemanfaatan ulang/silang komponen-komponen infrastruktur oleh berbagai layanan TI perusahaan.
  • Integration: pemanfaatan teknologi open standard yang memungkinkan integrasi antar komponen-komponen infrastruktur.

Permasalahan yang sering muncul ketika kita akan merencanakan sebuah infrstrusktur TI dalam sebuah organisasi adalah:

  • Infrastruktur sering tidak terencana dengan baik
    • Tidak merupakan bagian dari perencanaan strategi bisnis.
      CEO jarang ikut merencanakan infrstruktur, disinilah peran CIO dibutuhkan.
    • Juga tidak dilibatkan dalam perancangan aplikasi sejak awal.
    • Bersifat ad-hoc: sesuai dengan kebutuhan aplikasi-aplikasi baru, tanpa standarisasi.
  • Hasilnya: infrastruktur dengan kompleksitas tinggi, tidak terfokus, dengan biaya operasi dan pemeliharaan tinggi.

Solusi dari permasalahan ini dapat diuraikan dalam berapa poin:

  1. Merencanakan infrastruktur secara menyeluruh (holistic)
    • Mencakup seluruh perusahaan.
    • Mencakup berbagai tingkatan struktur.
  2. Juga mempertimbangkan kebutuhan infrastruktur dimasa depan
    • Mengakomodasi perubahan dan pertumbuhan.
  3. Memaksimasi penggunaan ulang dan silang (reuse) komponen infrastruktur (termasuk infrastruktur SDM).
  4. Memilih teknologi yang tepat
    • Menerapkan open-standardsuntuk menjamin interoperabilitas dan kebebasan dari keterikatan pada vendor.
    • Melihat kesesuaian dengan kebutuhan bisnis dan kesiapan/kemampuan organisasi mengadopsinya.
  5. Menerapkan prosedur baku dalam perencanaan dan pengelolaan infrastruktur.
    • Platform: Kategori komponen-komponen dasar infrastruktur.
    • Pattern: Struktur sistem aplikasi yang melibatkan platform-platform.
    • Service: Layanan TI yang menyediakan fungsi-fungsi umum (dapat dipakai bersama).
  6. Menggunakan pola-pola tersebut sebagai template dalam perancangan infrastruktur, dengan lebih cepat dan efisien.
    • Perancangan berbasis pola memudahkan identifikasi komponen yang dapat dipakai bersama
      • Berdasarkan kesamaan pola antar aplikasi.
        Perhatikan bagian atas (stovepipes) dimana tiap tiap aplikasi memiliki infrastrukturnya sendiri sendiri sedangkan yang bagian bawah (pattern-based) semua aplikasi mengunakan infrastruktur yang sama.
  7. Menurut Robertson & Sribar komponen-komponen infrastruktur dapat digolongkan dalam tiga konsep sentral:

    Dalam pendekatan pattern-based dapat diidentifikasi beberapa pola aplikasi umum yang dapat digunakan sebagai acuan dalam merancang berbagai aplikasi perusahaan.

Untuk dapat membuat infrastruktur bersama dalam pattern-based , Robertson-Sribar menggunakan metodologi sbb:

Metodologi perencanaan infrastruktur TI.

  1. Inventarisasi/pendataan teknologi
    • Berdasarkan kategori system layer (lihat gambar diatas):
  2. Identifikasi dan pengembangan pattern-pattern (pola) arsitektur
    • Konfigurasi-konfigurasi standar yang banyak diterapkan (best practice) untuk berbagai sistem aplikasi.
    • Tiap pattern umumnya mempersyarat-kan satu set infrastruktur teknologi.
    • Menjadi acuan bagi pengembangan aplikasi atau layanan baru.
  3. Identifikasi dan pengembangan infrastruktur service
    • Identifikasi fungsi-fungsi sistem yang bersifat umum.
    • Jadikan fasilitas penyedia fungsi-fungsi tersebut sebagai service untuk umum.
    • Pengalihan tugas/tanggung-jawab pengelolaan fasilitas tsb dari bagian aplikasi ke bagian infrastruktur.
  4. Pengelolaan portfolio infrastruktur
    • Organisasikan platforms, patterns, dan services dalam suatu portfolio standar perusahaan.
    • Sebagai pusat informasi untuk perencanaan (costing, capacity planning, quality assurance).
    • Secara periodik dilakukan reviewatas standar-standar yang dipilih, baik dalam jangka panjang (strategic planning) maupun jangka pendek (tactical planning: per-proyek).
  5. Pelembagaan perencanaan infrastruktur
    • Pembentukan peran Manajer atau Perencana Infrastruktur TI
    • Terpisah dari organisasi pelaksana proyek pengembangan aplikasi.
    • Memilih dan menetapkan standar-standar infrastruktur TI perusahaan.
    • Mengembangkan interface (misal: middleware) bagi penggunaan ulang/silang sumber daya infrastruktur.
  6. Pengelolaan infrastruktur sebagai paket-paket solusi.
    • Mengkemas layanan-layanan infrastruktur sebagai paket produk
    • Lengkap dengan informasi tentang manfaat, kapasitas, persyaratan kinerja (service level), dan costing.
    • Memudahkan pihak manajemen bisnis untuk mengevaluasi dan mengambil keputusan tentang investasi infrastruktur.
    • Dapat dikembangkan menjadi profit center.
  7. Dengan mengikuti metodologi diatas dalam merencanakan infrastruktur TI menurut Robertson & Sribar bisa diperoleh sebuah infrastruktur yang adaptif dan menjadi aset organisasi yang strategis.

    Referensi: B. Robertson & V. Sribar, “The Adaptive Enterprise: IT Infrastructure Strategies to Manage Change and Enable Growth,”Intel Press, 2001.

Kategori:Kuliah Tag:

Kuliah Umum Dr Alexander Schatten

Kemarin saya ikut kuliah umum yang disampaikan Bpk Dr Alexander Schatten dari Vienna University of Technology, Faculty for Informatics, Institute for Software Technology and Interactive Systems (ISIS/IFS), Austria.

Salah satu tujuan kehadiran beliau di Indonesia adalah dalam rangka memperkenalkan program beasiswa untuk studi S3 di Austria bagi para calon lulusan program Magister Teknologi Informasi UI. Beasiswa berupa biaya kuliah dan biaya hidup selama menempuh studi di Austria.

Dalam kuliah umumnya Pak Alex yang dihantarkan oleh dosen kami Pak Dana Indra Sensuse PhD, memaparkan tentang teknologi open source adalah sebuah jawaban untuk tantangan dunia global di masa depan.

Ledakan populasi penduduk pada tahun 2050 akan mencapai 9 miliar jiwa menurut perhitungan PBB. Angka itu tak akan meleset jauh dan kita sekarang telah merasakan dampak dari padatnya penduduk dunia yang baru 6 milliar ini.

Terlebih lebih negara berkembang seperti Indonesia yang lebih banyak mengandalkan sumber daya alam yang tidak sustainable. Kita tak bisa terus menerus mengandalkan minyak bumi yang akan habis dalam waktu dekat ini.

Salah satu masalah serius bagi Indonesia adalah Illegal Logging. Aktifitas ini selain telah merugikan Indonesia ratusan triliun tiap tahun juga yang lebih parah lagi adalah merusak hutan sebagai sumber daya alam.

Pak Alex mengatakan bahwa hutan yang dikelola dengan baik akan memberikan hasil yang dapat diperbaharui dan hasilnya jauh lebih banyak daripada Illegal Logging.

Karena manfaatnya bisa dirasakan lebih merata untuk rakyat tapi kalau Illegal Logging maka hanya segilintir orang dengan cara merusak lingkungan.

Dalam perkembangan globalisasi semua masalah menjadi bukan lagi masalah lokal tapi sudah menjadi masalah global.

Masalah yang ada di China, India dan Indonesia misalnya tak bisa lagi dialamatkan sebagai masalah lokal negara masing masing tapi sudah menjadi permasalahan dunia.

Penggunaan BBM yang eksesif atau Illegal Logging di negara tertentu tapi dampaknya akan terasa secara global seperti misalnya global warming.

Ketika penduduk dunia mencapai 9 milliar pada tahun 2050 maka jelas kita tidak mungkin hidup masih dengan cara seperti sekarang ini. Segala sumber daya alam harus dikelola dengan baik untuk bisa mensejahterakan 9 milliar umat manusia.

Gandhi pernah berujar: Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia. Tapi bumi ini tak akan cukup untuk memenuhi keserakahan satu orang manusia.

Ungkapan The World is Flat dapat dilihat gambarannya dalam bagaimana nanti dunia menata sumber daya alam yang terbatas ini. Jika sebuah negara hendak mengekspor hasil hutan, misalnya berupa kayu maka negara tersebut harus bisa menunjukkan tanda sertifikasi international yang menjamin kayu tersebut adalah bukan dari hasil Illegal Logging.

Sertifikasi semacam ini juga akan diberlakukan pada segala macam komoditi yang menggunakan sumber daya alam seperti hasil laut, peternakan dan pertanian. Untuk memastikan bahwa komoditi tersebut didapat dari hasil aktifitas yang legal.

Jika sebuah negara tidak mampu dalam memenuhi sertifikasi ini maka negara tersebut akan bermasalah pada ekspor karena semua negara akan menuntut sertifikasi semacam ini. Negara yang bermasalah dengan ekspor tidak akan mendapat devisa dan kecenderungan untuk bermain dipasar gelap akan semakin besar. Ini akan menjadi biang masalah.

Untuk dapat memenuhi sertifikasi ini dibutuhkan pengelolaan sumber daya alam yang melibatkan berbagai macam pihak baik itu antar instansi pemerintahan maupun perusahaan swasta pelaku usaha. Bahkan juga antar pemerintahan negara.

Pihak pihak yang berkepentingan dituntut untuk dapat mengelola informasi dengan baik dan benar. Satu satunya cara mengelola informasi dalam kuantitas dan kualitas yangbesar adlah dengan memanfaatkan teknologi dengan arsitektur terbuka.

Kenapa mesti terbuka?

Teknologi adalah tool yang paling penting dan strategis dalam mengelola informasi. Jika sebuah teknologi dinyatakan terbuka maka setiap orang dapat mempelajarinya dan mengembangkannya sendiri untuk keperluannya sendiri yang juga bisa bermanfaat bagi ornag lain dengan kebutuhan yang sama.

Contoh sukses dari teknologi yang bersifat terbuka adalah Internet. Begitu pesatnya perkembangan Internet seolah olah seperti Renaisance kedua dalam sejarah umat manusia. Segala aspek kehidupan berubah mulai dari bisnis hingga politik. Fenomena kemenangan Obama merupakan salah satu bukti.

Internet tak akan mengalami perkembangan sepesat itu bila tidak dibangun di atas protokol TCP/IP yang bersifat terbuka. Semua orang bisa dan boleh membangun aplikasi apapun untuk dijalankan diatas protokol TCP/IP.

Ada apa dengan teknologi tertutup (proprietary)?

Dr Alexander Schatten mengatakan bahwa ia tahu kami mahasiswa menggunakan operating system bajakan. Para mahasiswa tertawa. Tawa terhenti ketika Pak Alex mengatakan bukan cuma dia yang tahu tapi mereka para vendor itu juga tahu. “It’s ok you can use it… come on steal it…“, kata Pak Alex mendramatisasi para vendor proprietary tersebut.

Sekarang kita sedang berkembang, SDM kita sedang belajar mengoperasikan software komputer. Apa yang sudah dipelajari sejak awal maka akan susah sekali untuk berpindah ke software jenis lain.

Nanti setelah 10 tahun atau 20 tahun lagi ketika SDM kita sudah sangat bergantung pada software dari vendor proprietary tertentu dan tidak bisa bekerja bila tidak menggunakan software tersebut maka pada saat itulah mereka para vendor proprietary itu akan memeras kita seperti jus lemon kata Pak Alex.

Dengan menggunakan software proprietary kita diajarkan hanya tahu menggunakan tapi tidak tahu bagaimana software itu bekerja. Jadi kalau ada masalah atau pengembangan untuk kebutuhan tertentu kita tetap tergantung dengan pembuatnya.

Padahal dengan software open source (sumber terbuka), bila kita ingin tahu bagaimana web server bekerja kita tinggal download Apache dan pelajari isinya. Ingin tahu bagaimana browser bekerja tinggal download Firefox dan pelajari bagaimana sebuah browser bekerja.

Ingin tahu bagaimana cara kerja dari indexing database, tinggal download MySQL lalu pelajari bagaimana. Software tidak terbatas pada contoh yang disebutkan tapi banyak lagi yang lain yang bisa dipelajari.

Ketergantungan adalah kata kunci jika kita menggunakan software proprietary. Sebuah ketergantungan adalah sebuah keterjajahan.

Ketika jaman Belanda, perkebunan di Sumatra butuh banyak dokter untuk merawat kesehatan mereka, maka Belanda membuka sekolah dokter STOVIA untuk mendidik calon dokter Jawa. Dokter Jawa ini keahliannya tak boleh setaraf dengan dokter Eropa. Mereka digaji lebih rendah dan ilmunya harus dijaga tak boleh benar benar sama dengan dokter Eropa.

Suatu karakteristik yang mirip dengan dampak penggunaan software proprietary. Kita hanya dibolehkan menggunakan tanpa boleh tahu bagaimana sebuah software itu bekerja.

Sedangkan dalam lingkungan open source kita diberi kebebasan untuk mengetahui apa yang ada didalam sebuah software untuk dapat kita kembangkan sendiri untuk kepentingan kita dimasa depan.

Sebuah software open source dapat dimiliki secara bebas, digunakan secara bebas, dimodifikasi, dikembangkan sendiri bahkan dapat dijual untuk kepentingan bisnis kita. Inilah yang saya sebut sebagai sebuah pembebasan.

Sumber daya alam yang kita miliki layak untuk dikelola dengan semangat pembebasan. Ketahanan IT akan dapat terwujud hanya dengan penggunaan software yang membebaskan. Agen yang paling dominan untuk memulainya adalah pemerintah melalui e-Government.

Pemerintah memang mendukung IGOS (Indonesia Go Open Source) tapi pemerintah juga membina kerja sama dengan Microsoft. Ini membuat momentum menjadi berkurang. Belum lagi usaha Microsoft membagi bagi lisensi Vista gratis di kampus kampus.

Mahasiswa yang jadi ujung tombak pengembangan IT dimanjakan dengan lisensi gratis, ini sangat membuai. Seperti ilustrasi Dr Alexander Schatten: Seorang pengedar narkoba selalu memberi produknya secara gratis diawal tapi setelah korbannya ketagihan maka pada saat itu tidak bisa gratis lagi.

…gimana kalo PC Lab kita di ganti Ubuntu semua yah? Anak anak kelas udah pada mulai ganti OS Notebook mereka tuh. Seperti si David awalnya dual boot tapi sekarang setelah berbagai aplikasi padanan tersedia di Ubuntu dia mau total Ubuntu, Vistanya mau dihapus katanya… yuuukkkk

Kategori:Kuliah Tag:, , ,

Sidang Tesis di Puncak

Bukan bukan, bukan sidang tesis di puncak, tapi bimbingan di Puncak untuk mahasiswa bimbangan Pak Riri (tgl 13,14 dan 15 juni).

Kemudian pas hari ini, 15 juli (sebentar lagi) adalah sidang tesisnya Dina dan Agnes. Deg degan tapi harus dilalui. Semoga sukses sidangnya yah…

Semoga apa yang jadi harapan waktu bimbingan di puncak menjadi kenyataan: lulus s2 semester ini hemat uang kuilah satu semester.. hehe.

Bimbingannya sih enak tapi tahu deh hasilnya, kembali ke masing masing mahasiswa, siap enggaknya. Nanti saya coba mulai buat proposal waktu masuk semester 2, supaya semester 3 bisa menyelesaikan tesis seperti kalian.

For the moment, nikmati bimbingan Pak Riri, semester depan kalo ke Puncak bilang lagi ya Pak, kami mau ikut lagi.. hehe…

Dina, Mayu dan Agnes.

Pak Riri, duduk sebelah kiri.

Gerombolan anak MTI yang lagi bimbingan, gak lengkap semua sih, ini yang lagi ngumpul.

Pas udah mau pulang… bawa PR masing masing, lengkapi tesis dan hari ini adalah sidangnya.

Kategori:Kuliah Tag:, ,

Industri Perangkat Lunak

Direktur Telematika, Direktorat Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika, Departemen Perindustrian, Ramon Bangun dalam kuliah umum yang disampaikannya di kelas 2007 FA, Magister Teknologi Informasi, Universitas Indonesia, mengemukakan bagaimana sekarang ini pemerintah khususnya Deperin telah memiliki paradigma baru tentang bagaimana menyediakan sarana yang paling kondusif untuk perkembangan industri telematika khususnya industri perangkat lunak.

Dahulu jaman Orde Baru paradigmanya adalah apa yang bisa diambil dari industri dalam negeri tapi kini paradigmanya adalah apa yang bisa diberi untuk bisa memajukan industri.

Kebijakan adalah hal yang paling mendasar yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk mengatur hal hal yang menjadi parameter keberhasilan industri telematika yang antara lain meliputi iklim usaha, standarisasi, daya saing dan kompetensi.

A. Iklim Usaha
Untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif dibidang industri telematika pemerintah mengeluarkan kebijakan publik yang mengatur tentang 3 hal yaitu: moneter, fiskal dan administratif.

B. Standarisasi
Setelah kebijakan yang mengatur tiga hal tersebut dan iklim usaha menjadi kondusif maka perlu diatur juga masalah standarisasi agar memudahkan pergerakan antar layanan dalam industri telematika sekaligus melindungi pasar dalam negeri dari serbuan asing

C. Daya Saing
Sebaik apapun proteksi dalam negeri dilakukan kalau daya saing tidak ditingkatkan maka proteksi tersebut tidak akan efektif. Karena itu daya saing industri telematika dalam negeri harus ditingkatkan.
Peranan pemerintah masih menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan dimana industri telematika dalam negeri dapat memperoleh keunggulan kompetitif.

D. Klaster dan Kompetensi
Daya saing dapat dibangun dengan sistem cluster untuk bisa mencapai fokus pada kompetensi inti. Jadi dibanding memiliki sebuah perusahaan besar yang punya kompetensi pada banyak bidang lebih baik memiliki perusahaan perusahaan yeng lebih kecil dengan kompetensi inti masing masing.

Kemudian perusahaan perusahaan itu membentuk cluster untuk meningkatkan daya saing. Sistem cluster hanya bisa efektif jika diatur oleh standar dan tentu saja dalam iklim usaha yang kondusif.

E. Rekayasa Perangkat Lunak
Perangkat lunak adalah suatu bidang yang masih baru dan banyak pendekatan dilakukan dalam mengembangkannya. Salah satu pendekatan adalah pendekatan rekayasa.

Bermula di Amerika Serikat tahun 60an dimana pembuatan perangkat lunak selalu saja mengalami krisis. Sebuah proyek pembuatan perangkat lunak tak pernah kunjung selesai dan cenderung menjadi never ending project yang sangat menguras biaya, waktu dan tenaga.

Karena itu dilakukan pendekatan rekayasa (engineering). Dengan pendekatan rekayasa kode kode program dibuat dalam bentuk modul modul yang bisa dipakai berulang ulang untuk keperluan membangun program yang serupa.

Sebelum rekayasa perangkat lunak ditemukan pengembangan perangkat lunak dilakukan dengan pendekatan craftmanship atau meminjam istilah dosen kami Pak Eko Budiarjo PhD, pengrajin software, dimana keberhasilannya tidak bisa diperhitungkan dan sangat tergantung pada peran individual.

F. Proses Manajemen Rekayasa Perangkat Lunak
Rekayasa perangkat lunak semata mata tidak menjadi jaminan sebuah proyek pengembangan perangkat lunak bisa berhasil dengan tepat waktu dan tepat budget.

Perlu dilakukan manajemen atas proses dari pengembangannya yang meliputi lebih banyak disiplin ilmu manajemen ketimbang ilmu rekayasa perangkat lunak.

Banyak pihak melakukan proses yang berbeda beda hingga terdapat berbagai macam model proses. Model yang paling banyak diadopsi oleh industri perangkat lunak adalah model Capability Maturity Model (CMM) yang dikeluarkan oleh Software Engneering Institute (SEI) pada tahun 1986.

G. Capability Maturity Model (CMM)
CMM ini kemudian diakui secara defacto sebagai standar setelah Departemen Pertahanan Amerika Serikat mensyaratkan perusahaan perusahaan yang boleh ikut tender pengembangan perangkat lunak dalam lingkungan departmennya harus mengantongi sertifikasi CMM minimal level 2.

H. Level Dalam CMM
Dalam model CMM kematangan sebuah organisasi dalam mengembangkan perangkat lunak dibagi dalam tingkatan mulai dari level 1 hingga level 5 paling tinggi.
Lima tingkat kematangan itu adalah:

  • Level 1: Initial
  • Level 2: Repeatable
  • Level 3: Defined
  • Level 4: Manageable
  • Level 5: Optimazing

I. Key Proces Area (KPA)

Masing masing level memiliki Key Process Area (KPA) yang harus diselesaikan dan dinilai untuk bisa berada pada level tersebut. Total ada 22 KPA untuk CMM dan telah menjadi standard  defacto untuk proyek proyek pemerintah di Amerika Serikat.

J. CMM versi Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia? tunggu postingan saya selanjutnya.

Kematangan Industri Perangkat Lunak Indonesia

Bulan Mei tahun 2008 menjadi tonggak peringatan 100 tahun kebangkitan nasional. Banyak pihak yang memanfaatkan momen ini untuk lebih menyuarakan apa saja yang telah dan akan mereka lakukan dalam programnya.

Pada dasarnya mereka ingin mensosialisasikan program mereka dengan tema kebangkitan.
Bicara soal kebangkitan bisa kita lihat paradigmanya selalu berawal dari kebangkitan keilmuan yang berbasis pada pendidikan, kebangkitan pemerintahan yang berbasis pada politik, kemudian kebangkitan ekonomi yang berbasis pada industri.

Pada tahun 1908 para pendiri Budi Utomo terdiri dari orang orang yang berpendidikan. Itulah awal kebangkitan nasional dimana kesadaran dari kaum terpelajar membentuk suatu gerakan yang bersifat nasional berhasil menjadi motor penggerak menuju kemerdekaan yang menjadi kebangkitan pemerintahan dengan berdaulatnya rakyat Indonesia secara politik atas dirinya sendiri.

Pada era Orde Baru, apa yang telah diraih sebelumnya berusaha dilanjutkan dengan mencoba masuk ke bidang industri dimana dengan kebijakan pemerintah yang mendukung industrialisasi berbagai macam industri tumbuh dan berkembang di tanah air.

Di ujung jalan era Orde Baru, memasuki era Reformasi yang ditandai dengan krisis moneter dan berlanjut ke krisis ekonomi membuat seolah olah semua yang pernah kita raih hilang begitu saja tanpa bekas.
Industri yang merupakan pilar ekonomi runtuh, terutama industri manufaktur yang mayoritas dikuasai oleh pemodal kuat seperti pemerintah dan konglomerat. Ditutupnya berbagai pabrik oleh para investor asing membuat semakin tipisnya harapan akan kebangkitan yang didambakan.

Departemen Perindustrian membuat teori bahwa industri masa depan yang bisa diharapkan adalah industri agrobisnis, transportasi dan telematika. Ketiga industri ini menjadi pilar utama industri masa depan yang diharapkan menjadi pilar kebangkitan industri Indonesia.

Industri telematika menjadi tumpuan harapan melihat perkembangan industri ini di dunia international dan potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Potensi bangsa yang besar di bidang telematika bila tidak dikelola dengan baik tidak akan mampu masuk ke ranah industri yang membutuhkan rekayasa. Apa yang dimiliki oleh Indonesia sekarang ini tidak lebih dari potensi dan menunggu untuk digarap lebih lanjut menuju ke arah industri.

Departemen Perindustrian adalah salah satu pihak yang paling bertanggung jawab dalam mengarahkan dan memfasilitasi potensi potensi tersebut untuk bisa masuk ke industri dengan cara mengeluarkan kebijakan pemerintah yang mendukung dan menyuburkan berkembangnya industri telematika di tanah air.

Salah satu usaha Deperin adalah dengan mengeluarkan standar model kematangan industri perangkat lunak yang di kenal dengan nama KIPI v1.0 pada pertengahan 2006.

Bagaimana KIPI dengan model kematangannya ini bisa mengubah potensi menjadi kebangkitan industri perangkat lunak maka tunggu postingan saya selanjutnya.

Kategori:Kuliah Tag:,