Beranda > Gov 2.0 > E-Government dalam Network-Economy

E-Government dalam Network-Economy

Bergesernya paradigma ekonomi dari industrial-economy menuju network-economy akibat dari pesatnya perkembangan Teknologi Informasi (TI) tidak berhenti hanya pada sektor swasta. Sektor pemerintahan juga mengalami perubahan. Lebih tepatnya dituntut untuk berubah. Bagaimana sebaiknya perubahan dalam pemerintahan menjadi tantangan karena organisasi dan proses bisnis dalam pemerintahan sangat kompleks dan terkait satu sama lain.

Kemampuan untuk dapat saling terkait dan bekerja sama dalam keterkaitan itu pada sebuah pemerintahan, oleh PBB kemudian dijadikan puncak tahapan kinerja sebuah sistem pemerintahan dengan label connected governance. Penggunaan TI dalam pemerintahan atau lebih dikenal dengan e-Government menjadi keniscayaan dalam proses menuju connected governance.

Sebelum melihat bagaimana bentuk perubahan yang ideal untuk pemerintahan terlebih dahulu perlu diketahui apa yang menyebabkan perlu berubah dan kenapa pemerintahan lebih sulit berubah dibanding dengan sektor swasta.

Secara ringkas dapat digambarkan bahwa sebuah industri memberikan value kepada pelanggannya setelah melalui value chain. Pada era industrial-economy semua proses dalam value chain diusahakan dan dikuasai oleh satu pihak yaitu pemilik. Penguasaan oleh satu pihak mengarah kepada monopoli. Iklim monopoli menimbulkan perilaku status quo dimana pelaku industri enggan untuk mencari inovasi baru dalam memberikan layanan yang lebih baik karena tidak ada ancaman dari pesaing.

Ketika pesaing dapat menemukan inovasi baru yang memungkinkan biaya produksi dalam value chain menjadi lebih kecil sehingga pelanggan dapat dilayani atau disuguhi oleh produk dan layanan yang lebih bersaing dari sisi harga maupun kualitas. Disinilah pentingnya persaingan. Dalam era network-economy pintu persaingan dibuka lebar lebar sehingga mendongkrak jumlah inovasi untuk layanan yang lebih baik.

Hal inilah yang mendorong pergeseran paradigma ekonomi ke arah network-economy dimana proses proses dalam value chain dapat memisahkan diri untuk menjadi entitas bisnis tersendiri. Bisnis yang berdiri sendiri tersebut kemudian tidak hanya melayani proses bisnis dari value chain dalam bisnis asalnya tapi juga dapat melayani proses bisnis dari value chain pada bisnis yang berbeda.

Pemain dalam satu industri menjadi bertambah karena banyaknya entitas bisnis baru akibat pemisahan diri dari bisnis induknya. Namun tidak sedikit juga yang melahirkan berbagai macam bisnis baru yang sifatnya spesifik dan komplementer. Disinilah mekanisme persaingan berperan dalam meningkatkan kualitas layanan dan produk. Persaingan mengakibatkan perburuan akan penciptaan inovasi baru.

Sektor pemerintahan idealnya dapat mengikuti evolusi tersebut. Namun hirarki organisasi yang bertingkat tingkat dan birokrasi yang panjang menjadi salah satu faktor kelambanan. Bahkan  e-Government dari sisi TI tidak berbeda dengan sektor swasta. Perbedaan mendasar adalah pada sektor swasta perkembangan layanan di drive oleh keinginan untuk memuaskan pelanggan. Sedangkan pada sektor pemerintahan perkembangan layanan lebih kepada kepatuhan kepada aturan.

Perbedaan ini menimbulkan perbedaan perilaku. Sektor swasta sangat memperhatikan masukkan dari pelanggan untuk menciptakan inovasi baru. Sementara apa yang menjadi perhatian pada sektor pemerintahan adalah aturan hukum. Pengembangan layanan mendapat masukan dari jalur birokrasi yang sering kali tidak bersentuhan langsung dengan pengguna layanan. Kepekaan untuk memuaskan publik pengguna layanan menjadi tenggelam dalam usaha untuk mematuhi birokrasi.

Karena aturan yang ketat juga menyebabkan pengembang dalam sektor pemerintahan tidak banyak sehingga cenderung tidak memiliki iklim persaingan yang cukup kondusif untuk penciptaan inovasi baru. Kondisi sektor pemerintahan harus dibuat seperti dalam pembahasan di awal tulisan ini tentang network-economy.

Proses bisnis dalam sektor pemerintahan sebaiknya dibebaskan sebesar mungkin untuk dapat berdiri sendiri menjadi unit kerja tersendiri yang lebih kecil sehingga dapat bergerak lebih leluasa dalam mengembangkan layanan. Hasilnya adalah akan lebih banyak layanan yang diprovide oleh sektor swasta. Pemerintah pada akhirnya hanya akan memainkan peran regulator.

Dalam pelibatan sektor swasta pada layanan publik pemerintahan diperlukan sebuah kerangka kerja yang dapat memastikan antara satu inovasi dengan inovasi yang lain bisa saling terkait dan bekerja sama supaya dapat memberikan layanan yang komprehensif, tidak overlap, tidak redundant dan terintegrasi. Keterkaitan itu akan meliputi keterkaitan antara pemerintahan dan publik, antara pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah, antara dinas dan lembaga pemerintahan atau dengan satu istilah dapat disebut dengan connected governance.

Kerangka kerja yang dimaksud telah menjadi wacana wajib dalam sistem e-Government diberbagai negara yang disebut dengan Government Interoperability Framework (GIF). Tidak terkecuali Indonesia yang telah menyebutkannya dalam Cetak Biru e-Government Indonesia yang dikeluarkan oleh Kemkominfo RI. Namun demikian konsep GIF tersebut harus dapat digunakan tidak hanya dalam bentuk konsep tapi harus dalam bentuk yang sesungguhnya berupa platform. Sebuah platform yang memungkinkan sektor swasta ikut terlibat dalam menciptakan inovasi untuk layanan publik pemerintahan. Bagaimana bentuk platform tersebut akan dimuat dalam tulisan lebih lanjut.

Kategori:Gov 2.0
  1. nadalusi
    29 Oktober 2010 pukul 14:08

    memang susah mas, bagaimana merubah pola pikir teman2 kita di birokrasi, merubah jangan revolusi tapi yang evolusi, sedikit demi sedikit insya allah akan berubah.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: