Beranda > Tanggapan > Facebook Berbahaya?

Facebook Berbahaya?

Pengakuan Pak Nukman di Twitter

Mencuatnya kasus hilangnya Nova yang diduga diculik oleh teman Facebooknya menggiring ketakutan masyarakat yang tidak proposional akan Facebook. Jika kasus Nova digunakan sebagai acuan tentang bahaya Facebook maka saya khawatir akan terjadi kerancuan antara bahaya Social Media sebagai akibat dan sebagai sebab.

Nova hilang bukan disebabkan oleh fitur yang disediakan oleh Facebook tapi sebagai akibat dari penyalahgunaan  fitur tersebut. Pandangan yang berkembang sementara ini mengarah ke Facebook sebagai penyebab. Karena main Facebooklah maka Nova hilang.

Padahal bisa dilihat proses hilangnya setelah terjadi kesepakatan antara mereka berdua yang dikomunikasikan melalui berbagai media termasuk Facebook dan Handphone. Lalu kenapa ketakutan orang tidak ditujukan pada Handphone? Padahal dengan Handphonelah mereka berhubungan lebih erat.

Menurut ayahanda Nova, Heri Krisitiono, sehari sebelum Nova hilang, keluarga sempat memergoki Nova sedang asyik berkirim pesan dengan seorang pria yang baru dikenalnya di Facebook dan berdomisili di kawasan Tangerang.  Sumber: Detik.com

Logika yang dapat dipahami dari ketakutan itu adalah dengan Facebook anak anak kita akan dapat berhubungan dengan orang asing secara mudah dan terbuka. Itu benar. Namun itu bukanlah bentuk bahaya yang bisa dijadikan pembenaran atas ketakutan yang dialamatkan pada Facebook saja. Sebab bentuk bahaya yang sama juga terdapat pada dunia selain Facebook seperti pada kehidupan kita sehari hari di jalan raya, sekolah dan bahkan dirumah.

Adalah kewajiban orang tua untuk melindungi anak anaknya dengan baik dari berbagai macam ancaman dari luar. Jangan karena gagal melindungi lantas menudingkan kesalahan pada keadaan. Memang kita tak bisa sendiri, it takes a village to raise our children kata Hillary Clinton. Bagaimana cara melindungi yang baik yang seharusnya disosialisasikan oleh media dan bukan menyebarkan berita ketakutan yang tidak proposional.

Akibat dari ini bisa memicu dikeluarkannya aturan-aturan oleh institusi, kebijakan publik oleh pejabat dan bahkan fatwa-fatwa oleh orang yang mengaku ulama, yang melarang penggunaan Facebook. Mereka seharusnya membuat kebijakan berdasarkan data kwantitatif dari hasil penelitian yang komprehensif dan bukan data kwalitatif hasil observasi satu dua kasus oleh media pula.

Pandangan semacam ini akan memudarkan pandangan potensi penggunaan Facebook untuk tujuan yang positif. Masa yang akan datang adalah era Social Media dimana jika kita tidak siap menggunakannya maka akan tertinggal dari yang lain. Negeri ini sudah banyak tertinggal disana sini. Tapi ini tugas kita bersama. Untuk dapat memberikan usulan yang tepat harus berangkat dari data yang sahih tentang seberapa buruk cara anak anak sekolah itu menggunakan Facebook.

Dari sebuah penelitian diharapkan dapat merumuskan masalahnya, apakah masalahnya adalah cara penggunaan yang salah seperti pemuatan informasi yang sensitif maka langkah yang diambil adalah menginformasikan cara yang benar. Tapi jika masalahnya adalah penyalahgunaan maka langkah yang diambil lebih sistemik lagi (ini buzzword akhir akhir ini) seperti pengawasan yang lebih persuasif untuk dapat menciptakan kultur yang edukatif dalam penggunaan Facebook.

Adakah sekolah yang tertarik melibatkan para siswanya dalam penelitian tentang hal ini? Kalo ada mungkin gayung bersambut akan ada yang mau melakukan penelitiannya…

Kategori:Tanggapan Tag:
  1. 12 Februari 2010 pukul 2:46

    kesalahan logika yg mengurat akar, parah.
    lupakah mereka, bhw tnp facebook, sedari dulu udah ada kasus anak lari dari rumah dg kenalan yg dijumpai dr sms/telp nyasar. bahkan kenalan di bis aja bisa tertipu luar dalam. parahnya, media turut menyebarkan (dan memperkuat) kesalahan logika tersebut, cape deeee…

    kemaren sempet ‘debat’ dg ibu2 yg berpandangan salah kaprah spt di atas. mencoba meluruskan pandangan mereka, duh susah sekali. termasuk mengajak mereka utk tdk menghakimi peristiwa tersebut hanya dari satu sisi aja.

    solusinya? pelajaran filsafat sedari dini, terutama ttg logika berpikir yang benar😛😆

    • 12 Februari 2010 pukul 14:37

      bener med, kalo dengan ibu ibu mungkin filsafat logika sederhana (ada gak sih?), mungkin lebih kena dengan contoh praktis seperti yang medina gambarkan diatas: seorang gadis diculik setelah berkenalan dengan pria asing di bis, apakah bisnya yang salah? munngkin contoh contoh seperti itu ibu ibu akan lebih mudah ngertinya🙂

  2. 12 Februari 2010 pukul 18:36

    hmm, postingan yang menarik dan ini tentunya ibarat orang memang pisau yang bermata dua dalam menilai sebuah media.

    saya melihat trend netter Indonesia (terlebih ABG) sering menjadi sasaran dilematis dalam menggunakan teknologi (asal kata mereka telah menjadi alay), lebih dari itu kontrol sosial mereka dalam dunia maya juga tidak bisa dipertaruhkan begitu saja sehingga sebagian orang menganggap media online menjadi barang haram (walaupun haram sendiri banyak faktor pendukungnya, misalkan saja di Mesir yang telah memberlakukan hal ini).

    Semoga netter Indonesia dan elemen masyarakat lebih dewasa dalam menilai hal ini, berpulang lagi dalam penelitian dan saya pun jadi tertarik untuk hal semacam ini.🙂

    salam blogwalking mas Wibisono

  3. puti
    13 Februari 2010 pukul 0:03

    Facebook jadi masalah. gara-gara facebook, jadi timbul masalah seperti ‘Nova’, padahal sebelum ada facebook pun, yang seperti Nova banyak, hanya saja tidak ter ekpose seperti sekarang ini.

    Facebook itu hanya sebuah wadah, selain yang negatif, banyak juga yang positif nya kan, misalnya bertemu dengan teman2 lama, bertemu dengan saudara dan lain-lain.

    Kalo kata ku sih, facebooknya ga salah, yang salah itu orang nya, lantas facebook yang dijadikan kambing hitam…

  4. andri osati
    14 April 2010 pukul 14:10

    coba yang positifnya juga di expose …. seperti dengan facebook kita bisa berbagi pengalaman , menemukan kawan lama , bahkan orang hilang ….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: