Beranda > Kuliah > Perencanaan Strategis Sistem Informasi

Perencanaan Strategis Sistem Informasi

Berapa proyek TI yang berhasil diimplementasikan secara nasional? Berhasil dalam arti tepat waktu dan tepat budget. Belum ada penelitian tentang hal ini, tapi secara kasar sedikit sekali. Ketika sebuah proyek TI gagal maka yang terjadi adalah kerugian besar.

Banyak faktor kegagalan, salah satunya yang paling dominan adalah tidak adanya perencanaan yang baik. Perencanaan yang buruk niscaya menghasilkan implementasi yang buruk pula. Perencanaan yang baik belum tentu menghasilkan implementasi yang baik, tergantung bagaimana strategi yang sudah ada dalam perencanaan dilaksanakan.

Selain dari untuk menghindari kegagalan implementasi proyek TI juga lebih luas adalah untuk dapat mencapai tujuan organisasi secara lebih efisien dengan menggunakan TI yang baru tersebut.

Apa yang terjadi kebanyakan adalah proyek yang sudah selesai tidak dapat memberikan manfaat seperti yang diharapkan ketika melakukan perencanaan. Penyebab yang paling umum adalah TI yang dikembangkan tidak tepat-guna. Sehingga berbagai komponen dalam organisasi enggan atau bahkan tidak dapat menggunakannya.

Untuk dapat memiliki TI yang tepat-guna harus melalui tahapan perencanaan strategis sistem informasi. Karena peran TI sekarang sudah semakin mendasar, menjadi bagian terpadu pada setiap aktifitas organisasi dalam mencapai tujuan.

Sulit dibayangkan jika tukar menukar file tidak menggunakan jaringan komputer, masih menggunakan flashdisk saja atau bahkan CD. Sulit dibayangkan tidak bisa googling karena tidak ada akses internet di kantor. Semua itu dibutuhkan tiap tiap departemen dalam organisasi, tidak hanya bagian administrasi tapi juga bagian operasional dan keuangan.

Jika salah dalam menentukan pilihan TI maka hasilnya adalah pemborosan sumber daya yang bisa mengakibatkan kerugian investasi. Kondisi seperti inilah yang sekarang mendominasi keadaan sebagian besar organisasi di Indonesia, baik swasta maupun pemerintah.

Contoh sederhananya adalah salah dalam membeli perangkat lunak. Membeli perangkat lunak yang ternyata tidak kompatibel dengan versi yang sudah dimiliki sebelumnya. Ini kerap terjadi. Seorang sekretaris yang kerepotan karena tidak dapat membuka file MS Word versi 2007 dari atasannya karena MS Word miliknya masih versi 2003. Ini akan mengganggu operasional organisasi. Untuk itu perlu analisis sistem informasi internal untuk menjaga kompatibilitas.

Contoh lain adalah ketika memasang sambungan internet dari operator yang ternyata lebih mahal operasionalnya karena teknologi jaringan terbaru sudah diadopsi oleh pesaing operator yang dipilih tersebut sementara organisasi sudah kontrak penggunaan selama setahun. Untuk itu perlu analisis sistem informasi eksternal guna melihat trend teknologi.

Diagram Ward and Peppard

Berbagai macam metode analisis dapat digunakan untuk mendapatkan portofolio-portofilio usulan aplikasi yang tepat-guna. Salah menentukan strategi mengakibatkan kerugian investasi. Jika dalam lingkup organisasi sebesar pemerintah maka kerugiannya juga bisa sangat besar dan rakyatlah yang harus menanggung semua itu.

Semakin besar organisasi semakin rumit perencanaan yang harus dibuat karena melibatkan banyak pihak dan harus mencapai keselarasan (alignment) antara tujuan organisasi dan TI yang digunakan. Keselarasan ini dihasilkan dari analisis internal organisasi.

Analisis eksternal organisasi juga tidak kalah pentinganya untuk mencegah hambatan dari luar secara politis, misalnya kedekatan dengan vendor tertentu jangan sampai mempengaruhi keputusan pengunaan produk TI tertentu yang sebenarnya tidak sesusai dengan hasil rekomendasi analisis internal/eksternal sistem informasi.

Hasil dari analisis internal/eksternal ini adalah strategi dalam bentuk usulan portofolio aplikasi yang dijabarkan dalam Road Map kurun waktu 3 sampai 5 tahun. Dalam Road Map tersebut terdapat gap analisis antara aplikasi lama yang sudah ada sekarang dengan aplikasi yang akan diadakan dalam Road Map. Bagaimana cara mengadakannya juga diberi analisis, bisa dengan cara membangun sendiri, membeli atau outsource.

Perencanaan strategis yang baik akan menghasilkan strategi yang definitif dan aplikatif secara langkah demi langkah hingga tingkat paling bawah sekalipun. Tidak buram dan mengawang awang seperti sebuah ramalan akhir tahun. Seluruh stakeholder harus dapat melihat dan mengkaji perencanaan secara transparan. Jika itu proyek untuk kepentingan publik maka stakeholdernya adalah publik itu sendiri.

Menurut UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik: (1) Setiap Informasi Publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik. (2) Informasi Publik yang dikecualikan bersifat ketat dan terbatas. (3) Setiap Informasi Publik harus dapat diperoleh setiap Pemohon Informasi Publik dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan, dan cara sederhana.

Perencanaan strategis untuk sebuah organisasi itu mutlak adanya. Bagaimana membuat perencanaan strategis untuk organisasi sebesar pemerintah? Jawabnya adalah Dewan TIK Nasional yang akan saya tulis pada postingan selanjutnya…

  1. 2 Juli 2010 pukul 15:44

    saya rasa implementasi IT akan berjalan dengan baik bila ada kesamaan sinergi dengan strategi dan tujuan utama perusahaan. metode yang dianggap paling efisien saat ini adalah dengan outsource

  2. 5 Juli 2010 pukul 16:32

    tukeran link bro

  3. suharsono
    6 Juli 2010 pukul 20:18

    Semua cetak biru dapat saya paparkan, terbatas khusus yang memahami. Untuk yang bersedia mendapat bisikan tentang rencana yang saya bisikkan saat ini, perlu diskusi secara pribadi non formal datang ke Magelang dengan memposisikan ilmu pengetahuan udara dan frekuensi diatas segala kepentingan sebelum menjilma menjadi teknologi terapan yang paling pas untuk NKRI.

    Semua konsepku, karena belajar dari pengalaman, tidak terlihat ada kecacatan dan saling menguntungkan semua pihak maupun stake holder telekomunikasi nasinal yang sudah ada.

  4. 12 Juli 2010 pukul 15:21

    Menurut pendapat saya, outsourcing sistem informasi banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang sudah cukup mapan dan memiliki skala yang cukup besar. Jika saya boleh mengajukan pertanyaan, bagaimana tanggapan Anda mengenai usaha mikro yang saat ini justru paling banyak di Indonesia, apakah outsourcing sistem informasi ini dapat dilakukan dan bagaimana implementasinya? Terima kasih.

  5. 12 Juli 2010 pukul 16:47

    Penjelasan Anda mengenai topik ini cukup menarik, dan saya sangat menyukai hal tersebut.

  6. 20 Juli 2010 pukul 19:10

    Cukup menarik dan informatif, bagi yang ingin belajar SI dadri tahap awal artikel ini sangat bermanfaat. Pengalaman saya SI outsourcing sering lebih lebih cepat dan efisien dibandingkan men-develop program sendiri. Thank Sob.

  7. 30 Juli 2010 pukul 11:46

    Faktor yang harus diperhatikan dalam perencanaan SI ini adalah kemampuan yang harus dimiliki pelaksana sistem informasi sebagai end-user. Jangan sampai program sudah bagus, tapi karena user tidak bisa pakai, akhirnya SI tersebut menjadi sia-sia..

  8. 30 Juli 2010 pukul 15:09

    sangat menarik sekali….
    terima kasih

  9. M Fahri Howel
    1 Agustus 2010 pukul 4:01

    sayang sekali ya di Indonesia ini database sangat lemah, jadi walaupun teori bagus tapi kita belum tau seberapa banyak metode2 tersebut sukses di Indonesia dan sudah seberapa banyak yang menerapakannya sistem informasi secara baik baik outsourcing maupun insourcing

  10. johan
    2 Agustus 2010 pukul 14:53

    Perencanaan strategis untuk sebuah proyek itu mutlak adanya. dan peran pemerintah sangat di butuhkan dalam membatu pengembangan-pengembangan tersebut.

  11. 4 Agustus 2010 pukul 15:57

    Outsorcing memang akan efisien dan efektif namun dalam pelaksanaannya harus benar2 dievaluasi bonafiditas perusahaannya. Pemilihan perusahaan outsourcing dalam pengalaman saya jangan terkait grup yang mempunyai usaha yang sama dengan kita. karena siapa yang menjamin data base kita tidak bocor ke grupnya. tks.

  12. 5 Agustus 2010 pukul 17:51

    Strategi Perencanan IT bertujuan pada proses efisien dan efektif namun dalam pelaksanaannya harus benar- benar dilakukan secara tahap demi tahap, sesuai dengan perkembangan perusahaannya. Dari pengalaman saya terkait grup yang mempunyai usaha yang sama, maka strategi harus bermuara pada kajian yang komperhensif, sehingga berhasil guna pada simpul yang satu.. tks.

  1. 9 Januari 2010 pukul 19:20
  2. 30 Juli 2010 pukul 15:17
  3. 3 Agustus 2010 pukul 13:18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: