Beranda > Reportase > Nawala Project

Nawala Project

Setahun yang lalu postingan saya dengan judul “Pentingnya Pengendalian Situs Porno” berisi analisis tentang situs porno, perilaku penikmatnya dan dampaknya. Dalam tulisan tersebut lebih banyak dibahas “What” dan “Why” tapi belum banyak dibahas “How”.

Nawala Project

Komentar masuk yang sudah membahas “How” adalah komentar dari Harry Sufehmi yang dikemudian hari merekrut saya untuk proyek SERIS. Sebuah proyek yang juga mengandung misi layanan publik. Berikut saya kutipkan usulan Harry:

Jadi kesimpulan Anda sendiri bagaimana, apa solusi untuk pornografi ini ?

Usulan saya sendiri ke Depkominfo adalah dengan membuat “social blacklist”, yaitu :

  1. Daftar URL pornografi yang di blacklist
  2. Di hosting oleh Depkominfo
  3. Masyarakat bisa menyumbang URL untuk kemudian di review untuk dimasukkan ke blacklist
  4. blacklist tersebut kemudian bebas untuk dimanfaatkan oleh institusi / anggota masyarakat yang membutuhkan

Contoh riil nya mungkin seperti blacklist untuk proxy.
Pihak-pihak yang memerlukan kemudian cukup mensetting proxy server mereka untuk menggunakan blacklist ini — dan kemudian tidak ada lagi yang perlu mereka lakukan. Semuanya kemudian berjalan otomatis.

Jadi, sifatnya bukan mandatory bagi umum. Tapi beberapa institusi mungkin bisa mewajibkan untuk menggunakannya – misal: BUMN, sekolah negeri, warnet, dst

Secara realistis, blokir 100% content pornografi adalah hal yang mustahil. Secara prinsip, saya pribadi pro freedom of speech, jadi perlu keterbukaan dalam skema blacklist ini agar tidak disalah gunakan untuk memberangus freedom of speech.
Hanya untuk content pornografi, hate speech, dan pelanggaran hukum lainnya.

Sekaligus salam kenal, senang akhirnya bisa bertemu dengan anda hari ini🙂
Keep on blogging !

Jawaban saya adalah:

Saya pernah mengusulkan sebuah konsep tentang filtering di milis teknologia tapi sayang tidak mendapat tanggapan.

Beriku kutipannya dari milis itu:

Bagaimana mereka melakukannya jadi penting, agar tidak sewenang wenang.

Menurut saya keputusan sebuah halaman web bisa masuk daftar blokir tak boleh diserahkan sepenuhnya pada satu pihak, mesti ada unsur berbagai pihak bila perlu bisa dipakai sistem voting.

Jadi URL kandidat blokir di vote oleh approval comitte yang terdiri dari banyak unsur sebab ukuran porn bisa berbeda beda. Kalau sudah di
voting jadi keputusan bersama. Sekarang tinggal bagaimana menyusun konfigurasi approval comitte dan aplikasi yang bisa mengakomodasi
kerja mereka nanti.

Pemblokiranpun bertingkat dari top level domain, sub-domain, direktori, sampai pada halaman dan querystring.

Dalam melakukan voting ada semacam kaidah teknis yang mesti diikuti. Misalnya untuk bisa memblokir sebuah situs dari top domain utuh mesti ada deklarasi resmi dari situs tersebut bahwa itu memang situs porno, seperti playboy, imagefap, dan lain lain. Bisa dipikirkan kaidah
kaidah lain untuk tingkat selanjutnya.

Kemudian publik juga harus bisa mengontrol aktifitas itu dan juga harus dibuka ruang untuk restore kalau kalau ada pihak yang merasa ada
kesalahan dalam melakukan pemblokiran.

Intinya transparansi kerja, sebab kalau tidak nanti jadi semena mena dan seperti kekhawatiran Enda bisa jadi kenyataan.

Ide tersebut tidak mendapat tanggapan saya maklum karena sebuah konsep baru akan menarik kalau dibaca oleh orang yang memiliki perspektif yang sama.

Ide yang sama pernah dikeluarkan oleh Pak Budi Rahardjo dengan nama “Proxy Sehat”, tapi hanya untuk anak anak.

Yang menjadi problem bagaimana mewajibkan proxy bagi instansi tertentu, kalau instansi pemerintah mungkin bisa tapi kalau warnet?

Itulah pertama kali kami berinteraksi di Blog. Setelah diskusi itu saya hanya bisa membayangkan dalam pikiran bagaimana sekiranya aplikasi front-end filtering itu. Hanya front-end karena back-end adalah kerjaan orang network.

Bersama Pak Made dan Pak Bill

Kebetulan sekali Bill Fridini seorang teman lama yang sekarang sedang menjadi pengurus di AWARI (Asosiasi Warung Internet Indonesia) merekrut saya untuk terlibat dalam proyek pengembangan DSN Filter bernama Nawala Project.

Walaupun DNS filtering belum menjawab semua kebutuhan diatas tapi setidaknya ada yang bisa dilakukan dan tidak diam saja. Idealnya memang menggunakan proxy untuk bisa blokir hingga tingkat URL. Tapi itu perlu resources yang sangat besar dan kebijakan yang memayunginya dari pemerintah untuk memberlakukan proxy tersebut secara transparant ke para ISP.

Ketika diberikan kepada saya hanya tersedia waktu kurang lebih 2 mingguan untuk menyelesaikan front-end aplikasi ini. Stakeholder Request (STRQ) dari proyek antara lain:

  1. Submit URL (form untuk mensubmit domain oleh masyarakat)
  2. Refute URL (form untuk memprotes domain yang diblok oleh masyarakat)
  3. Check Domain (untuk check apakah sebuah domain di blokir atau tidak)
  4. Block Approval (persetujuan pemblokiran dari domain yang disubmit)
  5. Refute Approval (persetujuan pembatalan pemblokiran domain yang diblokir)
  6. Membership (untuk para staff yang akan mengoperasikan aplikasi ini)

Berikut adalah sekilas tentang Nawala Project:

MOU

Konseptor, inisiator dan developer Nawala Project adalah Asosiasi Warung Internet Indonesia (AWARI) yang didukung oleh komunitas non Warnet di milis dns-awari@googlegroups.com dan sejumlah komunitas keamanan Internet.

Policy black list ditentukan forum diskusi komunitas secara demokratis diantarapara evaluator dengan memperhatikan etika, independensi serta integritas. Sistem yang digunakan oleh Nawala Project sepenuhnya menggunakan sumber daya open source dan berjalan di atas sistem operasi Linux secara native.

Saat ini sedang dibangun portal yang nantinya dapat diakses publik untuk mengenal Nawala Project, mengikuti perkembangan dan berpartisipasi aktif di dalamnya. Sejumlah kemampuan tambahan seperti local resolver, anti phising site terus dikembangkan dan diperkuat.

Pada saat ini, Nawala Project masih dalam versi Beta namun telah memiliki koleksi black list hingga lebih dari 8 (delapan) juta alamat URL/URI yang setiap hari dilakukan update secara manual oleh volunteer dari seluruh Indonesia.

Nawala Project kini telah dimanfaatkan oleh ribuan Warung Internet di seluruh Indonesia, jaringan Internet di 21 Pemda Kota/Kabupaten Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, ISP di daerah, RT/RW Net, kantor Pemerintah dan swasta, sekolah dan atau kampus serta para pengguna perorangan dan keluarga.

Menkominfo

Tanggal 17 November yang lalu proyek ini sudah dibuka oleh Menkominfo di gedung Pasopati Telkom. Dalam kesempatan itu ditandatangani pula kesepakatan bersama antara AWARI dan Telkom.

Ketua AWARI Irwin Day

Ketua AWARI saat ini Irwin Day, ketika acara pembukaan mengatakan dibangunnya DNS filter sendiri karena karakteristik kebutuhan pengguna di Indonesia berbeda dengan pengguna OpenDNS di luar negeri. Kita bisa membuat kriteria sendiri dengan ukuran kita sendiri dengan proses administrasi yang lebih cepat ketimbang melalui OpenDNS.

Aplikasi ini nanti akan dikembangkan terus sesuai tuntutan kebutuhan. Saat sekarang saja sebenarnya masih banyak fitur fitur front-end yang dibutuhkan namun belum sempat dikembangkan seperti misalnya fitur untuk voting domain dimana dimungkin komunitas para pengguna tidak saja mensubmit domain yang ingin dikeluarkan dari daftar blokir tapi juga melakukan voting pada domain yang sudah pernah di submit sebelumnya.

Dengan berdasarkan mekanisme voting tersebut akan mempermudah pengambilan keputusan pemblokiran atau sebaliknya. Pelan pelan fitur akan terus diperbaiki dan ditambah demi menyempurnakan aplikasi untuk bisa memberikan layanan terbaik yang bisa diberikan.

Kategori:Reportase
  1. 27 Januari 2010 pukul 3:41

    memang harus di sosialisasikan…..
    namun, kembali lagi ke individunya.
    saran saya, benahin dulu individunya.

    thanks

  2. Sugeng Edi Srihono
    2 September 2010 pukul 18:42

    Bagus sih…. Tapi… LAPAK SAYA YANG DI FORUM JADI GAK BISA DIBUKA KARENA FORUMNYA MASUK KE DALAM LIST BLOKIR NAWALA!!!!! Brengsek…. Jualan di pinggir jalan digusur, jualan online ditutup!!!! Blokirnya ke room aja nape, JANGAN SELURUH SITUS DIBLOKIR.

    Jadi bernostalgia jamannya kejadian FILM FITNA dulu…

    Selama SISTEM FILTERNYA CUMA “MAEN TEMBAK” AJA, SAYA TETAP MELAKNAT NAWALA PROJECT!!!!

  3. oegank
    3 September 2010 pukul 17:09

    mas, koq komen ku dihapus ya??? Tersinggung ogud melaknat Nawala Project??? Habis Nawala maen blokir sembarangan, jangan MAIN URL-nya yang disensor dung, tapi LINK-LINK TERTENTU SAJA dari url tersebut yang diblokir KALO WEB TERSEBUT TIDAK SELURUHNYA BERISI KONTEN NEGATIF!!!

    Maaf, apa Menkominfo dikelilingi oleh ADMIN MODEL WARNET yang SENENGANNYA GAK MO SUSAH, SENENG YANG INSTANT??? Pasang software trus TIDURAN sambil FACEBOOKAN, CHATTING to MAEN GAME, sementara USERNYA DIBIARIN TERIAK-TERIAK SENDIRIAN GAK DIPEDULIIN????

    Blog saya:

    http://oegank.wordpress.com/

    Saya sharing tulisan-tulisan di dalam blog tersebut dari forum komunitas yang saya ikuti yang telah diblokir oleh Nawala. Di dalamnya saya serta pula link ke posting n username-nya.

    MOHON DITINJAU LAGI SISTEM BLOKIR DNS NAWALA. JANGAN BLOKIR MAIN URL, tapi KE KONTEN-NYA SAJA, bukankah TUJUANNYA ADALAH KONTENNYA SAJA BUKAN WEBSITE-NYA???!!!

    Terimakasih telah mau mendengarkan masukan dari saya dan SAYA HARAP TIDAK DIHAPUS LAGI!

    xXx

  4. 12 Oktober 2010 pukul 15:41

    speedy tai anjing lah gangguan wae teu bisa nengan duit seperti kura kura lelet lebihlelet darikeong lebih hina dari seekor babi

  5. nawala bapuk
    19 Juli 2011 pukul 22:55

    pake dns google nawala project terhindar :p

  6. adi
    6 Oktober 2011 pukul 3:38

    nawala buset……….. semua situs yang bagus di blok nya juga……. kapan ne bisa kita bisa nyotoh perkembangan situs luar negri…….. kata mau jadi negara maju malah buat tambah gk maju……

  7. 7 Mei 2012 pukul 0:08

    irwin day sok suci…masak semua diblokir…puqi_orang ini, irwin day dkk mmg brenksekx…

  1. 6 Januari 2010 pukul 1:42
  2. 11 Agustus 2010 pukul 2:43

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: