Beranda > Reportase > SERIS Behind The Scene

SERIS Behind The Scene

Rooftop Plangi

Rooftop Plangi

Pada saat Harry Sufehmi menghubungi saya lewat telephone untuk bergabung dalam tim pengembang SERIS, itu terjadi satu bulan sebelum hari H pilpres. Harry menceritakan konsep SERIS bersama Riyogarta di Rooftop Plaza Semanggi.

Ketertarikan yang paling utama adalah ingin membuktikan bahwa TI bisa memberikan solusi dan bukan menjadi masalah seperti pileg tempo hari.

KPU, IFES and Me

IFES

Satu hal yang saya tanyakan kepada Riyo sebagai orang IFES adalah apakah nanti ada interfensi dari IFES kepada kami tim pengembang SERIS. Riyo menjamin itu tidak akan terjadi. Tapi IFES juga minta kami untuk tidak membocorkan proyek ini ke publik selama proses pengembangan karena aspek politik dalam proyek ini sangat kuat.

Pengalaman IFES membantu demokrasi beberapa negara berkembang mengatakan proyek ini sangat riskan. Rata rata negara berkembang membatalkan proyek pada saat saat akhir, dan alasan mereka adalah karena penghitungan suara melalui SMS terlalu transparan. Bahkan ada negara yang hasil pilpresnya sudah diketahui sehari sebelum pemilihan. Parah.

Saya tidak mau Indonesia seperti itu, oleh karena itu ketika KPU membuka pintu masuk proyek ini melalui IFES saya tidak pikir dua kali. Kesempatan ini harus diambil dan dikerjakan dengan sebaik mungkin. Kami bergerak cepat, siang malam melakukan coding, testing, listening, dan designing dengan metodologi extreme programming. Berbagai macam kendala kami temui yang akan saya ceritakan disela sela pemaparan saya.

Pada tulisan ini saya ingin memaparkan proses kerja dari SERIS pada tingkat konsep. Bisa dilihat dari diagram dibawah ini. Ada empat aktor dalam lima tahap proses. Aktor tersebut adalah KPPS, SERIS, Telkomsel dan KPU. Masing masing aktor ini harus mampu berkerja sama dan berusaha maksimal untuk mendapatkan hasil akhir yang optimal.

Diagram SERIS

Diagram SERIS

ZONA 1

Pada tahap awal di ZONA 1 ada dua aktor yang berperan: SERIS dan KPU. SERIS akan men-generate keycode untuk di sebar ke seluruh KPPS guna kepentingan proses registrasi. Keycode dibutuhkan untuk mengenali wilayah dan nomor TPS mereka. Dalam keycode ada informasi wilayah kabupaten. Idealnya dalam keycode sudah terkandung informasi hingga tingkat kelurahan tapi KPU tidak memiliki data tentang sebaran jumlah TPS di tingkat kelurahan. KPU hanya memiliki data jumlah TPS pada tingkat kabupaten.

Memperkenalan SERIS pada KPPS

Memperkenalan SERIS pada KPPS

Keberhasilan ditahap awal akan sangat mempengaruhi keberhasilan ditahap selanjutnya. Dampaknya adalah KPPS diminta memasukkan kode kecamatan dan kode kelurahan dari daftar kode pada sistem SITUNG yang dibuat oleh tim ahli KPU dari BPPT. Kode tersebut telah digunakan oleh KPPS pada sistem ICR di pileg kemarin.

Kode keycode diberikan kepada KPU untuk disebar keseluruh KPPS. Proses penyebaran dibantu helpdesk tim ahli TI KPU. Idealnya keycode disebar bersamaan dengan surat edaran yang berisi keputusan KPU sebagai dasar hukum pelaporan suara pilpres lewat SMS agar KPPS tidak ragu ragu dalam melakukan registrasi nomor handphone mereka. Tapi entah kenapa surat edaran tidak bersamaan. Hingga kini saya tidak tahu pasti apakah surat edaran KPU benar benar di sebar ke daerah atau tidak.

Bagi pembaca blog ini yang kebetulan anggota KPPS mungkin bisa klarifikasi apakah ada surat edaran dari KPU untuk penggunaan SMS pilpres. Surat itu menjadi sangat penting sebab ada laporan KPPS yang sudah menerima keycode tapi ragu melakukan registrasi karena tidak ada surat edaran.

SERIS sudah men-generate 450 ribuan keycode yang sudah dialokasikan per-kabupaten. Kami berharap keycode segera sampai dan KPPS segera melakukan registrasi. SERIS dan Telkomsel telah menyusun rencana uji coba secara menyeluruh, tapi hingga H-2 KPPS yang mendaftar sangat minim.

ZONA 2

Tahap registrasi sungguh terasa lambat. Tiga hari setelah keycode disebar, KPPS yang melakukan registrasi hanya ribuan KPPS dari total 450 ribuan. Ini membuat kami pesimis sistem ini bisa jalan. Disinilah pentingnya surat edaran.

Sebenarnya proses registrasi sudah pernah kami coba menggunakan aplikasi web yang dijalankan di atas VPN milik KPU yang jaringannya mencapai tingkat kabupaten. Tapi ini juga sangat lambat karena hanya beberapa kabupaten yang entry data Handphone KPPS. Saya pribadi sebenarnya berharap pada metode entry lewat aplikasi web ini sebab data yang didapat akan lebih rapi dan lebih mudah dikelola.

Tapi cara ini akan lebih membutuhkan peran aktif KPUD dalam mengumpulkan nomor HP dan informasi lainnya. Dikejar tenggat waktu akhirnya dengan berat hati cara ini ditinggalkan dan menggunakan cara registrasi menyebarkan lembaran printout keycode secara fisik kedaerah yang hasilnya juga tidak optimal.

Hal yang membuat saya geleng geleng kepala adalah ada usaha nomor HP KPPS di catat dalam bentuk kertas dan kemudian diserahkan ke kami untuk di entry. Masih mending kalau nomor HP itu dilengkapi dengan informasi yang dibutuhkan seperti Kecamatan, Kelurahan, nomor TPS dan jumlah DPT. Tapi ini hanya nomor HP. Ada ribuan nomor HP yang tidak semuanya Telkomsel itu mesti dimasukan ke database dari catatan kertas. Kami hanya bertujuh dan masing masing sudah punya tugasnya sendiri sendiri. Jelas tidak mungkin kami lakukan dengan cara manual begitu.

Kunci sukses registrasi adalah KPPS harus mendapatkan nomor keycode. Jika nomor keycode tidak didapat maka registrasi tidak dapat dilakukan. Bagi KPPS yang sudah mendapatkan keycode diharapkan segera mendaftar pada nomor ADN Telkomsel 8866. Setelah nomor kami dapatkan akan dibuatkan whitelist daftar nomor HP untuk Telkomsel melakukan broadcast nomor ADN pengiriman rekap 8822.

Kalau diperhatikan posisi Validasi yang berada sebagian di kolom SERIS dan sebagian di kolom Telkomsel, itu karena sebagian Validasi dilakukan oleh Telkomsel dan sebagian oleh SERIS.

Pada malam H-1 registrasi mengalir deras dari berbagai propinsi. Tapi kami tidak habis pikir bagaimana mungkin ada propinsi yang tidak melakukan registrasi satu TPS pun. Kalau jaringan Telkomsel tidak berfungsi di suatu wilayah terpencil tertentu mungkin masih masuk akal, tapi untuk satu propinsi itu tidak mungkin. Jadi kemungkinan mereka tidak mendapat keycode. Apa yang sebenarnya terjadi saya tidak tahu.

Kebanyakan dari propinsi itu dari wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur. Mungkin karena wilayah timur itu sulit transportasinya ke daerah daerah. Tolong jika ada info apakah KPPS menerima keycode dan surat edaran mungkin bisa diberi masukan disini.

ZONA 3

Menjelang hari H kami semakin panik karena proses registrasi sangat lamban. Berbagai cara kami pikirkan untuk memberitahu para KPPS di daerah untuk memperoleh keycode mereka. Pernah terpikirkan kami memanfaatkan jaringan komunitas blogger untuk sosialiasi penggunaan keycode ini.

Tapi kami terbentur oleh komitmen untuk tidak membocorkan identitas kami dan proyek SERIS ini sebelum hari H. Lebih ekstrim lagi pernah terpikirkan untuk melakukannya lewat iklan ditelevisi tapi tidak disetujui. Jika saja kami diijinkan menggunakan jaringan komunitas blogger, milis dan forum diskusi maka hasilnya akan berbeda.

Menurut rencana proses registrasi ditutup pada H-1 tapi itu tidak mungkin melihat jumlah TPS yang mendaftar sangat minim. Akhirnya proses registrasi diperpanjang menjadi pada hari H jam 10 pagi. Sejak malam hingga pagi itu aliran registrasi sangat deras.

Sebenarnya kami lebih suka jika registrasi pelan pelan dan bertahap supaya tidak terjadi bottleneck dan beban server yang berat. Tapi apa daya keadaan memaksa kami harus menghadapi situasi seperti ini. Untung saja kami punya arsitektur jaringan yang bagus dan sysadmin yang handal sehingga system SERIS ini tetap mampu menerima aliran data registrasi yang hanya dalam hitungan jam menerima 104 ribuan TPS.

Terimakasih buat Telkomsel yang telah bekerja sama dengan sangat baik mengalirkan data dari SMS center mereka ke server kami dengan lancar. Setelah registrasi ditutup kami mendapatkan whitelist. Semula dengan whitelist tersebut SERIS akan melakukan broadcast nomor ADN Telkomsel untuk pengiriman rekap pilpres melalui API Telkomsel tapi kemudian Telkomsel berbaik hati mengirimkan broadcast tersebut langsung melalui server mereka.

ZONA 4

Jika ada masukan dari pembaca blog ini yang anggota KPPS, tolong diinformasikan jam berapa anda menerima broadcast nomor ADN pengiriman rekap 8822. Pengiriman rekap pertama yang masuk ke server SERIS dari SMS Center Telkomsel adalah sekitar jam 2 siang. Sebenarnya kami sangat antusias menunggu hasil dan menayangkannya langsung ke masyarakat secara real time. Kami telah mempersiapkan arsitektur jaringan untuk kepentingan ini.

Semakin sore aliran data rekap pilpres semakin banyak tapi keputusan apakah kami boleh menayangkannya belum kunjung diputuskan. Jangankan itu, domain name yang akan dipakaipun belum ada keputusannya. Apakah SERIS akan menggunakan domain tnp.kpu.go.id atau akan menggunakan domain lain, tidak jelas.

Tim ahli TI KPU

Tim ahli TI KPU

Data yang masuk melampaui angka 104 ribu karena kami memberikan fasilitas ralat bagi para KPPS yang salah dalam mengirimkan rekap pilpres. Hingga malam tiba, menjelang pukul 12 malam kami dikunjungi oleh Pak Abdul Aziz, salah satu anggota KPU yang mengatakan bahwa data hasil SERIS ini tak dapat ditayangkan oleh kami sendiri karena menyandang nama IFES, LSM asing, ini akan mengundang kontrovesi dimasyarakat. Keputusannya adalah data hasil SERIS harus diberikan kepada tim ahli TI KPU untuk ditayangkan dengan cara mereka. Format data yang diminta adalah CSV.

ZONA 5

Sebagai kompensasinya kami diperbolehkan memberikan kredit pada halaman penayangan tersebut. Text kredit yang kami usulkan adalah OpenSource dan telah disetujui tapi hingga data kami berikan dan ditayangkan kata kredit OpenSource tersebut tak pernah dicantumkan. Bahkan yang dicantumkan adalah IFES yang justru lebih mengundang kontroversi.

Penayangan data hasil SERIS ditayangan seperti yang ada di tnp.kpu.go.id. Kedalaman data pada halaman tersebut hanya sampai tingkat kecamatan. Padahal interface yang kami siapkan bisa melihat hingga tingkat TPS. Kami bahkan dapat memperlihatkan hingga data ralat supaya masyarakat bisa tahu TPS mana yang melakukan ralat.

Kemudian dari seluruh TPS yang mengirimkan rekap suara didapat komposisi seperti sekarang. Komposisi tersebut memiliki proporsi prosentase yang seharusnya mendampingi penayangan data rekap suara. Tanpa proporsi prosentase masyarakat bisa mispersepsi dengan data tersebut. Seperti misalnya data yang ditampilkan adalah hanya 104 ribu dari 450 ribu TPS. Interface yang kami rancang sebenarnya dapat menampilkan informasi tersebut.

Kemudian sebaran di masing masing propinsi juga memiliki prosentase yang berbeda beda. Data prosentase tersebut harus ditampilkan bersama data rekap. Tanpa itu masyakarat yang melihat bisa mispersepsi dan mengundang kontroversi. Banyak data yang bisa kami tampilkan tapi karena alasan politik itu tak bisa dilakukan. Sayang sekali. Hasilnya adalah ada pihak pihak yang merasa curiga dan kecewa dengan hasil SERIS.

Kesimpulan

Menjalani proses proyek SERIS ini membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa kendala terbesar dalam proyek ini adalah kendala non-teknis. Dari sisi teknis semua teknologi yang digunakan bukan lagi hal baru dan sudah relatif matang. Mulai dari OpenSource, SMS dan jaringan Telkomsel. Mereka semua sudah teruji.

Saya berharap dimasa yang akan datang pengembangan proyek semacam ini harus didukung penuh oleh semua pihak. Terus terang saya merasa sedih. Kalau SERIS ini mau dianggap progres. Indonesia yang diwakili KPU dengan dana yang begitu besar tapi progres dibidang sistem berdemokrasi tidak disponsori dari sumber daya sendiri tapi malah disponsori oleh lembaga asing dengan dana minim. Ironis bangsa ini.

Pertemuan dengan Pak Aziz (baju biru)

Pertemuan dengan Pak Aziz (baju biru)

Saya kok tidak terlalu setuju melimpahkan semua kesalahan pada KPU. Bisa jadi ini kesalahan kita semua. Gambaran ini saya dapatkan ketika berbincang dengan anggota KPU Pak Abdul Aziz. Pak Aziz adalah anggota KPU yang memberikan jalan masuk pada kami melalui IFES untuk mengembangkan SERIS. Dimata beliau teknologi OpenSource harus diberi kesempatan.

Saya memberi masukan pada beliau: kalau program program KPU mau diendorse oleh masyarakat maka sebaiknya KPU mempublish semua kegiatan proyeknya agar masyarakat dapat melihat progres dari proyek tersebut. Seperti misalnya soal DPT. Seandainya progres DPT dapat dipantau oleh masyarakat maka data dapat dengan mudah dikoreksi dan diverifikasi bila ada kesalahan. Pak Aziz mengaku data tersebut tak pernah ditutup. Tapi mungkin kesulitannya adalah bagaimana cara membukannya pada masyarakat.

Bagi kami orang OpenSource hal tersebut mungkin tidak terlalu sulit. Tapi bagi KPU yang tidak memiliki sumber daya TI adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Saya sedih melihat kenyataan ini. Disatu sisi kita mampu tapi dilain sisi tidak mendapat kesempatan untuk membantu yang butuh seperti KPU.

Sekalinya dapat kesempatan seperti sekarang, menggunakan kendaraan IFES yang membuat masyarakat curiga akan niat baiknya. Padahal tanpa IFES program SERIS ini tak akan berjalan. IFES adalah LSM asing yang sudah terdaftar di BAPENAS dan telah memiliki MOU dengan KPU. Meskipun IFES adalah LSM Asing, namun pekerjanya mayoritas adalah anak bangsa. SERIS sendiri dibuat oleh 100% tenaga kerja lokal tanpa campur tangan asing. Melihat potensi transparansi dari sistem SERIS ini untuk demokrasi dan KPU melalui Pak Aziz memberi jalan sekaligus memastikan hasil tabulasi SMS ini bisa tayang adalah sebuah prestasi menurut saya.

Ini adalah cikal bakal menuju demokrasi transparan yang tidak boleh dibunuh seperti dinegara negara berkembang lain. Masih banyak yang ingin saya sampaikan tapi tulisan saya sudah terlalu panjang, sambung lain waktu…

KPU khususnya Pak Aziz program ini tak terwujud.
Kategori:Reportase
  1. 11 Juli 2009 pukul 1:54

    om, itu ada keterlibatan IFES dan dampak riskannya, mohon di hapus, walaupun maksudnya baik, tapi anda tahu, jika sudah jadi permainan politik akan lain ceritanya

  2. Anonim
    11 Juli 2009 pukul 8:55

    BTW, itu foto tim ahli TI KPU bagus juga🙂

  3. 11 Juli 2009 pukul 14:19

    yah, namanya juga politik
    ribet karepe dewe mereka itu,
    harapan sih ini bukan “tren sesaat”, bisa dilanjutkan developmentnya utk hal2 mendatang, entah utk pilgub atau pemilihan rt sekalipun😛

    selamat buat tim SERIS

  4. 12 Juli 2009 pukul 3:55

    Saya ndak tau informasi saya ini bermanfaat atau tidak, tapi malam hari ketika saya ikutan bantu-bantu merapikan TPS (karena kebetulan rumah jadi TPS) — TPS XXVI, Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta — saya melihat ketua KPPS melakukan registrasi dan lancar jaya.

    Saya salut juga ketika melihat itu, dengan begitu pastinya data lebih cepat dikirimkan. Membaca cerita dalam blog ini, satu kata… SALUT!

  5. 14 Juli 2009 pukul 17:36

    @bimosetyo: mohon maaf saya gak pernah menghapus apa yang sudah dipublish

    @nuri: terima kasih atas doanya mas🙂

    @Thamas Arie: terimakasih atas masukkannya, sangat berarti buat kami

  6. 15 Juli 2009 pukul 1:33

    Ijin Copas Yak. Punya Pak harry sama punya riyo udah gw bajak di Blog gw Yak. Kekekekekekekekekek.. Gantian, jadi Pas ada 3 part. Oke.😀

    Tengkyuuuu

  7. wongiseng
    15 Juli 2009 pukul 6:02

    Salut, bener-bener extreme programming ini sepertinya, dalam sebulan jadi sistem yang reliable. Tahun 1999 dulu denger curhat teman-teman yg terlibat di SICACAH memang kendalanya kurang lebih sama, masalah non-teknis.

    Moga-moga ngga terulang terus masalah yang sama lima tahun lagi.

  8. 15 Juli 2009 pukul 8:27

    Karena disebutkan ada kendala non-teknis yang besar, mungkin ada baiknya sistem ini terus dicoba dalam pilkada2 yang akan datang. Lingkupnya kan lebih kecil. Sekalian sosialisasi pada masyarakat.

    Salut!

  9. B.Mahendra
    16 Juli 2009 pukul 7:48

    Buat pak Wibisono……
    pertama selamat pak atas suksesnya sistem anda yang secara teknis bisa saya ambil kesimpulan Berhasil dengan sangat memuaskan walau mempunyai kendala dalam waktu pengerjaan yang sangat mepet…..

    bravo untuk anda dan team anda…..

    kemudian saya lebih tertarik dari sisi project managementnya…..anda sempat menyinggung bahwa pengerjaan proyek ini menggunakan methode extreme programming yang notabenenya adalah bagian dari Agile Methodology. Kebetulan saya sedang melakukan riset tentang Agile Methodology sebagai methodology yang paling tepat untuk proyek IT yang melibatkan banyak stakeholder dan dibatasi oleh resource (waktu ataupun SDM) tetapi membutuhkan kualitas yang optimal, seperti aplikasi SERIS yang anda kembangkan. adakah catatan2 tentang project management yang diterapkan dalam pengembangan aplikasi ini? jika ada..bisa minta tolong di share atau kirim ke email saya…..

    terimakasih

  10. Huzz
    16 Juli 2009 pukul 17:04

    Bagaimana klo source-code SERIS disimpan di google-code/sourceforge/git gitu?

    Siapa tau berguna (jadi standar aplikasi) buat pilkada atau pil* pil* lainnya

  11. Andy Utomo
    18 Juli 2009 pukul 0:56

    Memang Sistem IT selalu jadi kambing hitam, padahal sebagian besar keberhasilan sistem adalah dari birokrasi, dan konsistensi dari para pemegang keputusan… salut buat tim IT KPU yang berhasl membuat sistem dengan deadline yang sangat singkat.
    Note : Ijin share di facebook ya

  12. 19 Juli 2009 pukul 11:45

    jer basuki mawa bea kata orang jawa, tunggulah sampai peruntungan perang berbalik kepada dirimu , kata alexander tatkala harus menghadapi pasukan persia yang berlipat lipat kali besar tentaranya .
    saya fikir apapun masalah besarnya, maka faktor nonteknis adalah iceberg phenomen.
    aneh kalau tidak ada, apalagi jika menyangkut harta ratusan milyar rupian , nafsu serakah menggelegak tanpa bisa dikendalikan. tapi ego model beginian telah terbukti tak akan mampu menghadapi hukum besi ilmu pengetahuan , cepat lambat dia akan terpuruk digantikan generasi muda yang lebih transparan , penuh vitalitas dan pencerahan.ucapkan selamat tinggal kepada kemandekan berfikir yang mengangakan moncongnya melahap harta dg cara mudah dan licik.Onward no retreat wahai para IT wan yang jujur dan penuh ketulusan.

  13. 19 Juli 2009 pukul 15:59

    @Mahendra: salah satu ciri metodologi agile adalah lack of documentation kalau gak bisa dibilang tidak ada, terutama pada saat pengembangan tapi kalau setelah tu mungkin bisa ada tergantung programmernya males apa enggak🙂

    • B.Mahendra
      24 Juli 2009 pukul 20:18

      nice….
      saya tunggu perkembangannya deh…..
      BTW senang berkenalan dengan anda pak…saya newbie di bidang beginian….

      hehehehehe
      bravo OPENSOURCE indonesia

  14. 21 Juli 2009 pukul 11:17

    Salut mas, dua jempol buat tim. Memang masalah non-teknis selalu jadi momok buat orang-orang teknis. Kalo boleh tau, yang membatasi user dan non user itu cuma registrasi dan keycode ya? Lewat protokol SMS? Ngak takut kenapa-kenapa ya…

  15. Kurniawan
    23 Juli 2009 pukul 0:22

    salut deh untuk tim IT KPU..,

  16. anonimus
    26 Juli 2009 pukul 15:27

    mas, boleh minta nomor kontaknya? (untuk kepentingan wawancara, bisa untuk tidak ditampilkan tidak? trms) habis kpu tertutup banget…kalau ga, masalah ini ga akan jadi besar…pepatah shakespear yang menyatakan apalah arti sebuah nama ga berlaku, tetep aja kalo ada nama internasional disitu, akan mengundang kecurigaan, mungkin besok2 ganti nama aja kali ya?

  17. Guslaf
    31 Juli 2009 pukul 10:09

    Hallo tim SERIS, jangan berkecil hati lah.

    Gini, saya melihatnya, bahwa sistem registrasi tersebut,
    perlu lebih di bypass / di permudah,
    toh dari header aseli sms bisa kita gali
    koordinat posisi pengirim.

    Yang kedua adalah,
    sehebat apapun penyedia datanya,
    kalo data itu masih
    di “proses” (maaf DALAM TANDA KUTIP)
    oleh IT KPU, ya hasil akhirnya akan amburadul,
    seperti kita lihat,
    seperti tulisan anda bahwa nuansa politis kuental sekali.

  18. 20 Oktober 2009 pukul 10:03

    repot memang klo begini,

    salut atas kinerja tim seris, kapan ya saia bisa buat yang kayak gitu…

  1. 11 Juli 2009 pukul 4:11
  2. 11 Juli 2009 pukul 10:22
  3. 10 Oktober 2009 pukul 3:54
  4. 3 Desember 2009 pukul 22:36

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: