Beranda > Bisnis > Coopetition Dalam Network-Economy

Coopetition Dalam Network-Economy

Coopetition

Coopetition

Pada tulisan saya yang lalu tentang business model dalam era network-economy disinggung tentang Facebook. Tulisan itu lebih banyak memaparkan fenomena ketimbang menjelaskan konsep. Kali ini saya ingin lebih banyak mengulas tentang konsep dan strategi persaingan bisnis online di era network-economy.

Strategi memenangkan persaingan dalam era network-economy tidak cukup lagi dilihat hanya dengan 5 aspek kekuatan bersaing yang dikemukakan oleh Michael E. Porter.

Lima kekuatan bersaing itu antara lain si pelaku bisnis, kompetitor, pemasok, subtitusi dan konsumen. Kekuatan yang ke enam adalah komplementer. Untuk menjelaskan ini kita mulai dari awal.

***

Peran dari kemajuan teknologi informasi memaksa dunia usaha mengalami perubahan dimana sebuah bisnis dapat memberikan value yang lebih besar dengan melakukan kerja sama antara dua atau lebih perusahaan ketimbang dilakukan oleh hanya satu perusahaan yang menguasai seluruh lini layanan.

Dengan kerja sama antar perusahaan ini skala bisnis untuk masing masing pemain menjadi lebih kecil dan bidang bisnis menjadi lebih spesifik membuat model bisnis menjadi harus dinyatakan dengan lebih terperinci. Monopoli juga semakin sulit terjadi karena tidak ada lagi yang bisa melakukannya.

Kerja sama antar dua perusahaan atau lebih, dipicu oleh keinginan untuk dapat memenangkan persaingan dengan menciptakan nilai tambah (value-creation) sebagai buah dari kerja sama tersebut. Jadi disini ada dua kata kunci “bekerja sama” dan “bersaing”, yang sejatinya berseberangan.

Dari sinilah konsep coopetition strategy lahir. Gabungan antara competitive dan cooperative. Adalah Brandenburger dan Nalebuff yang mempopulerkan lewat bukunya Co-opetition tahun 1997.

Lalu bagaimana dua paradigma yang berseberangan ini dapat disatukan menjadi sebuah strategi?

Untuk menjelaskan itu dapat ditelusuri kembali dari fenomena pesatnya kemajuan TI yang memungkin proses bisnis dipecah-pecah dan mampu berdiri sendiri untuk dapat melayani proses dari bisnis yang berbeda.

Saya akan beri contoh. Dahulu kala kita tidak mengenal PC rakitan, tahun 80an jika kita butuh sebuah PC maka pilihannya hanya ada IBM PC, yang seluruh komponen baik hardware maupun software dibuat oleh satu perusahaan, yakni IBM.

Kini jangankan PC rakitan, PC ber-merk-pun komponennya tidak dibuat oleh satu perusahaan tapi merupakan produk dari berbagai macam perusahaan yang tersebar secara geografis. Contohnya adalah perusahaan komputer Dell Inc yang memperkenalkan pendekatan “configure to order“. Sebuah value added yang mampu ditawarkan Dell tapi tidak oleh pesaingnya kala itu.

Kerjasama yang dilakukan menekan fixed-cost yang sangat besar yang harus dikeluarkan oleh pemain yang berdiri sendiri. Contoh diatas dapat dilihat sebagai bentuk hubungan konsumen dan pemasok yang biasanya dijalin dalam bentuk kerjasama rekanan.

Pemain dalam rantai proses bisnis tidak harus dalam bentuk rekanan konsumen-pemasok tapi bisa dalam bentuk komplementer (pelengkap). Prinsipnya dapat memberikan nilai tambah. Contoh klasik dari Brandenburger dan Nalebuff adalah Intel dan Microsoft. Hubungan mereka bukan antar pemasok dan konsumen tapi hanya sebagai komplementer.

Tapi justru komplementer inilah yang menjadi ciri utama network-economy. Para pemain komplementer dituntut untuk dapat berperan cooperative, karena komplementer ada dalam proses bisnis yang memiliki model bisnis yang berbeda. Sedangkan bila model bisnisnya sama maka sikap yang dituntut adalah cooperative sekaligus competitive atau dikenal dengan coopetition.

Contoh komplementer dalam industri web antara lain:

  • Amazon dan Fedex
  • Ebay dan Paypal
  • Google Apps dan GoDaddy
  • PHP dan MySQL
  • WordPress dan MyBlogLog
  • Firefox dan Shockwave Flash

Masing masing memiliki model bisnis yang berbeda tapi saling melengkapi satu sama lain untuk dapat memberikan value lebih kepada konsumennya. Kekuatan kerjasama ini meningkatkan keunggulan bersaing untuk mereka semua.

Sedangkan untuk model bisnis yang sama sehingga muncul strategi coopetition perlu dijelaskan terlebih dahulu tipe tipe coopetition.

Dalam coopetition ada bekerja-sama dan bersaing. Karena para pemain kerjasama adalah juga sekaligus para pesaing maka dalam bekerjasama ada beberapa hal yang perlu dicermati untuk bisa di-komitmen-kan guna mencapai hasil kolaborasi yang istilahnya positive-sum game. Sebab jika salah menentukan komitmen maka hasilnya justru sebaliknya. Menurut Garraffo ada dua level komitmen yang membentuk 4 kuadran.

Market
Creation
High Standard setting Business integration
Low Knowledge exchange Cooperative R&D
Low High
Technology
Developments

Sumbu vertikal mencerminkan level komitmen penciptaan pasar sedangkan sumbu horisontal mencerminkan level komitmen pengembangan teknologi. Masing masing kuadran memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan berasal dari tingkat komitmennya.

Dalam industri web komitmen untuk bekerja sama dapat dilihat dari seberapa dalam sebuah fitur bersedia di-share fungsionalitasnya. Caranya adalah dengan mengubah fitur menjadi layanan (services) dengan menyediakan fasilitas akses ke fungsi fungsi internal melalui Application Programming Interface (API).

Dalam membuka akses untuk komitmen kerjasama harus benar benar dicermati agar nantinya pengguna API tersebut akan menggunakannya sesuai dengan tujuan yaitu bisa benar benar menghasilkan nilai tambah.

Beberapa perusahaan memberikan aturan aturan khusus pada para pengguna API nya untuk menghindari hilangnya core-value layanan mereka akibat dari ulah competitor yang bermuka cooperative.

Sebagai contoh, Flickr yang dalam “Terms of Service“-nya memberikan syarat penggunaan API dari layanan mereka dilarang untuk:

Use Flickr APIs for any application that replicates or attempts to replace the essential user experience of Flickr.com

Ini adalah proteksi akan core-value dari layanan Flickr yang tak ingin tersaingi oleh competitor pengguna API mereka sendiri. Proteksi terhadap akses pesaing tidak hanya dalam bentuk TOS seperti Flickr tapi juga bisa langsung dalam bentuk kemampuan fitur API itu sendiri. Tidak semua kemampuan utama diberikan begitu saja.

Namun demikian ada juga yang berani memberikan hampir segalanya dengan pandangan bahwa komitmen yang total akan memberikan hasil yang luar biasa juga. Prinsipnya adalah untuk memenangkan persaingan bukan dengan bagaimana mengalahkan pesaing tapi bagaimana merangkul pesaing.

Dalam era network-economy, ini adalah cara pandang yang sangat relevan. Ada beberapa kasus dari industri web yang bisa dijadikan contoh.

Google

Google memiliki mesin uang dari iklannya yang context-sensitive. Mesin iklan yang mampu beriklan sesuai dengan konteks hasil pencarian sehingga iklannya sangat efektif karena membidik segmen yang tepat.

Kemudian untuk memperluas pasar Google meluncurkan layanan AdSense yang memungkinkan situs web lain selain Google menjadi publisher iklan Google lengkap dengan kemampuan segmentasinya.

Dari satu sisi mungkin Google sebenarnya memberikan fasilitas bagi kompetitornya tapi dari sisi lain Google dan para publisher AdSense membuka pasar yang lebih luas. (contoh dari kuadran high-market low-development)

Walau pernah tercatat Google melarang ada iklan lain selain AdWord dihalaman publisher AdSense, namun sekarang kebijakan itu telah dihapus. Komitmen ditingkatkan untuk hasil yang lebih besar.

Facebook

Facebook adalah contoh terbaik untuk komitmen berbagi layanan. Pihak ketiga dapat membangun aplikasi diatas platform Facebook dengan fasilitas yang sama dengan developer internalnya.

Developer eksternal diberi kesempatan yang sama bahkan dalam pengembangan fitur fitur baru. Facebook sangat memperhatikan masukan masukan dari para pengembang third-party-nya. Ini adalah komitmen pengembangan teknologi.

Kemudian untuk komitmen penciptaan pasar Facebook memiliki layanan FB Connect yang memungkinkan situs web lain menggunakan database user mereka yang kini mencapai 175 juta user untuk di akses oleh pihak ketiga. (contoh dari kuadran high-market high-development)

Komitmen Facebook memperluas jangkauan pasar ini sungguh mengkhawatirkan para pesaingnya hingga mereka (Google-Yahoo-AIM-OpenID) berkolaborasi untuk menandingi FB Connect dengan meluncurkan layanan Google Friend Connect.

Google Friend Connect adalah layanan yang memungkinkan user dari masing masing portal tersebut menggunakan hanya satu account untuk login ke semua layanan portal.

Tapi sekali lagi seberapa jauh komitmen akan mempengaruhi hasilnya. Facebook tidak takut kehilangan core-value, terbukti dari keleluasaan pihak ketiga untuk mengembangkan aplikasi apapun diatas platform Facebook, bahkan pihak ketiga boleh membangun aplikasi social-media sekalipun yang tentu saja akan menjadi pesainganya.

Sebuah bisnis akan memiliki kekuatan bersaing yang tinggi apabila mampu memanfaatkan kekuatan network-economy ini. Tidak perlu re-invent the wheel untuk hal hal yang telah bisa disediakan oleh pemain lain dengan sangat baik. Manfaatkan mereka untuk keuntungan kita.

Lalu bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Apakah para pemain bisnis online di Indonesia sudah mengadopsi strategi coopetition, atau paling tidak sudahkah mereka berpikir secara komplementer, atau jangan jangan mereka masih hidup di era industrial-economy?

Tunggu artikel saya selanjutnya…

Kategori:Bisnis Tag:
  1. 28 November 2009 pukul 20:52

    Bagi ilmu ya boss.

  2. 11 Desember 2009 pukul 9:57

    mantab bos..

  1. 26 Desember 2009 pukul 3:46

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: