Arsip

Archive for Maret, 2009

Coopetition Dalam Network-Economy

Coopetition

Coopetition

Pada tulisan saya yang lalu tentang business model dalam era network-economy disinggung tentang Facebook. Tulisan itu lebih banyak memaparkan fenomena ketimbang menjelaskan konsep. Kali ini saya ingin lebih banyak mengulas tentang konsep dan strategi persaingan bisnis online di era network-economy.

Strategi memenangkan persaingan dalam era network-economy tidak cukup lagi dilihat hanya dengan 5 aspek kekuatan bersaing yang dikemukakan oleh Michael E. Porter.

Lima kekuatan bersaing itu antara lain si pelaku bisnis, kompetitor, pemasok, subtitusi dan konsumen. Kekuatan yang ke enam adalah komplementer. Untuk menjelaskan ini kita mulai dari awal.

***

Peran dari kemajuan teknologi informasi memaksa dunia usaha mengalami perubahan dimana sebuah bisnis dapat memberikan value yang lebih besar dengan melakukan kerja sama antara dua atau lebih perusahaan ketimbang dilakukan oleh hanya satu perusahaan yang menguasai seluruh lini layanan.

Dengan kerja sama antar perusahaan ini skala bisnis untuk masing masing pemain menjadi lebih kecil dan bidang bisnis menjadi lebih spesifik membuat model bisnis menjadi harus dinyatakan dengan lebih terperinci. Monopoli juga semakin sulit terjadi karena tidak ada lagi yang bisa melakukannya.

Kerja sama antar dua perusahaan atau lebih, dipicu oleh keinginan untuk dapat memenangkan persaingan dengan menciptakan nilai tambah (value-creation) sebagai buah dari kerja sama tersebut. Jadi disini ada dua kata kunci “bekerja sama” dan “bersaing”, yang sejatinya berseberangan.

Dari sinilah konsep coopetition strategy lahir. Gabungan antara competitive dan cooperative. Adalah Brandenburger dan Nalebuff yang mempopulerkan lewat bukunya Co-opetition tahun 1997.

Lalu bagaimana dua paradigma yang berseberangan ini dapat disatukan menjadi sebuah strategi?

Untuk menjelaskan itu dapat ditelusuri kembali dari fenomena pesatnya kemajuan TI yang memungkin proses bisnis dipecah-pecah dan mampu berdiri sendiri untuk dapat melayani proses dari bisnis yang berbeda.

Saya akan beri contoh. Dahulu kala kita tidak mengenal PC rakitan, tahun 80an jika kita butuh sebuah PC maka pilihannya hanya ada IBM PC, yang seluruh komponen baik hardware maupun software dibuat oleh satu perusahaan, yakni IBM.

Kini jangankan PC rakitan, PC ber-merk-pun komponennya tidak dibuat oleh satu perusahaan tapi merupakan produk dari berbagai macam perusahaan yang tersebar secara geografis. Contohnya adalah perusahaan komputer Dell Inc yang memperkenalkan pendekatan “configure to order“. Sebuah value added yang mampu ditawarkan Dell tapi tidak oleh pesaingnya kala itu.

Kerjasama yang dilakukan menekan fixed-cost yang sangat besar yang harus dikeluarkan oleh pemain yang berdiri sendiri. Contoh diatas dapat dilihat sebagai bentuk hubungan konsumen dan pemasok yang biasanya dijalin dalam bentuk kerjasama rekanan.

Pemain dalam rantai proses bisnis tidak harus dalam bentuk rekanan konsumen-pemasok tapi bisa dalam bentuk komplementer (pelengkap). Prinsipnya dapat memberikan nilai tambah. Contoh klasik dari Brandenburger dan Nalebuff adalah Intel dan Microsoft. Hubungan mereka bukan antar pemasok dan konsumen tapi hanya sebagai komplementer.

Tapi justru komplementer inilah yang menjadi ciri utama network-economy. Para pemain komplementer dituntut untuk dapat berperan cooperative, karena komplementer ada dalam proses bisnis yang memiliki model bisnis yang berbeda. Sedangkan bila model bisnisnya sama maka sikap yang dituntut adalah cooperative sekaligus competitive atau dikenal dengan coopetition.

Contoh komplementer dalam industri web antara lain:

  • Amazon dan Fedex
  • Ebay dan Paypal
  • Google Apps dan GoDaddy
  • PHP dan MySQL
  • WordPress dan MyBlogLog
  • Firefox dan Shockwave Flash

Masing masing memiliki model bisnis yang berbeda tapi saling melengkapi satu sama lain untuk dapat memberikan value lebih kepada konsumennya. Kekuatan kerjasama ini meningkatkan keunggulan bersaing untuk mereka semua.

Sedangkan untuk model bisnis yang sama sehingga muncul strategi coopetition perlu dijelaskan terlebih dahulu tipe tipe coopetition.

Dalam coopetition ada bekerja-sama dan bersaing. Karena para pemain kerjasama adalah juga sekaligus para pesaing maka dalam bekerjasama ada beberapa hal yang perlu dicermati untuk bisa di-komitmen-kan guna mencapai hasil kolaborasi yang istilahnya positive-sum game. Sebab jika salah menentukan komitmen maka hasilnya justru sebaliknya. Menurut Garraffo ada dua level komitmen yang membentuk 4 kuadran.

Market
Creation
High Standard setting Business integration
Low Knowledge exchange Cooperative R&D
Low High
Technology
Developments

Sumbu vertikal mencerminkan level komitmen penciptaan pasar sedangkan sumbu horisontal mencerminkan level komitmen pengembangan teknologi. Masing masing kuadran memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan berasal dari tingkat komitmennya.

Dalam industri web komitmen untuk bekerja sama dapat dilihat dari seberapa dalam sebuah fitur bersedia di-share fungsionalitasnya. Caranya adalah dengan mengubah fitur menjadi layanan (services) dengan menyediakan fasilitas akses ke fungsi fungsi internal melalui Application Programming Interface (API).

Dalam membuka akses untuk komitmen kerjasama harus benar benar dicermati agar nantinya pengguna API tersebut akan menggunakannya sesuai dengan tujuan yaitu bisa benar benar menghasilkan nilai tambah.

Beberapa perusahaan memberikan aturan aturan khusus pada para pengguna API nya untuk menghindari hilangnya core-value layanan mereka akibat dari ulah competitor yang bermuka cooperative.

Sebagai contoh, Flickr yang dalam “Terms of Service“-nya memberikan syarat penggunaan API dari layanan mereka dilarang untuk:

Use Flickr APIs for any application that replicates or attempts to replace the essential user experience of Flickr.com

Ini adalah proteksi akan core-value dari layanan Flickr yang tak ingin tersaingi oleh competitor pengguna API mereka sendiri. Proteksi terhadap akses pesaing tidak hanya dalam bentuk TOS seperti Flickr tapi juga bisa langsung dalam bentuk kemampuan fitur API itu sendiri. Tidak semua kemampuan utama diberikan begitu saja.

Namun demikian ada juga yang berani memberikan hampir segalanya dengan pandangan bahwa komitmen yang total akan memberikan hasil yang luar biasa juga. Prinsipnya adalah untuk memenangkan persaingan bukan dengan bagaimana mengalahkan pesaing tapi bagaimana merangkul pesaing.

Dalam era network-economy, ini adalah cara pandang yang sangat relevan. Ada beberapa kasus dari industri web yang bisa dijadikan contoh.

Google

Google memiliki mesin uang dari iklannya yang context-sensitive. Mesin iklan yang mampu beriklan sesuai dengan konteks hasil pencarian sehingga iklannya sangat efektif karena membidik segmen yang tepat.

Kemudian untuk memperluas pasar Google meluncurkan layanan AdSense yang memungkinkan situs web lain selain Google menjadi publisher iklan Google lengkap dengan kemampuan segmentasinya.

Dari satu sisi mungkin Google sebenarnya memberikan fasilitas bagi kompetitornya tapi dari sisi lain Google dan para publisher AdSense membuka pasar yang lebih luas. (contoh dari kuadran high-market low-development)

Walau pernah tercatat Google melarang ada iklan lain selain AdWord dihalaman publisher AdSense, namun sekarang kebijakan itu telah dihapus. Komitmen ditingkatkan untuk hasil yang lebih besar.

Facebook

Facebook adalah contoh terbaik untuk komitmen berbagi layanan. Pihak ketiga dapat membangun aplikasi diatas platform Facebook dengan fasilitas yang sama dengan developer internalnya.

Developer eksternal diberi kesempatan yang sama bahkan dalam pengembangan fitur fitur baru. Facebook sangat memperhatikan masukan masukan dari para pengembang third-party-nya. Ini adalah komitmen pengembangan teknologi.

Kemudian untuk komitmen penciptaan pasar Facebook memiliki layanan FB Connect yang memungkinkan situs web lain menggunakan database user mereka yang kini mencapai 175 juta user untuk di akses oleh pihak ketiga. (contoh dari kuadran high-market high-development)

Komitmen Facebook memperluas jangkauan pasar ini sungguh mengkhawatirkan para pesaingnya hingga mereka (Google-Yahoo-AIM-OpenID) berkolaborasi untuk menandingi FB Connect dengan meluncurkan layanan Google Friend Connect.

Google Friend Connect adalah layanan yang memungkinkan user dari masing masing portal tersebut menggunakan hanya satu account untuk login ke semua layanan portal.

Tapi sekali lagi seberapa jauh komitmen akan mempengaruhi hasilnya. Facebook tidak takut kehilangan core-value, terbukti dari keleluasaan pihak ketiga untuk mengembangkan aplikasi apapun diatas platform Facebook, bahkan pihak ketiga boleh membangun aplikasi social-media sekalipun yang tentu saja akan menjadi pesainganya.

Sebuah bisnis akan memiliki kekuatan bersaing yang tinggi apabila mampu memanfaatkan kekuatan network-economy ini. Tidak perlu re-invent the wheel untuk hal hal yang telah bisa disediakan oleh pemain lain dengan sangat baik. Manfaatkan mereka untuk keuntungan kita.

Lalu bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Apakah para pemain bisnis online di Indonesia sudah mengadopsi strategi coopetition, atau paling tidak sudahkah mereka berpikir secara komplementer, atau jangan jangan mereka masih hidup di era industrial-economy?

Tunggu artikel saya selanjutnya…

Iklan
Kategori:Bisnis Tag:

Business Model Dalam Era Network-Economy

Facebook

Facebook

Seorang teman bertanya pada saya bisnis online apa yang bisa sukses di Indonesia sekarang ini. Saya tak bisa menjawab itu dengan satu paragraf. Banyak faktor yang mempengaruhi sebuah bisnis online bisa profit. Salah satunya adalah business model.

Saya ingin elaborasi sedikit dari sudut pandang yang lebih spesifik TI berkaitan juga dengan pertanyaan teman saya diatas tentang peluang bisnis online di Indonesia.

Melihat sifat sifat TI yang border-less dan sangat cepat perubahannya maka business model dalam bisnis online menjadi harus dituliskan dengan sangat spesifik dan jelas. Seberapa jelasnya dapat dilihat dari jawaban atas 4 pertanyaan yang menjadi unsur pembentuk business model.

business model paling tidak harus bisa menjawab 4 pertanyaan berikut:

  1. Siapa customer kita dan apa harapannya
    • Jawabannya harus sedetil mungkin hingga mencapai segmentasi
  2. Value apa yang kita berikan
    • Jawabannya harus sedetil mungkin hingga mencapai diferensiasi
  3. Dari mana datangnya revenue
    • Harus bisa diidentifikasi siapa dan bagaimana hubungan antara direct-customer dan indirect-customer
  4. Bagaimana revenue itu datang
    • Revenue model

Setelah business model ditentukan, baru kita bisa melihat siapa kompetitor kita dan siapa bukan, menentukan positioning kita dan tentu saja peluang akan terlihat dengan lebih jelas dalam state ini.

Jika dari ke empat pertanyaan diatas antara dua bisnis menghasilkan jawaban yang sama maka baru bisa dikatakan kedua bisnis tersebut bersaing secara head-to-head.

Dalam bisnis konvensional kemungkinan untuk terjadi head-to-head relatif lebih besar. Tapi dalam bisnis online dimana peran TI sangat dominan membuat kemungkinan terjadinya persaingan head-to-head menjadi lebih kecil, bahkan selalu saja ada cara yang ditemukan untuk membuat perbedaan business model.

Walhasil ragam business model menjadi mirip mirip atau bahkan banyak yang tidak jelas. Untuk membuat sebuah business yang benar benar jelas dibutuhkan inovasi.

Untuk dapat menjelaskan bagaimana TI dapat menjadi enabler terutama dalam bisnis online dengan konteks Indonesia maka saya akan tampilkan beberapa analisis tentang situs teratas dan kaitannya dengan business model

Data kualitatif dapat saya katakan sekarang layanan aplikasi social-media sedang booming dan tak bisa dikatakan selain Facebook, karena memang hanya Facebook.

Salah satu indikasinya dapat dilihat misalnya di kampus UI, seperti yang ditulis di Blog AnakUI.com:

Kenapa harus Facebook? Tentu saja, karena anak-anak UI yang pake Facebook itu jumlahnya udah nggak kehitung lagi.. Hari gini masihkah ada yang make Friendster? Rasanya mahasiswa kaya kita mah lebih prefer pake Facebook kan ya?

Data kuantitatif yang memperkuat statement ini adalah dari Alexa.com:

Dari pencarian khusus untuk negara Indonesia dapat dilihat hit top 100, saya kutipkan 15 besar saja. Data diakses pada hari Kamis, 26 Februari 2009.

  1. Yahoo.com (search-engine)
  2. Google.co.id (search-engine)
  3. Facebook (social-media)
  4. Google.com (search-engine)
  5. Friendster (social-media)
  6. Blogger (blog-hosting)
  7. YouTube (video-hosting)
  8. WordPress (blog-hosting)
  9. Detik.com (berita)
  10. Kaskus.us (forum)
  11. RapidShare (file-hosting)
  12. Wikipedia (knowledge)
  13. Travian.com (game)
  14. MSN.com (OS support)
  15. Multiply (blog-hosting)

Dua urutan teratas masih dipegang oleh bisnis search-engine yang memang tak bisa dijalankan oleh pemain biasa.

Sedangkan urutan ketiga dipegang oleh Facebook dari bisnis social-media. Urutan keempat kembali dipegang oleh bisnis search-engine, kemudian urutan kelima social-media Friendster.

Artinya lima besar hanya dikuasai oleh dua jenis bisnis tadi. Selanjutnya untuk jenis bisnis blog-hosting baru muncul di urutan ke 6 dan 8, bisnis video-hosting di urutan ke 7, bisnis berita baru muncul di urutan ke 9, forum diskusi urutan ke 10.

Antara satu bisnis dengan bisnis yang lain mungkin tidak head-to-head tapi tetap memiliki persamaan pada beberapa poin pertanyaan tentang business-model diatas. Katakanlah blogging sejak munculnya Plurk.com, dunia blogging jadi agak lesu, di pestablogger 2008 saya bertemu Priyadi, blogger senior dan dia mengatakan sejak main plurk jadi tidak sempat blogging lagi.

Kemudian Pak Made Wiryana menulis di Multiply:

Apakah dg makin populernya Facebook dan makin merakyatnya Blackberry yang ada Facebook mobile (he he he rakyat mana ya ?), akan menyebabkan makin sepinya multiply ?

Disebutkan disitu ada BlackBerry, itu adalah komponen dari jawaban pertanyaan nomor 2 untuk business model. Ada diferensiasi pada value yang dimiliki Facebook.

Dari data diatas kita tahu bahwa bisnis social-media adalah bisnis yang sangat diminati.

Dari semua bisnis pada daftar top 15 di atas yang foundernya orang Indonesia hanya Kaskus dan Detik. Mereka seperti kita tahu telah mulai sejak lama dan sekarang telah memiliki basis komunitas sebagai aset yang sangat berharga.

Bisnis blog-hosting di Indonesia tercatat ada dua pemain besar, blogdetik.com dan dagdigdug.com.

Untuk pertanyaan business model no 1:

Blogdetik.com memanfaatkan positioning pembaca detik.com.
Sedangkan dagdigdug.com memanfaatkan jaringan dan popularitas foundernya salah satunya adalah Enda Nasution (bapak blogger) yang komunitasnya dibangun sejak pestablogger 2007.

Jika ada calon pemain baru sudahkah memikirkan segmentasinya? Komunitas apa yang disasar?

Ingat bahwa sungguhpun mereka berdua telah memiliki positioning tersendiri tapi tetap urutan mereka di bisnis blog-hosting masih jauh dibawah Blogger dan WordPress.

Menarik untuk bisnis social-media karena jawaranya (Facebook) berada di posisi ke tiga, artinya pasarnya sangat besar. Business model Facebook sampai sekarang masih menjadi perdebatan para ahli manajemen.

Disinilah menariknya bisnis ini menurut saya, kita bisa mengembara dalam rimba ketidak jelasan business model sambil mengintip kemungkinan meraih peluang yang tak dicermati oleh pihak lawan.

Kalau saya katakan model bisnis social-media yang sukses itu adalah Facebook lantas apakah kalau kita memiliki software yang benar benar sama persis maka apakah kita bisa sukses seperti Facebook?

Layanan yang bisa diberikan oleh software aplikasi selama ini lebih dipandang hanya menjadi jawaban dari pertanyaan business model no 2 (value). Sedangkan masih ada 3 pertanyaan lagi yang menjadi faktor lain yang penting yang sebenarnya dapat berubah dengan kecanggihan software aplikasi.

Sebagai contoh dulu hanya Google yang punya aplikasi untuk menjadi publisher iklan mereka, tapi kemudian setelah Google meluncur sebuah aplikasi bernama AdSense sebagai sebuah layanan maka business model iklan online berubah.

Dulu hanya Google yang bisa menjadi publisher iklan tapi sekarang siapa saja yang menggunakan layanan AdSense bisa menjadi publisher iklan. Mereka menemukan model bisnis baru, dimana untuk pertanyaan no 1 dapat dengan jelas disebutkan yaitu para pengiklan di Google (AdWord).

Mereka tak perlu lagi membuat aplikasi iklan sendiri, semua sudah disediakan oleh Google, mereka tak perlu keluar dana tambahan fixed-cost.

Demikian juga sekarang dengan Facebook. Kalau ada calon pemain baru dalam bisnis social-media lantas mereka berpikir untuk membangun komunitas sendiri maka mereka akan butuh resource yang sangat besar dan waktu yang cukup lama.

Kini dalam era networked-economy dimana paradigma ekonomi sudah bergerak ke arah jaringan, dimana resource yang sifatnya umum akan cenderung dioperasikan sebagai layanan dimana pihak lain dapat memanfaatkannya.

Facebook memiliki aplikasi yang sudah dioperasikan sebagai layanan yang memungkinkan kita untuk dapat memanfaatkan data pelanggan yang dimiliki oleh Facebook. Aplikasi tersebut bernama Facebook Connect.

Dengan adanya fasilitas Facebook Connect maka user Facebook seluruh dunia yang mencapai 175 juta user bisa dimanfaatkan kekayaan datanya yang sudah tersegmentasi dengan rapi. Kita bisa melakukan segmentasi dengan sangat efektif sekaligus efisien.

Dengan demikian untuk pertanyaan no 1 bisa dijawab dengan sangat jitu.

Untuk pertanyaan no no 2 banyak sekali ide yang dapat diimplementasi mengingat pasarnya luas dan segmentasi yang jelas. Salah satu contohnya yang dapat saya gambarkan adalah bisnis pariwsiata dengan pasar pengguna Facebook diseluruh dunia.

Apa yang ada selama ini terlihat untuk konteks Indonesia masih berupa iklan iklan didalam Facebook yang mengarah keluar Facebook. Value yang diberikan masih kecil menurut saya. Orang tidak suka diforward keluar dan lebih nyaman tetap berada dalam platform yang sama (Facebook).

Value yang lebih besar dapat diberi dengan cara membangun aplikasi dalam platform Facebook. Jumlah aplikasi yang kini berjalan di atas platform Facebook mencapai 52.000 aplikasi yang dibangun oleh 660.000 yang tersebar di 180 negara. Ada 140 aplikasi baru setiap hari yang dibangun dalam platform Facebook. Sebuah monumen paradigma networked-economy.

Kategori:Bisnis