Arsip

Archive for Oktober, 2008

Perencanaan Infrastruktur TI

Anda bekerja di kantor atau sebuah organisasi? Lingkungan tempat kita bekerja tentu telah banyak didukung oleh perangkat TI seperti jaringan komputer, sistem operasi, data center,  server dll. Peralatan tersebut tidak sembarangan dipilih atau difungsikan tapi harus direncanakan dengan baik agar dapat memberikan hasil yang ideal.

Dukungan infrastruktur TI yang baik akan memberikan kontribusi pada percepatan pencapaian tujuan organisasi, sebaliknya jika infrastrukturnya tidak baik justru bisa menghambat pencapaian tujuan. Bahkan lebih dari itu, dengan infrastruktur TI yang baik dapat menjadi key enabler bagi perkembangan organisasi.

Apa itu key enabler dan bagaimana kita menata dan merencanakan infrastruktur TI yang baik butuh pengetahuan yang meliputi:

I. Perencanaan infrastruktur aplikasi perusahaan:

  • Identifikasi komponen-komponen infrastruktur TI suatu perusahaan dan pembakuannya.
  • Memadukan kebutuhan strategis organisasi, tren teknologi, dan standar industri (best practices).
  • Berorientasi pada arsitektur aplikasi perusahaan.

II. Pengelolaan tingkat layanan (service level) TI perusahaan:

  • Fokus pada daur hidup infrastruktur TI perusahaan.
  • Aspek-aspek tingkat layanan: kapasitas & skalabilitas, ketersediaan & keandalan, dan keamanan.
  • Perencanaan dan pengukuran kapasitas infrastruktur.
  • Prosedur-prosedur pengelolaan infrastruktur berdasarkan best practices.

Tapi sebelum membahas lebih lanjut saya ingin memaparkan terlebih dahulu tentang definisi infrastruktur. Kalau kita mendengar kata infrastruktur apa yang terbayang? Jalan raya, listrik PLN, jembatan, saluran PAM, jaringan kabel Telkom dan segala hal yang sifatnya fisik dan menjadi dasar bagi penggunaan alat alat yang lain diatasnya (suprastruktur).

Ada beberapa karakterisktik umum dari infrastruktur antara lain:

  • Pemakaiannya lebih luas dibanding struktur diatasnya (yang didukungnya).
  • Lebih permanen/statis dibanding struktur diatasnya.
  • Terhubung secara fisik dengan struktur diatasnya.
  • Sering diperhitungkan sebagai servis/layanan pendukung.
  • Dimiliki dan dikelola oleh pihak yang berbeda dari struktur yang didukungnya.

Kemudian apa yang dimaksud dengan infrastruktur TI dapat dilihat dari gambar dibawah ini:

Jadi infrastruktur TI berjalan diatas infrastruktur publik seperti listrik, gedung dll. Dalam infrastruktur TI dapat dilihat tidak hanya terdiri dari perngakta keras tapi juga terdiri dari perangkat lunak seperti OS, aplikasi middleware dan database.

Kecenderungan infrastruktur semakin hari semakin merambat naik. Semakin banyak komponen perangkat lunak yang menjadi dasar bagi komponen perangkat lunak yang lain untuk dapat bekerja. Contohnya adalah library bahasa pemrograman. Template template design (theme) yang dapat digunakan oleh banyak aplikasi.

Bahkan trend sekarang ada yang disebut SOA (Service Oriented Architecture) yang menyediakan dirinya (aplikasi) untuk dapat digunakan secara bersama oleh aplikasi yang lain. Pengertian infrastruktur dalam TI sudah tidak lagi berarti sesuatu yang statik (hardware) tapi sudah menjadi sesuatu yang lebih fleksible (software).

Sekarang seperti apa infrastruktur TI yang ideal?

Dunia bisnis sekarang ini sudah semakin pervasive yang artinya tanpa TI maka kegiatan bisnisnya tak dapat berlangsung seperti database perbankan misalnya, atau sistem informasi akademik sebuah universitas. TI tidak hanya sudah menjadi key operational tapi juga sudah menjadi competitive advantage. Bank misalnya kalau jaringan ATMnya sering mati maka Bank tersebut akan kalah bersaing dengan Bank yang jaringan ATMnya lebih stabil dan lebih luas.

Masuknya TI dalam wilayah strategis ini membuat TI menjadi key enabler bagi perusahaan tersebut. Key enabler maksudnya menjadi kunci pemungkin terhadap sesuatu peluang bisnis yang baru. Contohnya sebuah perusahaan besar yang ingin mengakuisisi atau merger perusahaan pesaingnya yang memiliki sistem TI yang berbeda maka jika sistem TI mereka tidak dapat diselaraskan supaya dapat bekerja sama maka akuisisi/merger tersebut tidak dapat dilakukan yang berarti hilangnya peluang bisnis.

Disinilah pentingnya merencanakan infrastruktur TI yang fleksible sebab TI itu bisa menjadi kendala sekaligus juga bisa menjadi peluang. Ada beberapa motivasi kenapa kita harus memiliki infrastruktur TI yang ideal:

Motivasi: key enabler

  • Teknologi Informasi (TI) adalah key enablerperusahaan untuk merealisasikan strategi bisnisnya.
  • Strategi bisnis adalah sesuatu yang dinamis: sewaktu-waktu berubah.
  • TI harus dapat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan strategis perusahaan:
    • Unit bisnis atau layanan baru
    • Kantor cabang baru
    • Restrukturisasi organisasi, dsb.

Motivasi: adaptiveness

  • Kecepatan mengimplementasikan perubahan adalah persyaratan strategis.
  • TI harus dibuat fleksibel untuk dapat mengakomodasi perubahan secara cepat dan efisien.
  • Kunci: infrastruktur TI yang adaptif.
  • Mengapa infrastruktur?
    • Infrastruktur dapat menjadi kendala atau membuka peluang inisiatif bisnis.

Kita melihat perusahaan operator telpon selular berlomba lomba mengadopsi terknologi terbaru seperti 3G, 3.5G dst. Padahal pasar belum siap memanfaatkan teknologi baru tersebut, ini karena mereka ingin memiliki infrastruktur TI yang adaptif kedepan guna meraih peluang peluang bisnis baru, bisa lewat konten atau berbagai inovasi lain dikemudian hari.

Adaptiveness dari sebuah infrastruktur TI dapat diukur dari:

  • Time to Market: kecepatan implementasi layanan baru.
  • Scalability: mampu mengakomodasi peningkatan penggunaan/beban.
  • Extensibility: kemudahan menambah komponen baru.

Kemudian ciri dari infrastruktur TI yang adaptif:

  • Efisien: Dengan tersedianya komponen-komponen yang dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai sistem aplikasi (lama & baru).
  • Efektif: Dengan komponen-komponen yang mudah dipadukan (interoperable) dan diintegrasikan.
  • Fleksibel (agile): Dengan komponen-komponen yang mudah dirombak, di-upgrade, atau diganti

Selain ciri di atas dapat dilihat dari:

  • Minimasi Kompleksitas
    • Minimasi biaya pengelolaan, termasuk penyediaan SDM.
    • Strategi: perencanaan komprehensif, arsitektur modular, penyeragaman, menghindari duplikasi.
  • Maksimasi Utilitas (Value)
    • Maksimasi return on investment.
    • Strategi: penggunaan ulang/bersama, penerapan open standards.

Setelah mengetahui infrastruktur yang ideal lalu bagaimana caranya mendapatkan infrastruktur TI yang ideal?

Jaman dulu kita kenal kalau aplikasi biasanya monolitik, satu buah source code menangani segala macam fungsi. Ini bukan startegi yang baik sebab pengembangan akan menjadi sulit karena tidak fleksibel. Strategi yan baik dengan memecah aplikasi besar menjadi sistem yang modular perlayanan fungsi. Dengan demikian sistem menjadi lebih adaptif.

Strategi untuk mencapai adaptiveness:

  • Complexity Partitioning:partisi arsitektur aplikasi ke dalam komponen-komponen yang dapat dikelola secara terpisah (modular).
  • Reusability: pemanfaatan ulang/silang komponen-komponen infrastruktur oleh berbagai layanan TI perusahaan.
  • Integration: pemanfaatan teknologi open standard yang memungkinkan integrasi antar komponen-komponen infrastruktur.

Permasalahan yang sering muncul ketika kita akan merencanakan sebuah infrstrusktur TI dalam sebuah organisasi adalah:

  • Infrastruktur sering tidak terencana dengan baik
    • Tidak merupakan bagian dari perencanaan strategi bisnis.
      CEO jarang ikut merencanakan infrstruktur, disinilah peran CIO dibutuhkan.
    • Juga tidak dilibatkan dalam perancangan aplikasi sejak awal.
    • Bersifat ad-hoc: sesuai dengan kebutuhan aplikasi-aplikasi baru, tanpa standarisasi.
  • Hasilnya: infrastruktur dengan kompleksitas tinggi, tidak terfokus, dengan biaya operasi dan pemeliharaan tinggi.

Solusi dari permasalahan ini dapat diuraikan dalam berapa poin:

  1. Merencanakan infrastruktur secara menyeluruh (holistic)
    • Mencakup seluruh perusahaan.
    • Mencakup berbagai tingkatan struktur.
  2. Juga mempertimbangkan kebutuhan infrastruktur dimasa depan
    • Mengakomodasi perubahan dan pertumbuhan.
  3. Memaksimasi penggunaan ulang dan silang (reuse) komponen infrastruktur (termasuk infrastruktur SDM).
  4. Memilih teknologi yang tepat
    • Menerapkan open-standardsuntuk menjamin interoperabilitas dan kebebasan dari keterikatan pada vendor.
    • Melihat kesesuaian dengan kebutuhan bisnis dan kesiapan/kemampuan organisasi mengadopsinya.
  5. Menerapkan prosedur baku dalam perencanaan dan pengelolaan infrastruktur.
    • Platform: Kategori komponen-komponen dasar infrastruktur.
    • Pattern: Struktur sistem aplikasi yang melibatkan platform-platform.
    • Service: Layanan TI yang menyediakan fungsi-fungsi umum (dapat dipakai bersama).
  6. Menggunakan pola-pola tersebut sebagai template dalam perancangan infrastruktur, dengan lebih cepat dan efisien.
    • Perancangan berbasis pola memudahkan identifikasi komponen yang dapat dipakai bersama
      • Berdasarkan kesamaan pola antar aplikasi.
        Perhatikan bagian atas (stovepipes) dimana tiap tiap aplikasi memiliki infrastrukturnya sendiri sendiri sedangkan yang bagian bawah (pattern-based) semua aplikasi mengunakan infrastruktur yang sama.
  7. Menurut Robertson & Sribar komponen-komponen infrastruktur dapat digolongkan dalam tiga konsep sentral:

    Dalam pendekatan pattern-based dapat diidentifikasi beberapa pola aplikasi umum yang dapat digunakan sebagai acuan dalam merancang berbagai aplikasi perusahaan.

Untuk dapat membuat infrastruktur bersama dalam pattern-based , Robertson-Sribar menggunakan metodologi sbb:

Metodologi perencanaan infrastruktur TI.

  1. Inventarisasi/pendataan teknologi
    • Berdasarkan kategori system layer (lihat gambar diatas):
  2. Identifikasi dan pengembangan pattern-pattern (pola) arsitektur
    • Konfigurasi-konfigurasi standar yang banyak diterapkan (best practice) untuk berbagai sistem aplikasi.
    • Tiap pattern umumnya mempersyarat-kan satu set infrastruktur teknologi.
    • Menjadi acuan bagi pengembangan aplikasi atau layanan baru.
  3. Identifikasi dan pengembangan infrastruktur service
    • Identifikasi fungsi-fungsi sistem yang bersifat umum.
    • Jadikan fasilitas penyedia fungsi-fungsi tersebut sebagai service untuk umum.
    • Pengalihan tugas/tanggung-jawab pengelolaan fasilitas tsb dari bagian aplikasi ke bagian infrastruktur.
  4. Pengelolaan portfolio infrastruktur
    • Organisasikan platforms, patterns, dan services dalam suatu portfolio standar perusahaan.
    • Sebagai pusat informasi untuk perencanaan (costing, capacity planning, quality assurance).
    • Secara periodik dilakukan reviewatas standar-standar yang dipilih, baik dalam jangka panjang (strategic planning) maupun jangka pendek (tactical planning: per-proyek).
  5. Pelembagaan perencanaan infrastruktur
    • Pembentukan peran Manajer atau Perencana Infrastruktur TI
    • Terpisah dari organisasi pelaksana proyek pengembangan aplikasi.
    • Memilih dan menetapkan standar-standar infrastruktur TI perusahaan.
    • Mengembangkan interface (misal: middleware) bagi penggunaan ulang/silang sumber daya infrastruktur.
  6. Pengelolaan infrastruktur sebagai paket-paket solusi.
    • Mengkemas layanan-layanan infrastruktur sebagai paket produk
    • Lengkap dengan informasi tentang manfaat, kapasitas, persyaratan kinerja (service level), dan costing.
    • Memudahkan pihak manajemen bisnis untuk mengevaluasi dan mengambil keputusan tentang investasi infrastruktur.
    • Dapat dikembangkan menjadi profit center.
  7. Dengan mengikuti metodologi diatas dalam merencanakan infrastruktur TI menurut Robertson & Sribar bisa diperoleh sebuah infrastruktur yang adaptif dan menjadi aset organisasi yang strategis.

    Referensi: B. Robertson & V. Sribar, “The Adaptive Enterprise: IT Infrastructure Strategies to Manage Change and Enable Growth,”Intel Press, 2001.

Kategori:Kuliah Tag:

Logo BlankOn

Tahu BlankOn kan? Distro Linux versi Indonesia itu? Sudah pernah lihat logonya? Gambar lucu sebuah topi tradisional Indonesia. Berikut saya kutipkan makna filosofisnya dari Wiki:

BlankOn adalah tutup kepala khas beberapa suku/budaya di Indonesia, antara lain suku Jawa (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur), suku Sunda (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Barat dan Banten), suku Madura, suku Bali, dan lain-lain.

BlankOn juga berarti blank (bilangan biner 0) dan on (bilangan biner 1) atau topi digital (modern) dengan tampilan klasik (kuno).

Arti lain kata BlankOn adalah perubahan dari blank (kosong) menjadi on (menyala atau berisi).

Arti filosofi BlankOn adalah harapan agar pengguna distro BlankOn berubah dari belum sadar (kosong) menjadi sadar (berisi) bahwa ada Linux yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan skill di bidang TI, martabat, dan kemandirian bangsa Indonesia.

BlankOn diharapkan menjadi penggerak (activator) atau meningkatkan motivasi masyarakat Indonesia untuk menggunakan dan mengembangkan Linux dan FOSS lainnya. BlankOn juga sebagai pelindung (tutup kepala) dari ketergantungan terhadap software proprietary.

BlankOn telah akan memasuki versi ke 4.0. Cuma untuk versi 4 ini gambar logo tersebut tidak akan digunakan lagi. Konon katanya ada yang keberatan karena ada sentimen kesukuan. Timbul masalah untuk icon yang digunakan di dalam panel.

Saya pribadi suka sekali ketika pertama kali melihat logo itu, bukan karena saya orang Jawa tapi karena lucu, unik dan terasa punya identitas yang mencerminkan Indonesia kalau disanding dengan logo Linux yang lain. Bagi saya orang orang yang merasa logo itu mengandung sentimen kesukuan adalah orang yang takut akan perbedaan.

Seandainya sejak awal logonya bukan topi blangkon tapi misalnya destar dari Bali atau Peci atau artefak budaya khas Indonesia lain yang bisa memberi identitas, saya pikir juga tak masalah. Justru disinilah kita diuji bagaimana kita menghayati ke-Bhineka Tunggal Ika-an kita dengan tidak menghapus identitas suku yang berbeda beda itu tapi tetap merasa terwakili sebagai satu bangsa.

Selain daripada itu untuk branding tentu tidak bagus gonta ganti logo, akan susah sekali melakukan campaign terhadap sesuatu yang baru. Kalau isu sentimen suku bisa merubah logo maka apakah setelah logo diubah lantas isu itu akan hilang? Tidak juga sebab nama BlankOn juga bisa dipermasalahkan karena mirip dengan kata blangkon topi jawa itu. Tak akan ada habisnya.

Kalau mau lebih netral mungkin bisa diambil nama binatang khas Indonesia dengan gambarnya sekaligus. Seperti misalnya Anoa atau Cendrawasih atau Jalak Bali atau Kecoa sekalian.. ;-p eh kecoa itu bukan khas Indonesia yah?

Menurut saya khazanah kekayaan budaya kita lebih pas jika diangkat tanpa perlu dicurigai ada unsur dominasi budaya tertentu. Untuk menghindari kecurigaan dominasi mayoritas mungkin bisa diangkat dari daerah yang minoritas seperti gambar Koteka misalnya. Tapi bukan berarti bebas masalah juga lho…

Saya rasa yang paling baik bukan mengganti logo tapi memberi pengertian pada masyarakat yang mempermasalahkan itu bahwa kami masyarakat IT tidak memiliki niat untuk melakukan hegemoni budaya daerah tertentu.

Kenapa sih pake curiga dengan niat baik bangsa sendiri? Kenapa ketika ada orang luar yang memakai nama Java untuk bahasa pemrograman tidak ada yang protes? Rugi kita kalau tak memanfaatkan kekayaan bangsa ini yang ragamnya tak tertandingi. Katong samua basodara… Indonesia.

Kategori:Curhat Tag:,