Beranda > Kuliah > Kuliah Umum Dr Alexander Schatten

Kuliah Umum Dr Alexander Schatten

Kemarin saya ikut kuliah umum yang disampaikan Bpk Dr Alexander Schatten dari Vienna University of Technology, Faculty for Informatics, Institute for Software Technology and Interactive Systems (ISIS/IFS), Austria.

Salah satu tujuan kehadiran beliau di Indonesia adalah dalam rangka memperkenalkan program beasiswa untuk studi S3 di Austria bagi para calon lulusan program Magister Teknologi Informasi UI. Beasiswa berupa biaya kuliah dan biaya hidup selama menempuh studi di Austria.

Dalam kuliah umumnya Pak Alex yang dihantarkan oleh dosen kami Pak Dana Indra Sensuse PhD, memaparkan tentang teknologi open source adalah sebuah jawaban untuk tantangan dunia global di masa depan.

Ledakan populasi penduduk pada tahun 2050 akan mencapai 9 miliar jiwa menurut perhitungan PBB. Angka itu tak akan meleset jauh dan kita sekarang telah merasakan dampak dari padatnya penduduk dunia yang baru 6 milliar ini.

Terlebih lebih negara berkembang seperti Indonesia yang lebih banyak mengandalkan sumber daya alam yang tidak sustainable. Kita tak bisa terus menerus mengandalkan minyak bumi yang akan habis dalam waktu dekat ini.

Salah satu masalah serius bagi Indonesia adalah Illegal Logging. Aktifitas ini selain telah merugikan Indonesia ratusan triliun tiap tahun juga yang lebih parah lagi adalah merusak hutan sebagai sumber daya alam.

Pak Alex mengatakan bahwa hutan yang dikelola dengan baik akan memberikan hasil yang dapat diperbaharui dan hasilnya jauh lebih banyak daripada Illegal Logging.

Karena manfaatnya bisa dirasakan lebih merata untuk rakyat tapi kalau Illegal Logging maka hanya segilintir orang dengan cara merusak lingkungan.

Dalam perkembangan globalisasi semua masalah menjadi bukan lagi masalah lokal tapi sudah menjadi masalah global.

Masalah yang ada di China, India dan Indonesia misalnya tak bisa lagi dialamatkan sebagai masalah lokal negara masing masing tapi sudah menjadi permasalahan dunia.

Penggunaan BBM yang eksesif atau Illegal Logging di negara tertentu tapi dampaknya akan terasa secara global seperti misalnya global warming.

Ketika penduduk dunia mencapai 9 milliar pada tahun 2050 maka jelas kita tidak mungkin hidup masih dengan cara seperti sekarang ini. Segala sumber daya alam harus dikelola dengan baik untuk bisa mensejahterakan 9 milliar umat manusia.

Gandhi pernah berujar: Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia. Tapi bumi ini tak akan cukup untuk memenuhi keserakahan satu orang manusia.

Ungkapan The World is Flat dapat dilihat gambarannya dalam bagaimana nanti dunia menata sumber daya alam yang terbatas ini. Jika sebuah negara hendak mengekspor hasil hutan, misalnya berupa kayu maka negara tersebut harus bisa menunjukkan tanda sertifikasi international yang menjamin kayu tersebut adalah bukan dari hasil Illegal Logging.

Sertifikasi semacam ini juga akan diberlakukan pada segala macam komoditi yang menggunakan sumber daya alam seperti hasil laut, peternakan dan pertanian. Untuk memastikan bahwa komoditi tersebut didapat dari hasil aktifitas yang legal.

Jika sebuah negara tidak mampu dalam memenuhi sertifikasi ini maka negara tersebut akan bermasalah pada ekspor karena semua negara akan menuntut sertifikasi semacam ini. Negara yang bermasalah dengan ekspor tidak akan mendapat devisa dan kecenderungan untuk bermain dipasar gelap akan semakin besar. Ini akan menjadi biang masalah.

Untuk dapat memenuhi sertifikasi ini dibutuhkan pengelolaan sumber daya alam yang melibatkan berbagai macam pihak baik itu antar instansi pemerintahan maupun perusahaan swasta pelaku usaha. Bahkan juga antar pemerintahan negara.

Pihak pihak yang berkepentingan dituntut untuk dapat mengelola informasi dengan baik dan benar. Satu satunya cara mengelola informasi dalam kuantitas dan kualitas yangbesar adlah dengan memanfaatkan teknologi dengan arsitektur terbuka.

Kenapa mesti terbuka?

Teknologi adalah tool yang paling penting dan strategis dalam mengelola informasi. Jika sebuah teknologi dinyatakan terbuka maka setiap orang dapat mempelajarinya dan mengembangkannya sendiri untuk keperluannya sendiri yang juga bisa bermanfaat bagi ornag lain dengan kebutuhan yang sama.

Contoh sukses dari teknologi yang bersifat terbuka adalah Internet. Begitu pesatnya perkembangan Internet seolah olah seperti Renaisance kedua dalam sejarah umat manusia. Segala aspek kehidupan berubah mulai dari bisnis hingga politik. Fenomena kemenangan Obama merupakan salah satu bukti.

Internet tak akan mengalami perkembangan sepesat itu bila tidak dibangun di atas protokol TCP/IP yang bersifat terbuka. Semua orang bisa dan boleh membangun aplikasi apapun untuk dijalankan diatas protokol TCP/IP.

Ada apa dengan teknologi tertutup (proprietary)?

Dr Alexander Schatten mengatakan bahwa ia tahu kami mahasiswa menggunakan operating system bajakan. Para mahasiswa tertawa. Tawa terhenti ketika Pak Alex mengatakan bukan cuma dia yang tahu tapi mereka para vendor itu juga tahu. “It’s ok you can use it… come on steal it…“, kata Pak Alex mendramatisasi para vendor proprietary tersebut.

Sekarang kita sedang berkembang, SDM kita sedang belajar mengoperasikan software komputer. Apa yang sudah dipelajari sejak awal maka akan susah sekali untuk berpindah ke software jenis lain.

Nanti setelah 10 tahun atau 20 tahun lagi ketika SDM kita sudah sangat bergantung pada software dari vendor proprietary tertentu dan tidak bisa bekerja bila tidak menggunakan software tersebut maka pada saat itulah mereka para vendor proprietary itu akan memeras kita seperti jus lemon kata Pak Alex.

Dengan menggunakan software proprietary kita diajarkan hanya tahu menggunakan tapi tidak tahu bagaimana software itu bekerja. Jadi kalau ada masalah atau pengembangan untuk kebutuhan tertentu kita tetap tergantung dengan pembuatnya.

Padahal dengan software open source (sumber terbuka), bila kita ingin tahu bagaimana web server bekerja kita tinggal download Apache dan pelajari isinya. Ingin tahu bagaimana browser bekerja tinggal download Firefox dan pelajari bagaimana sebuah browser bekerja.

Ingin tahu bagaimana cara kerja dari indexing database, tinggal download MySQL lalu pelajari bagaimana. Software tidak terbatas pada contoh yang disebutkan tapi banyak lagi yang lain yang bisa dipelajari.

Ketergantungan adalah kata kunci jika kita menggunakan software proprietary. Sebuah ketergantungan adalah sebuah keterjajahan.

Ketika jaman Belanda, perkebunan di Sumatra butuh banyak dokter untuk merawat kesehatan mereka, maka Belanda membuka sekolah dokter STOVIA untuk mendidik calon dokter Jawa. Dokter Jawa ini keahliannya tak boleh setaraf dengan dokter Eropa. Mereka digaji lebih rendah dan ilmunya harus dijaga tak boleh benar benar sama dengan dokter Eropa.

Suatu karakteristik yang mirip dengan dampak penggunaan software proprietary. Kita hanya dibolehkan menggunakan tanpa boleh tahu bagaimana sebuah software itu bekerja.

Sedangkan dalam lingkungan open source kita diberi kebebasan untuk mengetahui apa yang ada didalam sebuah software untuk dapat kita kembangkan sendiri untuk kepentingan kita dimasa depan.

Sebuah software open source dapat dimiliki secara bebas, digunakan secara bebas, dimodifikasi, dikembangkan sendiri bahkan dapat dijual untuk kepentingan bisnis kita. Inilah yang saya sebut sebagai sebuah pembebasan.

Sumber daya alam yang kita miliki layak untuk dikelola dengan semangat pembebasan. Ketahanan IT akan dapat terwujud hanya dengan penggunaan software yang membebaskan. Agen yang paling dominan untuk memulainya adalah pemerintah melalui e-Government.

Pemerintah memang mendukung IGOS (Indonesia Go Open Source) tapi pemerintah juga membina kerja sama dengan Microsoft. Ini membuat momentum menjadi berkurang. Belum lagi usaha Microsoft membagi bagi lisensi Vista gratis di kampus kampus.

Mahasiswa yang jadi ujung tombak pengembangan IT dimanjakan dengan lisensi gratis, ini sangat membuai. Seperti ilustrasi Dr Alexander Schatten: Seorang pengedar narkoba selalu memberi produknya secara gratis diawal tapi setelah korbannya ketagihan maka pada saat itu tidak bisa gratis lagi.

…gimana kalo PC Lab kita di ganti Ubuntu semua yah? Anak anak kelas udah pada mulai ganti OS Notebook mereka tuh. Seperti si David awalnya dual boot tapi sekarang setelah berbagai aplikasi padanan tersedia di Ubuntu dia mau total Ubuntu, Vistanya mau dihapus katanya… yuuukkkk

Kategori:Kuliah Tag:, , ,
  1. 1 Agustus 2008 pukul 9:06

    apresiasi kepada Wibi yang telah mendokumentasikan materi Kuliah Umum kemarin, pas gua ga dtng….

    usul nih….tulis artikel donk tentang Operating System yang OpenSource….mungkin bisa jadi inspirasi kita dalam melakukan migrasi dengan mulus……

    thx

  2. 1 Agustus 2008 pukul 11:20

    PERTAMAX!
    Thank’s bro atas informasinya. Maklum gak sempet ikutan waktu itu.

    Memang trend kedepan, open source menjadi salah satunya harapan bagi perkembangan teknologi informasi. Udah nggak jamannya sebuah teknologi harus black box. Berdiri sendiri dan arogan lagi. Perkembangan dewasa ini menunjukan bisnis harus meraih sebuah komunitas. Saat sebuah komunitas bisa diraih, maka besar kemungkinan bisnis tersebut sudah tak bisa tergantikan. Kita lihat saja, begitu besar efek yang ditimbulkan dari sebuah sistem jejaring sosial di internet. Dia bisa berpengaruh tidak hanya terhadap bisnis tapi juga politik. Hebat bukan?

  3. Stanley David
    9 Agustus 2008 pukul 14:32

    hehhehe…
    Bener-bener kayak lagi ngikut kuliah beneran nih!
    btw,
    Open Source emang oke, tapi Free open source emang lebih oke lagi.

    Oh ya,
    Soal kuliah umum dari Pak Alex (atau Sir Alex aja ya…),
    saya sih, agak “kaget” soal data-data yang disampaikan beliau mengenai kondisi lingkungan di Indonesia (yang dalam pembahasannya, akhirnya menyerempet hingga masalah politilk, kesenjangan sosial, pemerintahan, dll).
    Saya masih agak “meragukan”, validitas data yang dikemukalkan Sir Alex tersebut. Darimana sumbernya, gimana cara mendapatkannya, apakah itu reliable (sayang, semuanya yang sempat diterangkan Sir Alex).
    Anyway,
    saya menangkap, maksud Sir Alex memaparkan semua data-data (yang belum valid) tersebut, hanya untuk menegaskan idenya, bahwa Bangsa Indonesia memiliki masalah. Dan Masalah bangsa indonesia (yang berpenduduk hampir 300jt ini), sudah bukan lagi menjadi masalah dalam negeri, namun telah menjadi masalah Dunia.
    karena ….. the world is flat (dunia ini datar).
    Saya sih lebih cenderung menyebut “The World is Seamless” (dunia ini ternyata tak berujung, tak berpangkal, tak berbatas, dunia ini cenderung menyatu), sehingga apa yang kita perbuat di Indonesia (di Jakarta, di Salemba, di Ciliwung; buang sampah misalnya) akan memiliki impact ke dunia. Dan, entah bagaimana caranya, Brasil, China, Afrika Selatan, dan Amerika akan merasakan akibatnya juga, dari kita membuang sampah di Kali Ciliwung.
    So, apa hubungannya dengan “open source”…. penjelasan Mas Wibi (senior saya nih!) sudah sangat memadai …

    Cheers,

    David

  4. qahar
    21 Agustus 2008 pukul 15:55

    Artikelnya bagus and menarik kang Wibi.
    muncul dalam benak saya, bahwa mereka telah merancang penjajahan dan pemerasan melalui teknologi dalam jangka panjang. Apakah cita-cita penggunaan open source hanya menjadi “penggembira” di tengah kenyataan yang demikian?
    Saya mulai belajar open source saat ini, karena bagi saya semakin tinggi tingkat ketergantungan kita pada teknologi tertentu, semakin menjadi tidak creative dalam menentukan apa yang terbaik terhadap yang kita butuhkan.

    Semoga kita dapat membangun gelombang perubahan, bukan riak-riaknya

  5. 24 Oktober 2008 pukul 15:28

    waaaah menarik tuhh
    kuliah di S3 di austria..
    ada informasi nya??

    pa dana…dosen ku juga tuhhh…di magister..

  6. 7 November 2008 pukul 9:18

    Wah… kelihatannya mas Johan copy paste tulisan saya nih… hihihi.. no problem lah, yang penting pesan dalam tulisan saya itu disebar luaskan🙂

  7. 19 Mei 2010 pukul 15:57

    salam kenal y mas
    Blog saya

  1. 27 Oktober 2008 pukul 15:15
  2. 4 November 2008 pukul 2:38

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: