Beranda > Reportase > Seminar Sehari: IT untuk Bangsa

Seminar Sehari: IT untuk Bangsa

Seminar sehari dengan tema “IT untuk Bangsa” dalam rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional sabtu kemarin di parkir timur Senayan akhirnya berlangsung dengan sukses walaupun molor dari jadwal semula jam 10, molor hingga jam 11 baru dimulai.

Saya, David dan Ikrar tertarik untuk hadir karena tertarik dengan tema yang dibawakan oleh Onno W Purbo yang menjadi salah satu pembicara. Begitu sampai di tempat kita sudah dapat dengan mudah mengenali Kang Onno dari jauh sedang berbincang dengan Riyogarta. Ikrar yang baru pertama kali bertemu Kang Onno ini lalu berbisik pada saya, “Kang Onno mirip Taufik Savalas yah…”. Hush… jawab saya.

Saya belum melihat Abimanyu “Abah” Wachjoewidajat dilokasi. Baru setelah beberapa saat kami berdiskusi dan berfoto foto kemudian Abah muncul dan menyalami kami semua.

Mas Rickie yang menjadi EO acara ini dari PT Solitech yang gerak gerik dan potongannya mirip Agum Gumelar ini hadir ditempat lalu menyalami kami semua.

Kesibukan terlihat disana sini, pengumuman acara seminar diumumkan berulang ulang untuk menarik pengunjung pameran karena seminar ini gratis. Kang Onno kemudian bergumam, “wah kalo tahu gratis gua umumim di milis deh…”. Rupanya Kang Onno tidak tahu kalo seminar ini gratis untuk umum.

Belum tahu siapa yang bakal membuka acara seminar ini. Rencananya sih dibuka oleh pejabat setingkat menteri, tapi siapa belum tahu. Mungkinkah acara ini akan dibuka oleh Roy Suryo karena nama beliau ada di spanduk?

Tapi kemudian Mas Rickie memastikan Om Roy tak jadi hadir, entah kenapa, padahal sahabat sahabatnya seperti Petrus Golose, Riyogarta, Onno W Purbo sudah menunggu kehadiran beliau. Mungkin Roy tak jadi hadir karena 2 sahabatnya yang lain tidak hadir juga, mungkin loh yah.

Padahal kemarin kita punya keyakinan Om Roy akan bersedia hadir karena beliau diundang oleh pejabat tinggi Polri karena salah satu tema dari seminar ini adalah Cyber Crime dimana Roy terkenal sangat concern dengan isu ini, maklum beliau punya cita cita memenjarakan sejumlah blogger dan hacker.

Topik pembicaraan kemudian beralih ke Roy. Pembahasan mulai dari kiprah beliau hingga ke pribadinya. Kalau ketemu Mas Rickie, Roy tak pernah mau disebut pakar, kata Roy itu cuma media yang melebih lebihkan.

Dari salah seorang yang berdiskusi disampaikan bahwa sekarang media mulai jaga jarak. Di e-Lifestyle MetroTV tak muncul lagi, di koran tak dikutip lagi, di seminar kali ini kami berharap bertemu beliau untuk klarifikasi banyak hal setelah dialog terbuka dengan Blogger tempo hari.

Apalagi sekarang ada Pak Petrus dan Kang Onno. Seru deh kayanya kalau beliau jadi datang. Tapi ternyata tidak hadir, kami kecewa tapi itulah kenyataan.

Pembahasan tentang Roy terhenti dengan munculnya serombongan orang yang dari gelagat orang orang disekitarnya ketahuan ini pasti orang penting. Tapi kok wajahnya familiar bagi saya, sejak kapan saya jadi family orang penting? Oh ternyata beliau adalah Pak Nuh, Menkominfo yang berkenan membuka acara seminar. Iya Pak Nuh yang sempat bilang “Blogger is part of our family” kepada para Blogger itu. Mas Rickie secara khusus menyampaikan terima kasih karena Pak Nuh baru dihubungi kemarinnya tapi tetap bersedia hadir untuk membuka seminar ini.

Kemudian Pak Nuh dipersilahkan membuka acara. Ditengah tengah sambutan Pak Nuh, rupanya panggung sebelah yang isinya band sedang check-sound. Setiap kali Pak Nuh akan mulai bicara lagi, ada suara bass-guitar yang sedang di coba, Pak Nuh berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan lagi setelah suara Bass berhenti. Tapi setiap kali mau mulai suara bass-guitar itu bunyi lagi.

Akhirnya Pak Nuh cuek ajah dan lanjut terus dengan sebelumnya bilang bahwa inilah era kebebasan, kita tidak melarang mereka mereka juga tidak bisa melarang kita disini, penonton jadi Gerrrrr….

Hal menarik dari sambutan Pak Nuh adalah untuk membangun IT Bangsa harus mengembangkan It untuk spesific purpose dan bukan cuam generic purpose. Kalo hanya untuk generic purpose seperti untuk mengetik dan mencetak dengan Word processor atau spreadsheet itu harus sudah dikuasai dengan baik dan tidak bisa dijadikan ukuran kemajuan. Adalah spesific purpose yang perlu lebih fokus untuk dikembangkan.

Nah dalam rangka mengembangkan spesific purpose ini mesti dirangkul semua kalangan, tidak hanya elite society seperti saya tapi juga dari underground society seperti Pak Onno, kata Pak Nuh sambil melirik Kang Onno dan disambut tertawa renyah khas Kang Onno.

Setelah acara dibuka Pak Nuh pamit dan Kang Onno segera mengambil tempat dipanggung bersama Abah dan Riyo untuk memulai sesi pertama yang judulnya dirahasiakan katanya. Ternyata judulnya kali ini bukan kebangkitan nasional kedua tapi “Duniapun Belajar Pada Bangsa Indonesia (DBPBI)”.

Materi presentasinya bagi yang sudah pernah menghadiri seminarnay Kang Onno mungkin tidak terlalu asing tapi bagi kjlayak ramai yang masih awam materi yang dibawakan Kang Onno akan terasa sangat menggugah semangat dan memberi inspirasi bahwa kita bngsa Indonesia bisa dan mampu.

Kita memang miskin tapi kita tidak tolol dan bodoh. Berikut adalah kutipan dari materi DBPBI:

Kita sering tidak sadar, apa yang dilakukan oleh rakyat Indonesia, seperti VoIP Rakyat, Wajanbolic e-goen, RT/RW-net sebetulnya sangat dahyat sekali. Mereka bahkan banyak menjadi contoh bagi banyak negara berkembang di dunia. Banyak rekan-rekan aktifits IT Indonesia, seperti, Michael Sunggiardi, Jim Geovedi dll. yang menjadi nara sumber di tingkat dunia dan sharing keahliannya untuk memajukan IT negara berkembang lainnya. Saya pribadi di undang ke India bulan January 2007, Nepal April 2007, Montevideo pertengahan 2007. Di tahun 2006, saya sempat memberikan keynote speech di Yale University, Amerika Serikat dan di Berlin yang mendapatkan standing ovation selama 3 menit di Yale University.

Ada hal menarik pada seminar ini. Kita semua tahu bahwa Kang Onno bukanlah seorang Blogger. Tapi itu bukan berarti Kang Onno menjadi antipati pada Blogger. Tidak seperti sahabat kita RS yang begitu antipati pada Blogger dan Hacker. Kang Onno mengatakan Blogger dan Hacker adalah agen perubahan negeri ini. Kang Onno lantas memberi gambaran dahsyatnya potensi bangsa ini dengan membandingkan jumlah penduduk negara tetangga Malaysia cuma 25 juta dan Australia cuma 20 juta jiwa. Sedangkan jumlah siswa kita dari total 215 ribu sekolah sudah mencapai 45 juta lebih.

Jumlah hacker Indonesia

Malaysia dan Australia yang pernah konflik dengan kita walaupun tidak sampai kontak senjata tapi di dunia maya para hacker dan blogger telah berperang terlebih dahulu. Diceritakan jaman konflik dengan negara Portugis soal TimTim para hacker Indonesia telah berhasil membuat top-level-domain .pt milik Portugis hilang dari Internet. Jangan sebut Malaysia deh… Malaysia itu gak ada apa apanya… begitu kata Kang Onno dan benar benar sangat membesarkan hati. Kita butuh kisah sukses dan kita punya, cuma saja belum cukup disosialisasi.

Berbagai karya anak bangsa yang telah nyata nyata memberi solusi pada bangsa ini tanpa bantuan USAID atau WorldBank atau IMF atau bahkan bantuan dari pemerintah sekalipun telah memberi inspirasi bagi anak bangsa yang lain bahwa bangsa kita, bangsa Indonesia mampu. Saya jadi teringat dengan salah satu postingan mas Harry Sufehmi di NetSains.

Potensi kita besar, tapi kadang kita tidak sadar. Atau sering menghadapi kesulitan untuk dapat mengembangkannya. Namun ini seringkali bisa diatasi dengan kegigihan.

Pak Onno misalnya adalah salah satu hacker kita. Bayangkan, siapa sangka ternyata wajan bisa menjadi antena wireless? Atau Pak Johar dan kawan-kawan, yang memungkinkan biaya akses internet menjadi lebih ekonomis (dan keuntungan lainnya) dengan bergotong royong membuat IIX (Indonesian Internet Exchange)? Atau kawan-kawan di AirPutih, yang memungkinkan komunikasi segera mulai berjalan kembali pasca tsunami ? Atau rekan-rekan di MicroAid Projects, yang memungkinkan orang dari seluruh dunia untuk memberikan sumbangan modal usaha ke berbagai UKM di pelosok Indonesia? Atau kawan-kawan di AWALI.org, yang memungkinkan warnet berjalan dengan Linux dengan lebih mudah ?

Ketika melihat kawan-kawan kita tersebut, saya jadi bangga menjadi orang Indonesia. Dengan segala keterbatasan, kekurangan, permasalahan, masih banyak yang tetap bisa berbagi dan sangat bermanfaat bagi sesamanya.

Setelah Kang Onno kemudian giliran Abah dengan topik: Peran Software Developer pada Kebangkitan ICT Nasional. Abah seperti biasa dengan gaya khas membawakan presentasinya dengan Linux Blankon. Untuk materi lengkapnya bisa didownload di Blognya Abah. Menurut Abah yang hidup dari software proprietary Linux tidak lebih baik dari Windows tapi juga tidak lebih jelek. Masing masing punya kelebihan dan kekurangan. Berikut dari comment Abah di Blognya:

menurut saya windows vs OS itu sama saja dengan perbedaan di OS itu sendiri distro 1 dengan distro 2 semua dibuat untuk kebutuhannya sendiri. semua membuatnya dengan suatu visi tertentu. bahkan aplikasi yang dibuat dan jalan di distro A belum tentu lancar di distro lainnya. Intinya suatu perbedaan jangan “diliat tambah beda” :)) tapi fikirkan tujuan utamanya yaitu “how to get things solved” bukan “what-nya” ;)). doing a reverse-engineer to a “free-look” opensource might risk the company to spent more !! training, coding ulang, ganti2 peripherals (yang mungkin gak jalan di OS). nah utk itu bahkan pada satu company yang sama mungkin jalan terbaik adalah kombinasi dari keduanya aja, yang penting bridging antar platform jalan then it shouldn’t much trouble doing it. coz I done some *promosi nih yee*😉

Setelah itu tiba giliran Petrus Golose yang sangat dibanggakan oleh Mas Rickie karena Pak Petrus adalah seorang pejabat Polri (Kanit Cyber Crime Bareskrim) yang baru menyandang gelar Doktor dibidang Cyber Crime dan telah mewakili Indonesia berkali kali keluar negeri untuk urusan Cyber Crime.

David kaget karena ternyata Pak Petrus orang Manado sama seperti dirinya, dia pikir orang Sumatra karena dia tak mengenal Fam Golose di Manado. Secara singkat Pak Petrus memaparkan tentang UUITE yang sudah membuat saya cukup bosan karena telah menghadiri beberap seminar tentang UUITE ini.

Ada yang menarik, Pak Petrus memasukan pasal Spam dipenjelasannya padahal saya masih ingat betul Priyadi ketika pertemuan antara Blogger dan Menkominfo pernah menyampaikan bahwa UUITE belum memuat pasal tentang Spam, padahal ini hal yang sangat penting. Saya ingin menanyakan hal itu tapi terbayang jawaban singkatnya jadi saya urungkan.

Kemudian pada sesi tanya jawab berebut yang mau nanya (karena ada hadiah untuk yang tanya). Tapi Riyogarta menunjuk saya dengan mengatakan coba yang baju ijo ini, silahkan bertanya. Hehehe.. pura pura gak kenal biar gak dituduh nepotisme nkali.

Pada kesempatan yang telah diberikan Riyo saya gunakan untuk menanyakan perihal tentang kekhawatiran para Blogger akan UUITE yang potensi menjadi pasal karet dan digunakan oleh polisi untuk memberangus Blogger yang menulis tulisan yang tidak sesuai dengan misi pemerintah. Karena di pasal itu ada kata kunci “dengan sengaja” yang punya multi-intepretasi.

Saya sampaikan bahwa pada sebuah seminar di UI Depok yang pembicaranya adalah Bpk Edmon Makarim, dijelaskan bawah UUITE ini beda dengan UU sebelumnya yang justru lebih represif karena dengan UUITE ini polisi tidak bisa main tangkap karena harus ada ijin dari pengadilan setempat yang harus membutikan bahwa sebuah cyber crime itu telah dilakukan dengan sengaja dan tanpa hak.

Pak Petrus dengan bangga mengatakan bahwa ancaman hukuman pada UUITE ini tidak main main. Justru ini yang membuat saya khawatir aksi main tangkap akan terjadi karena pada sebuah obrolan santai di Cafe FrontRow bersama Donny BU disampaikan bahwa polisi berhak menangkap tersangka tanpa ijin pengadilan jika ancaman hukumannya melebihi 5 tahun, sementara ancaman hukuman di UUITE rata rata lebih dari lima tahun.. nah lo….

Pak Petrus yang sebelumnya mengkritik Abah karena menjawab pertanyaan muter muter hingga lupa pertanyaannya maka kali ini justru Pak Petrus yang melakukannya dengan menjawab pertanyaan saya dengan muter muter dan subtansi pertanyaannya hanya dijawab singkat, “itu tergantung penyidikan…“. Kalo itu mah saya juga tahu Pak Petrus tapi yang saya ingin tahu bagaimana penyidikan itu dilakukan. Tidak terjawab pertanyaannya memang lantas saya beralih ke Kang Onno.

Untuk Kang Onno saya menanyakan hal yang sedikit teknis. Kunci dari informasi adalah bandwidth, Kang Onno telah lama memperjuangkan bandwidth murah dengan teknologi alternatif. Saya sangat menghargai usaha itu dan juga usaha teman teman yang lain seperti Pak Johar dkk yang telah membangun IIX sehingga email kita tak perlu nyasar ke Amerika dulu untuk sampai ke teman kita yang menggunakan provider berbeda.

Ada satu hal yang mengelitik saya. Kita tahu APJII memberi harga mahal pada rakyat karena mereka harus membayar mahal pula pada penyedia backbone di Amerika sana. Strategi yang diterapkan adalah dengan menggalakkan konten lokal sehingga rakyat tak perlu mencari konten ke luar negeri yang membuat APJII harus membayar mahal untuk itu.

Masalahnya itu belum cukup menurut saya. Hanya APJII yang merasakan bila untuk link ke luar negeri itu harus membayar mahal. Sementara rakyat yang menjadi user tidak tahu menahu apakah konten yang mereka browse itu lokal atau asing tapi mereka tetap harus membayar mahal.

Usulan saya adalah harga untuk kedua jenis konten ini dibedakan. Jadi bila user browse ke konten lokal maka harga bisa lebih murah bahkan kalo bisa gratis saja. Sehingga dengan demikian rakyat atau pengguna bisa merasakan perbedaannya dan ini akan sangat menyemangati mereka yang berkantong pas pasan untuk browse konten lokal saja selama layanan itu tersedia oleh provider konten lokal.

Tidak ada paksaan bagi user dengan teknik ini cuma saja bagi APJII mungkin akan ada perhitungan kalau user mau bayar mahal kenapa harus diberi discount atau gratis. Mungkin itu yang ada dalam benak mereka saya tidak tahu. Pada kesempatan itu, saya tanyakan pada Kang Onno tentang teknologinya dan beliau menjawab bahwa APJII punya daftar situs lokal dan bisa membedakan mana lokal dan asing. Setelah dapat dibedakan tinggal mau diapain cara menghitungnya terserah admin.

Cuma saya masih penasaran dengan teknik implementasinya, sebab yang ada sekarang jumlah total kilobytenya yang kita download oleh provider dihitung totalnya saja tanpa pembedaan. Nanti deh tanya sama Pak Bob atau Pak Samik… Kang Onno memberi kisi kisi tentang Mikrotik tapi belum saya baca tuntas, belum ada waktu.

Saya suka berhayal seandainya itu bisa diimplementasikan maka user pasti lebih suka mengunjugi situs lokal dan para pengembang kontenpun akan lebih giat berkreasi karena secara tidak langsung cara ini akan memberi proteksi pada industri perangkat lunak kita. Bayangkan browsing lokal gratis, browsing ke luar bayar, seru kan? Kalau APJII gak mau rugi banget, harga yang untuk konten luar dapat dinaikan sementara harga lokal digratiskan, nanti lama lama akan terjadi permintaan sambungan link dari luar negeri untuk situs-situs lokal kita karena kontennya sudah berkembang dengan baik akibat “proteksi” tadi.

Setelah sesi tanya jawab tuntas saya dihampiri Riyo, dari mukanya kelihatan gundah dengan pasal Spam yang dimasukkan Pak Petrus ke UUITE. Saya pikir Pak Petrus hebat bener bisa masukkin pasal itu sendiri. Tapi ternyata itu memang “kreatifitas” Pak Petrus saja. Hehehe.. dasar orang Indonesia. Pasal Spam belum masuk ke UUITE.

Kami kemudian berfoto dan melanjutkan diskusi sedikit sebelum pulang. Dengan Kang Onno kami (saya, david dan ikrar) sempat membicarakan dosen kami yang nyentrik, Pak Samik. Beliau cerita Pak Samik adalah tokoh Internet Indonesia yang membawa top-level-domain .id ke Indonesia. Hal yang membuat kami bangga sebagai mahasiswanya walaupun saya cuma dapat nilai A- untuk mata kuliah Pak Samik.

Demikian reportase singkat seminar kali ini semoga apa yang menjadi pertanyaan dipostingan saya sebelumnya bisa terjawab disini dan semoga ada manfaatnya, minimal keluar ide ide baru untuk memajukan Internet Indonesia. Masa depan Indonesia ada pada TIK. Merdeka.

  1. 1 Juli 2008 pukul 22:02

    PERTAMAXX !!…
    tentang pendapat wibi: Kalau APJII gak mau rugi banget, harga yang untuk konten luar dapat dinaikan sementara harga lokal digratiskan, nanti lama lama akan terjadi permintaan sambungan link dari luar negeri untuk situs-situs lokal kita karena kontennya sudah berkembang dengan baik akibat “proteksi” tadi.

    fyi, berhubung saya pernah jadi orang APJII (sewaktu jadi GM Multimedia utk SCBDnet) jadi saya rasa laik mengomentari ini. Intinya sebenarnya kalau untuk korporasi banyak ISP yang memberikan akses IIX only (kalo istilah indonya NDD alias Ngider Domestik Doank hahahah kidding). harganya emang lebih murah daripada yang International. tetapi tetap tidak mungkin digratiskan (bukan bela temen2 di APJII lho yah) biar gimana ngendon di datacenter IDC atau di APJII kan tetep kena biaya jadi ada overhead cost yang logikanya dibebankan ke pelanggan, tapi ya gak sebanyak kalau int’l.
    Dan bahkan di SCBDnet sendiri setelah 4 tahun berdiri setahu saya justru sejak ada saya itu dimulai layanan yang IIX only, tapi itupun tidak published.

    Waktu Wibi bertanya itu skalipun menguasai pertanyaan itu tapi abah gak mau nimbrung jawab gak enak ama kang Riyo soalnya bentar2 abah mau urun jawab bbrp pertanyaan orang. ntar dikira publik abah pengin dibilang segala tau lagi (seperti pakar lainnya) hihihihi

  2. 1 Juli 2008 pukul 22:06

    KEDUAX..!! 😉
    tentang: Pak Petrus yang sebelumnya mengkritik Abah karena menjawab pertanyaan muter muter hingga lupa pertanyaannya

    koreksi, yang dikritisi bukan abah menjawab pertanyaan muter2.. tapi dia bilang sebenernya udah lama dateng (dari 11am) tapi gak enak kalo nongol ke depan jadi duduk dibelakang nunggu giliran ternyata paparan abah panjang cerita ini itu…

    begono wib…

  3. 1 Juli 2008 pukul 22:12

    KETIGAX..! =))

    tentang: Tapi ternyata itu memang “kreatifitas” Pak Petrus saja. Hehehe.. dasar orang Indonesia. Pasal Spam belum masuk ke UUITE.

    waktu beliau bilang spam ada di UU ITE kebetulan abah udah baca2 UU ITE dan juga bawa dokumennya apalagi yang dia sebut pasal 33. abah yakin banget itu bukan soal spam. langsung dipodium abah keluarin dokumen tsb lalu kami bahas dengan mas Rickie dan kang Onno.
    selesai acara dan masih dipanggung kita langsung tanya juga ke pak Petrus soal SPAM itu. jawaban beliau secara Spesifik tidak dijabarkan tapi secara Global ada memenuhi pasal UU ITE. sejujurnya itu yang abah ngeri kalau penjabaran UU ITE boleh diglobalkan ya bakalan gak boleh ini gak boleh itu.. MATIIN AJA POWERnya trus jokul deh nih laptop. tapi moga2 sih akan ada revisi pada UU ITE lah agar kisi2nya mengenai DOs and DON’Ts menjadi jelas

  4. 1 Juli 2008 pukul 22:12

    sayah fans gelap Onno W Purbo😛

  5. 1 Juli 2008 pukul 22:14

    KEEMPAX !!… maap gak komentar.. cuman minta izin. itu foto abah yang bareng Kang Onno dan pak Nuh abah copy yah buat di blog abah. Terserah dibolehin atawa nggak tetep abah nekat maksa ambil. Jadi Wibi harus bilang boleh. kalo gak boleh kan ntar abah masup penjara.. emang tega ngeliat badut podium masup penjara.. hihihihihi…

    byeee… *ngacir ke blog sendiri buat masang foto* ;))

  6. 1 Juli 2008 pukul 22:29

    @Abah Pertamax:
    Iya Bah, saya kira juga pasti akan ada costnya kalo hanya untuk Ngider Domestik Doang, kalo gak gratis gak papalah tapi jangan sama dengan ngider int’l. Jadi ada insentif untuk kontek lokal berkembang.

    @Abah Keduax:
    Oh kalo yang itu lain lagi, tapi pas njawab pertanyaan ibu ibu tuh dia sempet bilang gitu. Abah muter muter jawabnya katanya, bukan ngadu domda loh, kalo domdakan punya tanduk.. hehe.

    @Abah Ketigax:
    Gila yak? pasalnya gak ada ajah bisa dimasukin pasalnya suka suka dia… gimana kalo ada pasalnya disitu, pasti lebih bisa dikembangkan untuk keperluan tertentu…

    @Abah Keempax:
    Monggo atuh Abah… Saya teh iklas bener…
    Eh BTW Abah udah berhasil “membajak” saya untuk menjadi sales person produk Abah dengan cara yang sangat halus dan tak bisa saya tolak. Awas yah Bah saya akan balas nanti, Abah akan saya todong untuk jadi sales person service web saya… hati hati…🙂 wakakaka…

    @putradi:
    Saya juga sempet bilang ke Kang Onno kalo saya penggemar buku buku Kang Onno. Saya sebut salah satunya buku tentang javascript, eh dia malah bilang, “Wah saya malah gak bisa javascript katanya…” heheheh…. bingung saya dibuatnya..

  7. 2 Juli 2008 pukul 7:52

    mas wibi, soal “Gila yak? pasalnya gak ada ajah bisa dimasukin pasalnya suka suka dia…” abah sih nggak melihat hal itu sebagai suka2 beliau. Saya masih percaya beliau orangnya bertanggung jawab dan tidak semena2 tapi jangan lupa biar gimana beliau representing those made such UU ITE kan. Mungkin tim UU ITE juga baru sadar kelupaan tentang SPAM itu setelah signed by mr President. Nah disini repotnya udah ditandatangani berarti udah lolos DPR, lolos DPR berarti udah final dari pembuat. Lha kok masih ada bolongnya? kalau di revisi akan mengundang hole bagi publik / pers dll untuk masuk dan minta revisi ini itu, whuah pasti akan membuat tim UU ITE kelimpungan dan bisa2 rancangan bertahun2 tsb mentah lagi.
    Untuk itu cara paling wise (baca:gampang) pada saat ini dan saat presentasi adalah mengait2kan suatu kegiatan ke UU yang ada. Anyway saat terjadinya pelanggaran yang membawa ke UU ITE toh bila undang-undang tidak kuat ya gagal tuntutan. Yang pasti saat ini SPAMmer lebih lolos daripada Hacker. Hidup para pedagang !!!… hehehe

  8. 2 Juli 2008 pukul 8:02

    SAMPAIKAN KRITIK ABAH BUAT WORDPRESS, JELEK PISAN :)) karena gak bisa diedit.. tulisan yang diatas itu blom kelar tapi kepencet KIRIM KOMENTAR. mbok ya kalo gitu saat kirim komentar dia pasangin RECONFIRMATION getoh. ah masa utk begini aja mrk musti dikasih tau abah hahahahhaha

    nerusin yah: Maksud abah bagaimana suka citanya para pedagang dan para internet marketer dengan kejadian ini karena bisa tetap membabi buta ngirim kesana sini secara leluasa dan bebas dari tuntutan.

    satu2nya harapan kita agar tidak terganggung SPAMmer adalah bukan ke UU ITE melainkan langsung ke ISP atau mailhost untuk membuatkan toolsnya. di webhostnya inovassi ada fasilitas SPAM Assasin yang bisa kejam atau lunak tergantung kita mau nyetel berapa. tapi kesian mereka2 yang tidak punya SPAM assasin. harus hidup dengan lebih telaten 1 jam sehari untuk buang2in SPAM hanya karena UU ITE kelupaan cantumin itu. begitu. Ah gw bikin topik ini ah di blog abah…

  9. 2 Juli 2008 pukul 8:05

    soal “Eh BTW Abah udah berhasil “membajak” saya untuk menjadi sales person produk Abah dengan cara yang sangat halus dan tak bisa saya tolak”

    eits sapa bilang suruh jadi sales person? dari awal paparan abah memberikan contoh bahwa banyak kemudahan yang developer bisa lakukan bagi publik. You are developer too buddy and you knew that can be done, right? nah salah satu “kemudahan” adalah yang abah lakukan itu boss.. jadi gak selalu harus dijual. bisa digunaken banget.. hmm.. tapi dengan nambah duit tentunya.. TWINK TWINK.. hehehhe

  10. 2 Juli 2008 pukul 9:19

    laporannya lengkap banget, mas. banyak hal menarik, mislanya soal wajan utk wireless dan bandwith utk kebebasan informasi, dst yg saya tau.

    btw, sptnya mas wibi cocok jd wartawan bali post. nulisnya panjang2.😀

  11. ikrar adinata
    2 Juli 2008 pukul 9:57

    ntar ajakan terus gw yach bos wibi klo ktemu ama orang2 penting…seperti om RS udah..lalu abah, riyogarta..

    spesial akhirnya bisa bertemu ama ONno W Purbo dan Menkominfo RI (Bapak M.Nuh)

    Lumayan bisa foto2 bareng..hahahahahaha

  12. 2 Juli 2008 pukul 10:36

    * Soal SPAM, serahkan aja sama Google :p ini mungkin lebih baik daripada diserahkan sama pemerintah. Biasanya kalo di serahkan ke pemerintah, selalu dicari celah2 hukumnya.

    * Soal mahalnya harga akses internet, bisa jadi bisa dilakukan cara miroring konten-konten luar yang sering diakses oleh penikmat internet di server2 lokal. Gimana?

  13. 2 Juli 2008 pukul 12:20

    mungkin dibentuk Badan Tata Niaga Bandwidth.. wekekekekek…

  14. 2 Juli 2008 pukul 14:10

    @Abah:

    Iya Abah, welcome to WordPress, di Multiply memang bisa diedit bahkan dihapus tapi di sini gak bisa, kayaknya gak bakal di tambahin ama mereka karena memang dianggap bisa mengarah ke inkonsistensi komentar, mungkin loh yah…

    You are developer too buddy and you knew that can be done, right?

    Yes Sir.. absolutly…😉

    @anton:

    Wah… masa sih harus panjang nulis di Balipost, gak mau ah..🙂 hehehe

    @Ikrar:

    Heheh seneng yah bisa ketemu RS kemarin, udah tahu apa kata RS soal seminar kali ini?

    sang ‘pakar’ IT kita, yang dengan hebatnya mengirim sms kepada panitia bahwa pakar tidak mau hadir karena tidak mau disandingkan dengan para pembicara lain yang dia sebut tidak capabel

    Kutipan diatas adaalah hasil reportase salah satu panitia seminar.

    @mazirwan:
    hehe.. gak semua pake google apps kali yah….
    soal mirror kan ada kambing piaraannya pak samik tuh, lagian yang bisa dimirror cuma data, aplikasi gak bisa bro…
    kalaupun mau mirror data, belum ada yang sanggup mirrorin YouTube dan Flickr.

    @Hedwig™:
    mungkin…🙂

  15. 2 Juli 2008 pukul 16:43

    Jaya IT bangasaku!!!!!!!!

  16. arika
    2 Juli 2008 pukul 20:13

    moga” IT d indo makin bagus deh..:D

  17. 3 Juli 2008 pukul 9:46

    Wah Wib, oke nih reportasenya.
    Emang kasihan ya Pak Nuh, waktu kasih sambutan sound systemnya memble, juga pas tiba-tiba panggung sebelah check sound. Tapi salut lho sama Pak Nuh, walau begitu tetap arif dan bijaksana serta humoris menanggapinya…

    hehehe…, itu sahut-sahutan sama Abah rame banget… Abah, betul tuh kata Wibi, masak mau diedit-edit melulu😀

  18. 4 Juli 2008 pukul 9:46

    @Yuliazmi, hehehe.. bukan mau ngedit bu.

    kan dalam konsep AAUI (Applicable and Acceptable User Interface) utk aktifitas yang sifatnya unchangeble / undo-able sebaiknya suatu eksekusi dibuat dengan konfirmasi.

    mungkin wordpress tidak / belum / lupa / ignorance untuk memikirkan kemungkinan tombol KIRIM KOMENTAR kepencet secara tidak sengaja.

    waduh masa untuk urusan begini saja pakar CRM musti turun tangan sih.. hehhehehe… ahahhahahaha… AHUAHUAHUHAHA.. AHIAHIAHIHAIA….

    jadi kapan nih sama si Akang maen2 kerumah lagi? upaya “menghasut” istri saya utk menyulam dua jarum kan belum terealisir bu.. hehehe

  19. 4 Juli 2008 pukul 12:05

    @Yuliazmi:

    Tambahan lagi kekurangan panitia, ini keluahan dari Kang Onno lewat email, katanya OHPnya kurang terang, jadi gambar gambar terlihat suram.

    @Abah:

    Betul Bah, untuk yang tak bisa diubah memang harus ada konfirmasi, tapi untuk komentar bukan tak bisa diubah tapi kalau ada kesalahan maka mekanisme ubahnya adalah dengan ralat (persis seperti yang Abah lakukan), ini mengacu prinsip jurnalisme. Sebab komen itu dipublish, bila dapat diubah ubah sungguh berbahaya orang bisa mungkir dari apa yang pernah dia bilang. Kalau orangnya baik semua seperti Abah sih no problem… hehe kalau orangnya model Om kita yang satu itu kan bakalan jadi berabe…. hehehe tul gak Bah?

  20. 6 Juli 2008 pukul 17:16

    sayang ga bisa dateng..hehe

    kapan lagi yah??setahun lagi yah>??

  21. 8 Juli 2008 pukul 16:22

    @arizane:

    ini peringatan 100 tahun kebangkitan nasional
    jadi mungkin akan diadakan acara yang sama untuk peringatan 200 tahun kebangkitan nasional, tapi itu seratus tahun lagi… hehehe… semoga anda masih hidup tahun 2108

  22. 10 Juli 2008 pukul 15:41

    waduh capek bacanya, panjang banget bro, btw pa kabar bro.. saya gak bisa datang pada acara tersebut, sering2 mampir bro ke tempat saya ..

  23. 15 Juli 2008 pukul 0:02

    @Indra:

    Eh Indra… kemana ajah bos… thanks yah, tadi barusan mampir🙂

  24. chocola
    4 Agustus 2008 pukul 15:17

    itu ya antara selebritis IT , bapak2 itu …bikin pusing kepala aja..
    kalo ada apa2 diantara mereka mbok ya diselesaikan dalam waktu
    singkat dan cepat aja ya…

  25. 11 Agustus 2010 pukul 13:24

    setuju banget dah,
    biar bangsa kita bisa maju dan gak ketinggalan informasi

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: