Beranda > Kuliah > Industri Perangkat Lunak

Industri Perangkat Lunak

Direktur Telematika, Direktorat Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika, Departemen Perindustrian, Ramon Bangun dalam kuliah umum yang disampaikannya di kelas 2007 FA, Magister Teknologi Informasi, Universitas Indonesia, mengemukakan bagaimana sekarang ini pemerintah khususnya Deperin telah memiliki paradigma baru tentang bagaimana menyediakan sarana yang paling kondusif untuk perkembangan industri telematika khususnya industri perangkat lunak.

Dahulu jaman Orde Baru paradigmanya adalah apa yang bisa diambil dari industri dalam negeri tapi kini paradigmanya adalah apa yang bisa diberi untuk bisa memajukan industri.

Kebijakan adalah hal yang paling mendasar yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk mengatur hal hal yang menjadi parameter keberhasilan industri telematika yang antara lain meliputi iklim usaha, standarisasi, daya saing dan kompetensi.

A. Iklim Usaha
Untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif dibidang industri telematika pemerintah mengeluarkan kebijakan publik yang mengatur tentang 3 hal yaitu: moneter, fiskal dan administratif.

B. Standarisasi
Setelah kebijakan yang mengatur tiga hal tersebut dan iklim usaha menjadi kondusif maka perlu diatur juga masalah standarisasi agar memudahkan pergerakan antar layanan dalam industri telematika sekaligus melindungi pasar dalam negeri dari serbuan asing

C. Daya Saing
Sebaik apapun proteksi dalam negeri dilakukan kalau daya saing tidak ditingkatkan maka proteksi tersebut tidak akan efektif. Karena itu daya saing industri telematika dalam negeri harus ditingkatkan.
Peranan pemerintah masih menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan dimana industri telematika dalam negeri dapat memperoleh keunggulan kompetitif.

D. Klaster dan Kompetensi
Daya saing dapat dibangun dengan sistem cluster untuk bisa mencapai fokus pada kompetensi inti. Jadi dibanding memiliki sebuah perusahaan besar yang punya kompetensi pada banyak bidang lebih baik memiliki perusahaan perusahaan yeng lebih kecil dengan kompetensi inti masing masing.

Kemudian perusahaan perusahaan itu membentuk cluster untuk meningkatkan daya saing. Sistem cluster hanya bisa efektif jika diatur oleh standar dan tentu saja dalam iklim usaha yang kondusif.

E. Rekayasa Perangkat Lunak
Perangkat lunak adalah suatu bidang yang masih baru dan banyak pendekatan dilakukan dalam mengembangkannya. Salah satu pendekatan adalah pendekatan rekayasa.

Bermula di Amerika Serikat tahun 60an dimana pembuatan perangkat lunak selalu saja mengalami krisis. Sebuah proyek pembuatan perangkat lunak tak pernah kunjung selesai dan cenderung menjadi never ending project yang sangat menguras biaya, waktu dan tenaga.

Karena itu dilakukan pendekatan rekayasa (engineering). Dengan pendekatan rekayasa kode kode program dibuat dalam bentuk modul modul yang bisa dipakai berulang ulang untuk keperluan membangun program yang serupa.

Sebelum rekayasa perangkat lunak ditemukan pengembangan perangkat lunak dilakukan dengan pendekatan craftmanship atau meminjam istilah dosen kami Pak Eko Budiarjo PhD, pengrajin software, dimana keberhasilannya tidak bisa diperhitungkan dan sangat tergantung pada peran individual.

F. Proses Manajemen Rekayasa Perangkat Lunak
Rekayasa perangkat lunak semata mata tidak menjadi jaminan sebuah proyek pengembangan perangkat lunak bisa berhasil dengan tepat waktu dan tepat budget.

Perlu dilakukan manajemen atas proses dari pengembangannya yang meliputi lebih banyak disiplin ilmu manajemen ketimbang ilmu rekayasa perangkat lunak.

Banyak pihak melakukan proses yang berbeda beda hingga terdapat berbagai macam model proses. Model yang paling banyak diadopsi oleh industri perangkat lunak adalah model Capability Maturity Model (CMM) yang dikeluarkan oleh Software Engneering Institute (SEI) pada tahun 1986.

G. Capability Maturity Model (CMM)
CMM ini kemudian diakui secara defacto sebagai standar setelah Departemen Pertahanan Amerika Serikat mensyaratkan perusahaan perusahaan yang boleh ikut tender pengembangan perangkat lunak dalam lingkungan departmennya harus mengantongi sertifikasi CMM minimal level 2.

H. Level Dalam CMM
Dalam model CMM kematangan sebuah organisasi dalam mengembangkan perangkat lunak dibagi dalam tingkatan mulai dari level 1 hingga level 5 paling tinggi.
Lima tingkat kematangan itu adalah:

  • Level 1: Initial
  • Level 2: Repeatable
  • Level 3: Defined
  • Level 4: Manageable
  • Level 5: Optimazing

I. Key Proces Area (KPA)

Masing masing level memiliki Key Process Area (KPA) yang harus diselesaikan dan dinilai untuk bisa berada pada level tersebut. Total ada 22 KPA untuk CMM dan telah menjadi standard  defacto untuk proyek proyek pemerintah di Amerika Serikat.

J. CMM versi Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia? tunggu postingan saya selanjutnya.

  1. 18 Juni 2008 pukul 12:22

    Aku masih nunggu kapan KIPI ini diterapkan dan menjadi manfaat lebih bagi pengembang industri perangkat lunak di Indonesia dan berharap agar ini bukan menjadi proyek-2an pemerintah semata, seperti halnya proyek-proyek pemerintah yang lain. Namun, bener2 karena dilandasi oleh itikad yang baik dan bertujuan demi kemajuan bangsa.

  2. 18 Juni 2008 pukul 12:29

    Inggih mas, cuman kok keliatannya salah komen, komen ini mestinya dipostingan yang satu lagi tentang KIPI.. hehe

    Ra mulih Malang Wan? Preyne sue tenan eh… telung bulan.. halah

  3. 18 Juni 2008 pukul 22:54

    oh iya, sori… kenapa jadinya nyasar di sini komen-nya ya.. heheh

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: