Beranda > Curhat > Strategi Roy Suryo

Strategi Roy Suryo

Berlabel akademisi, bersikap bak politisi. Pelintir sana pelintir sini. Apa yang sebenarnya ingin dicari oleh Roy Suryo. Popularitas? Kredibilitas?

Entah karena itu nature of him atau karena beliau pernah terpeleset dan sudah kepalang tanggung basah sekalian jadi oposisi kaum tertentu. Sebenarnya kalau dikatakan oposan juga tak tepat benar karena kaum yang berseberangan bukan penguasa di ranah IT.

Bisa dikatakan Roy Suryo againts Community. Komunitas yang seharus beliau menjadi sesepuhnya, paling tidak demikian maunya beliau.

Karena sudah terposisikan untuk begitu maka mau tidak mau segala upaya dilakukan. Dalam perjuangannya banyak upaya yang sering kali emosional. Seharusnya beliau ini bisa lebih Arif dan tidak usah mengambil langkah langkah yang bersifat politis.

Jika memang beliau punya kompentensi maka ladeni saja semua serangan dengan bingkai akademik tanpa bermanuver macam macam.

Serangkaian sikap yang diambilnya justru jadi semakin menguatkan bahwa beliau sebenarnya tak memiliki kompetensi dibidang yang digugat lawan lawannya.

Tak tepat juga dikatakan lawan karena komunitas itu tak berniat menjadikan beliau sebagai lawan, justru sebaliknya beliaulah yang dengan hiper-reaktif bersikap bermusuhan.

Kalau kita mau ingat ingat masa lalu yang suram dimana ketika itu beliau baru saja muncul dan mulai sering dikutip media. Beliau rajin sekali masuk kemilis milis dan posting/reply/forward sana sini.

Merasa yakin benar bahwa semua orang akan menghromatinya sebagai pakar. Sampai akhirnya pada suatu hari yang cerah berubah menjadi mendung kelabu disaat argumennya tentang metadata sebuah file Image disebuah milis dimentahkan oleh anggota milis tersebut dengan argumen yang tak terbantahkan.

Beliau lantas murka dan menjadi sensitif, salah pahampun mudah sekali terjadi. Salah satunya adalah forwardan sebuah email dari seorang dosen ITB yang beliau kira sebagai fitnah, padahal sebenarnya beliau tidak paham karakteristik forward dari Opera Eudora.

Hingga kini beliau masih berkeyakinan bahwa email tersebut adalah ulah sang dosen. Sejak saat itu beliau bemimpi bahwa suatu saat nanti akan hadir sebuah UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang dapat digunakan untuk menjerat sang dosen dan sekaligus komunitasnya kepengadilan.

Mimpi itu kini telah menjadi kenyataan. Persoalannya lantas bagaimana membuktikannya didepan pengadilan, perlu saksi ahli, ahli telematika? dia sendiri?

Menjadi sensitif tidak mudah, tidak enak dan tidak dewasa. Apalagi para suporter memberikan yel yel yang menusuk hati seperti: “Pakar Gadungan!”.

Usaha meyakinkan publik bahwa beliau adalah kredibel dibidangnya semakin terseok-seok. Berbagai manuver menjadi bahan yang empuk bagi media untuk diberitakan, sebut saja berbagai kasus foto, video, lagu kebangsaan, dll.

Sudah menjadi rahasia umum kepakaran beliau dipertanyakan, tapi media tetap “memelihara” keadaan ini karena menjadi semacam dagelan bagi yang tahu. Kasihan bagi yang belum akan menjadi korban informasi.

Sebenarnya apa yang dilakukan beliau tidak seluruhnya jelek. Cuma karena sudah tercipta kutub antara beliau dan komunitas lawannya, apalagi masing masing punya cheerleader maka apapun manuver salah satunya akan mendapat counter manuver dari yang lainnya.

Misalnya ketika lawannya support layanan gratisan di Internet, Roy anti gratisan. Ketika beberapa lawannya getol ngeblog, Roy anti Blog. Jadi reaksinya mengglobal tak fokus pada individu yang menjadi lawannya.

Satu hal yang dimiliki oleh Roy dan belum dimiliki oleh lawannya adalah kedekatan dengan media dan bahkan kedekatan dengan pemerintah.

Roy tahu betul memanfaatkan situasi ini. Sangat terlihat jelas bagaimana Roy berusaha membenturkan komunitas lawannya dengan kekuatan dibelakang dirinya dan membuat seolah olah dia mendapat support penuh dari kekuatan luar itu.

Misalnya, ada beberapa dari komunitas lawannya yang berasal dari institusi ITB maka dia berusaha membenturkan ITB dengan UGM. Usahanya itu tak main main, sangat militan. Ketika seorang Blogger iseng membuat foto kolase Presiden maka dia orang yang paling getol melakukan pengusutan.

Kejadian terakhir didefacenya situs Depkominfo dan Golkar dimanfaatkan benar oleh Roy untuk membenturkan komunitas lawannya itu dengan pemerintah. Berikut kutipan dari Indocommit:

Adapun serangan terhadap dua situs tersebut merupakan tindakan penolakan terhadap UU ITE. Pakar telematika itu mengungkapkan, komunitas blogger yang dipimpin Enda Cs hanya suka menjelek-jelekkan kinerja pihak lain, termasuk pemerintah.

Sebuah manuver yang lebih lazim dilakukan oleh seorang politisi ketimbang seorang akademisi. Kalau kita baca lagi statement berikut di Indocommit:

“Namun, sekarang air susu dibalas air tuba. Blogger malah menyerang situs Depkominfo sebagai reaksi tidak puasnya mereka terhadap undang-undang informasi dan transaksi elektronik (ITE) yang belum lama ini disahkan DPR,” tuturnya.

Menurutnya, blogger tidak menghargai pemerintah mengingat mereka telah diberikan Hari Blogger Nasional. Roy mengatakan, bisa saja pemerintah merevisi hari untuk blogger itu.

Mulai dari tuduhan berdasarkan asumsi dan lantas terlihat arahnya kemana. Dendam dihatinya telah mengubahnya menjadi singa tua lapar yang terluka, waspadalah teman teman.

Bacaan:

  1. Blogger Hambat Masyarakat Akses Internet
  2. Air Susu Dibalas Air Tuba
  3. Yang Berhak Tentukan Nama adalah Polisi
  4. UU ITE Ancam Blogger
  5. Mana Ada Maling Teriak Maling?
  6. Roy Suryo Umbar Tuduhan Tidak Berdasar
  7. Setelah 2 Hari Lebih Surat Terbuka Kepada Roy Suryo Berkelana
  8. Ditantang Blogger, Roy Suryo Emoh Dialog Maya
  9. Undangan Dialog Terbuka Untuk Sdr. Roy Suryo
Kategori:Curhat Tag:
  1. mazirwan
    2 April 2008 pukul 13:14

    Hi Roy!

  2. 3 April 2008 pukul 10:03

    “Namun, sekarang air susu dibalas air tuba. Blogger malah menyerang situs Depkominfo sebagai reaksi tidak puasnya mereka terhadap undang-undang informasi dan transaksi elektronik (ITE) yang belum lama ini disahkan DPR,”

    >> kalo gini, siapa yang fitnah siapa om Roy???

  3. 3 April 2008 pukul 16:18

    bukan opera, tapi eudora. HTH

  4. 3 April 2008 pukul 16:50

    @Priyadi:

    Thx for the correction🙂

  5. 3 April 2008 pukul 17:19

    Tetep semangat demi kebaikan, saya akan tetap mengusahakan jalur undangan yang sudah direncanakan.

  6. 3 April 2008 pukul 17:29

    @Riyogarta:

    Sip, saya juga coba usahakan alternatif tempat dan tanggal kalau plan yang punya Riyo tidak berhasil terwujud.

  7. 3 April 2008 pukul 19:45

    Alahmdulillah, jadi tapi mundur 3 hari. 18 April 2008.

  8. 3 April 2008 pukul 22:41

    Berubah lagiiii, 11 April 2008
    **ya masalah waktu ngalah ajah lah apa maunya** :d

  9. 3 April 2008 pukul 23:28

    hahaha.. dia emang maunya gitu, bikin frustasi lawan dan akhirnya ngalah. sukur sukur batal. Lebih seru lagi nanti menit menit terkahir dia batalin datang, maklum orang penting banyak urusan.

    Tapi semoga jadi deh…

  10. Bri
    5 April 2008 pukul 9:11

    ada aja ya orang macam gini.. ckckck

  11. iSeNG-iSeNG
    13 April 2008 pukul 21:50

    Merasa yakin benar bahwa semua orang akan menghromatinya sebagai pakar. Sampai akhirnya pada suatu hari yang cerah berubah menjadi mendung kelabu disaat argumennya tentang metadata sebuah file Image disebuah milis dimentahkan oleh anggota milis tersebut dengan argumen yang tak terbantahkan.

    wah gaya tulisan anda bagus sekali Boss …

    dulu saya enggak ngerti metadata (skg juga enggak ngerti), tapi pas baca ttg jawaban yang membantah tulisan RS (tulisan RS ttg metadata kalau tidak salah pernah di muat di Kompas) kalau iseng2 klik google “modify metadata photo” keluar tuh ratusan ribu … si RS ini

    http://beritaheboh.wordpress.com/2008/03/30/roy-suryo-apa-sih-maumu-fenomena-blog-bukan-trend-sesaat/

  12. 10 Agustus 2009 pukul 15:59

    RS RS ke laut aja lah loe..
    jangan sampe jadi menkominfo.

  1. 4 April 2008 pukul 16:09

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: