Beranda > Curhat, Tanggapan > Indonesia Berdaulat?

Indonesia Berdaulat?

62 tahun yang lalu tepat tanggal 17 agustus pagi hari terjadi peristiwa bersejarah di depan sebuah gedung yang tidak terlalu besar di jalan Pegangsaan Timur no 56, Jakarta, seorang negarawan, Bung Karno membacakan selembar script yang dikenal dengan Naskah Proklamasi.

Pengibaran Sang Saka Merah Putih

Pembacaan naskah itu mendeklarasikan proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti halnya kita mendeklarasikan sebuah variable dalam sebuah pemrograman.

Pendeklarasian adalah bertujuan supaya semua pihak mengetahui keberadaan dan kedaulatan sebuah negara. Mirip pendeklarasian sebuah variable yang juga memiliki daerah kedaulatan di dalam sebuah lingkup global ataupun lingkup lokal sebuah fungsi.

Kemerdekaan RI seharusnya bersifat global (baca: berkedaulatan penuh) tapi pada kenyataannya sampai sekarang masih banyak kemerdekaan yang masih bersifat lokal (baca: berkedaulatan terbatas).

Dalam bidang moneter, institusi bank central tidak bisa mengeluarkan peraturan tanpa persetejuan IMF. Bantuan dari IMF hanya bisa turun bila beberapa syarat dipenuhi. Termasuk syarat untuk membolehkan pemodal asing membeli saham BUMN. Ini merupakan cikal bakal dimungkinkannya Temasek membeli saham Indosat dan Telkomsel.

Tidak usah ambil contoh dalam bidang lain, langsung saja ke bidang kita, TI. Sudahkah kita berdaulat penuh dengan dunia TI ditanah air? Kalau kita menginginkan menggunakan sebuah teknologi TI apakah kita bebas menentukan pilihan selayaknya orang merdeka?

Kalau Raja Amangkurat II tidak mau membuat perjanjian akan menyerahkan Jawa Barat dan pesisir utara Jawa termasuk Kota Semarang kepada VOC maka pemerintah kolonial Belanda tidak akan mau membantu Kerajaan Mataram meredam pemberontakan Trunojoyo.

Kalau Bank Indonesia tidak tunduk pada syarat yang diajukan IMF maka bantuan IMF dan World Bank tidak akan turun.

Kalau warnet dan perkantoran tidak membayar lisensi maka Microsoft tidak akan memberikan ijin softwarenya digunakan.

Tidak adakah pilihan lain kalau syarat yang diajukan pihak asing tidak dipenuhi? Ini yang disebut dengan kedaulatan terbatas. Hanya ada satu pilihan yang ditentukan oleh pihak asing (baca: penjajah).

Masih ingat ketika tentara sekutu datang dengan membonceng tentara NICA untuk kembali mengambil kedaulatan kita? Segenap bangsa Indonesia angkat senjata mempertahankan kedaulatan.

Disinilah makna kedaulatan yang sesungguhnya. Kita bisa mendapat apa yang kita mau. Dan untuk itu harus bertarung, berjuang dan berkorban. Tentara NICA dan sekutu bisa dihalau dengan angkat senjata. Tapi IMF dan World Bank? Bagaimana dengan Microsoft?

Tentu tidak bisa angkat senjata. Selama keadaan ekonomi kita masih terus dilemahkan oleh praktik korupsi maka selama itu juga kita akan sulit menghalau IMF.

Selama lembaga pendidikan kita masih mengajarkan siswanya program-program propietary (baca: Microsoft) maka selama itu juga kita masih akan sulit migrasi ke Open Source (baca: Linux).

Bagi sebagain orang Indonesia yang merasa lebih nyaman dengan dipegangnya beberapa aset bangsa di tangan asing maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kedaulatan kita sedang dijajah.

Para priyayi di jaman kolonial juga hidupnya nyaman dan tidak merasakan keterjajahan seperti halnya rakyat kecil.

Para koruptor sekarang juga tidak merasakan keterjajahan karena hidupnya penuh kemewahan.

Tentunya anda bukan termasuk golongan orang seperti itu. Saya tidak tahu bagaimana caranya tapi berantas korupsi itu mutlak. Sebagai bagian dari komunitas TI maka mulai pakai dan ajarkan Open Source pada anak anak kita. Bagi para praktisi dan penggiat Open Source dengan semangat 45 teruslah berkarya.

Merdeka Bung…

Kategori:Curhat, Tanggapan
  1. 17 Agustus 2007 pukul 10:15

    Betul. Setuju!
    Mudah-mudahan di umur ke 62 tahun ini, Indonesia semakin dewasa dan semakin maju pemikirannya.
    Merdeka

  2. 17 Agustus 2007 pukul 10:18

    Betul. Setuju!
    Mudah-mudahan di umur ke 62 tahun ini, Indonesia semakin dewasa dan semakin maju pemikirannya.

  3. 17 Agustus 2007 pukul 12:10

    Salam Merdeka,
    Ya.. itulah hasil dari apa yang orang2 intelek bilang dan sakralkan, yaitu “demokrasi”. yang kemudian mau tidak mau ikut terjebk dlm privatisai dan globalisasi.

    http://www.bincangpemasaran.net

  4. tribas
    20 Agustus 2007 pukul 12:38

    Merdeka? Berdaulat? bukannya sudah jaman nenek moyang kita dulu?

    kalopun 17 agustus itu ada.. itu seremonialnya aja..

    hmmm seandainya bisa ngasih comment lebih blak-blakkan… next time aja lah ya…

    # met menikmati 17 an.

  5. 21 Agustus 2007 pukul 17:33

    @riyogarta, Amien.

    @streetmarketer, ngomong ngomong soal demokrasi memang barat menerapkan standard ganda, jika menyangkut kepentingan dia maka demokrasi bisa ditawar tapi kalo membahayakan kepentingan dia maka demokrasi lebih keras. Contohnya Syah Iran dan Sadham Hussein yang sama sama tiran tapi syah Iran tidak digolongkan penjahat dan Sadham digolongkan penjahat.

    @tribas, anytime commentnya saya tunggu.

  6. deka
    16 Maret 2010 pukul 23:02

    sbnrx indonesia tuh uda berdaulat blm c.?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: