Beranda > Bisnis > Business Model Dalam Era Network-Economy

Business Model Dalam Era Network-Economy

Facebook

Facebook

Seorang teman bertanya pada saya bisnis online apa yang bisa sukses di Indonesia sekarang ini. Saya tak bisa menjawab itu dengan satu paragraf. Banyak faktor yang mempengaruhi sebuah bisnis online bisa profit. Salah satunya adalah business model.

Saya ingin elaborasi sedikit dari sudut pandang yang lebih spesifik TI berkaitan juga dengan pertanyaan teman saya diatas tentang peluang bisnis online di Indonesia.

Melihat sifat sifat TI yang border-less dan sangat cepat perubahannya maka business model dalam bisnis online menjadi harus dituliskan dengan sangat spesifik dan jelas. Seberapa jelasnya dapat dilihat dari jawaban atas 4 pertanyaan yang menjadi unsur pembentuk business model.

business model paling tidak harus bisa menjawab 4 pertanyaan berikut:

  1. Siapa customer kita dan apa harapannya
    • Jawabannya harus sedetil mungkin hingga mencapai segmentasi
  2. Value apa yang kita berikan
    • Jawabannya harus sedetil mungkin hingga mencapai diferensiasi
  3. Dari mana datangnya revenue
    • Harus bisa diidentifikasi siapa dan bagaimana hubungan antara direct-customer dan indirect-customer
  4. Bagaimana revenue itu datang
    • Revenue model

Setelah business model ditentukan, baru kita bisa melihat siapa kompetitor kita dan siapa bukan, menentukan positioning kita dan tentu saja peluang akan terlihat dengan lebih jelas dalam state ini.

Jika dari ke empat pertanyaan diatas antara dua bisnis menghasilkan jawaban yang sama maka baru bisa dikatakan kedua bisnis tersebut bersaing secara head-to-head.

Dalam bisnis konvensional kemungkinan untuk terjadi head-to-head relatif lebih besar. Tapi dalam bisnis online dimana peran TI sangat dominan membuat kemungkinan terjadinya persaingan head-to-head menjadi lebih kecil, bahkan selalu saja ada cara yang ditemukan untuk membuat perbedaan business model.

Walhasil ragam business model menjadi mirip mirip atau bahkan banyak yang tidak jelas. Untuk membuat sebuah business yang benar benar jelas dibutuhkan inovasi.

Untuk dapat menjelaskan bagaimana TI dapat menjadi enabler terutama dalam bisnis online dengan konteks Indonesia maka saya akan tampilkan beberapa analisis tentang situs teratas dan kaitannya dengan business model

Data kualitatif dapat saya katakan sekarang layanan aplikasi social-media sedang booming dan tak bisa dikatakan selain Facebook, karena memang hanya Facebook.

Salah satu indikasinya dapat dilihat misalnya di kampus UI, seperti yang ditulis di Blog AnakUI.com:

Kenapa harus Facebook? Tentu saja, karena anak-anak UI yang pake Facebook itu jumlahnya udah nggak kehitung lagi.. Hari gini masihkah ada yang make Friendster? Rasanya mahasiswa kaya kita mah lebih prefer pake Facebook kan ya?

Data kuantitatif yang memperkuat statement ini adalah dari Alexa.com:

Dari pencarian khusus untuk negara Indonesia dapat dilihat hit top 100, saya kutipkan 15 besar saja. Data diakses pada hari Kamis, 26 Februari 2009.

  1. Yahoo.com (search-engine)
  2. Google.co.id (search-engine)
  3. Facebook (social-media)
  4. Google.com (search-engine)
  5. Friendster (social-media)
  6. Blogger (blog-hosting)
  7. YouTube (video-hosting)
  8. WordPress (blog-hosting)
  9. Detik.com (berita)
  10. Kaskus.us (forum)
  11. RapidShare (file-hosting)
  12. Wikipedia (knowledge)
  13. Travian.com (game)
  14. MSN.com (OS support)
  15. Multiply (blog-hosting)

Dua urutan teratas masih dipegang oleh bisnis search-engine yang memang tak bisa dijalankan oleh pemain biasa.

Sedangkan urutan ketiga dipegang oleh Facebook dari bisnis social-media. Urutan keempat kembali dipegang oleh bisnis search-engine, kemudian urutan kelima social-media Friendster.

Artinya lima besar hanya dikuasai oleh dua jenis bisnis tadi. Selanjutnya untuk jenis bisnis blog-hosting baru muncul di urutan ke 6 dan 8, bisnis video-hosting di urutan ke 7, bisnis berita baru muncul di urutan ke 9, forum diskusi urutan ke 10.

Antara satu bisnis dengan bisnis yang lain mungkin tidak head-to-head tapi tetap memiliki persamaan pada beberapa poin pertanyaan tentang business-model diatas. Katakanlah blogging sejak munculnya Plurk.com, dunia blogging jadi agak lesu, di pestablogger 2008 saya bertemu Priyadi, blogger senior dan dia mengatakan sejak main plurk jadi tidak sempat blogging lagi.

Kemudian Pak Made Wiryana menulis di Multiply:

Apakah dg makin populernya Facebook dan makin merakyatnya Blackberry yang ada Facebook mobile (he he he rakyat mana ya ?), akan menyebabkan makin sepinya multiply ?

Disebutkan disitu ada BlackBerry, itu adalah komponen dari jawaban pertanyaan nomor 2 untuk business model. Ada diferensiasi pada value yang dimiliki Facebook.

Dari data diatas kita tahu bahwa bisnis social-media adalah bisnis yang sangat diminati.

Dari semua bisnis pada daftar top 15 di atas yang foundernya orang Indonesia hanya Kaskus dan Detik. Mereka seperti kita tahu telah mulai sejak lama dan sekarang telah memiliki basis komunitas sebagai aset yang sangat berharga.

Bisnis blog-hosting di Indonesia tercatat ada dua pemain besar, blogdetik.com dan dagdigdug.com.

Untuk pertanyaan business model no 1:

Blogdetik.com memanfaatkan positioning pembaca detik.com.
Sedangkan dagdigdug.com memanfaatkan jaringan dan popularitas foundernya salah satunya adalah Enda Nasution (bapak blogger) yang komunitasnya dibangun sejak pestablogger 2007.

Jika ada calon pemain baru sudahkah memikirkan segmentasinya? Komunitas apa yang disasar?

Ingat bahwa sungguhpun mereka berdua telah memiliki positioning tersendiri tapi tetap urutan mereka di bisnis blog-hosting masih jauh dibawah Blogger dan WordPress.

Menarik untuk bisnis social-media karena jawaranya (Facebook) berada di posisi ke tiga, artinya pasarnya sangat besar. Business model Facebook sampai sekarang masih menjadi perdebatan para ahli manajemen.

Disinilah menariknya bisnis ini menurut saya, kita bisa mengembara dalam rimba ketidak jelasan business model sambil mengintip kemungkinan meraih peluang yang tak dicermati oleh pihak lawan.

Kalau saya katakan model bisnis social-media yang sukses itu adalah Facebook lantas apakah kalau kita memiliki software yang benar benar sama persis maka apakah kita bisa sukses seperti Facebook?

Layanan yang bisa diberikan oleh software aplikasi selama ini lebih dipandang hanya menjadi jawaban dari pertanyaan business model no 2 (value). Sedangkan masih ada 3 pertanyaan lagi yang menjadi faktor lain yang penting yang sebenarnya dapat berubah dengan kecanggihan software aplikasi.

Sebagai contoh dulu hanya Google yang punya aplikasi untuk menjadi publisher iklan mereka, tapi kemudian setelah Google meluncur sebuah aplikasi bernama AdSense sebagai sebuah layanan maka business model iklan online berubah.

Dulu hanya Google yang bisa menjadi publisher iklan tapi sekarang siapa saja yang menggunakan layanan AdSense bisa menjadi publisher iklan. Mereka menemukan model bisnis baru, dimana untuk pertanyaan no 1 dapat dengan jelas disebutkan yaitu para pengiklan di Google (AdWord).

Mereka tak perlu lagi membuat aplikasi iklan sendiri, semua sudah disediakan oleh Google, mereka tak perlu keluar dana tambahan fixed-cost.

Demikian juga sekarang dengan Facebook. Kalau ada calon pemain baru dalam bisnis social-media lantas mereka berpikir untuk membangun komunitas sendiri maka mereka akan butuh resource yang sangat besar dan waktu yang cukup lama.

Kini dalam era networked-economy dimana paradigma ekonomi sudah bergerak ke arah jaringan, dimana resource yang sifatnya umum akan cenderung dioperasikan sebagai layanan dimana pihak lain dapat memanfaatkannya.

Facebook memiliki aplikasi yang sudah dioperasikan sebagai layanan yang memungkinkan kita untuk dapat memanfaatkan data pelanggan yang dimiliki oleh Facebook. Aplikasi tersebut bernama Facebook Connect.

Dengan adanya fasilitas Facebook Connect maka user Facebook seluruh dunia yang mencapai 175 juta user bisa dimanfaatkan kekayaan datanya yang sudah tersegmentasi dengan rapi. Kita bisa melakukan segmentasi dengan sangat efektif sekaligus efisien.

Dengan demikian untuk pertanyaan no 1 bisa dijawab dengan sangat jitu.

Untuk pertanyaan no no 2 banyak sekali ide yang dapat diimplementasi mengingat pasarnya luas dan segmentasi yang jelas. Salah satu contohnya yang dapat saya gambarkan adalah bisnis pariwsiata dengan pasar pengguna Facebook diseluruh dunia.

Apa yang ada selama ini terlihat untuk konteks Indonesia masih berupa iklan iklan didalam Facebook yang mengarah keluar Facebook. Value yang diberikan masih kecil menurut saya. Orang tidak suka diforward keluar dan lebih nyaman tetap berada dalam platform yang sama (Facebook).

Value yang lebih besar dapat diberi dengan cara membangun aplikasi dalam platform Facebook. Jumlah aplikasi yang kini berjalan di atas platform Facebook mencapai 52.000 aplikasi yang dibangun oleh 660.000 yang tersebar di 180 negara. Ada 140 aplikasi baru setiap hari yang dibangun dalam platform Facebook. Sebuah monumen paradigma networked-economy.

Kategori:Bisnis
  1. Belum ada komentar.
  1. 30 Maret 2009 pukul 15:27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: